No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Jangan Jadikan Agama sebagai Tertuduh

26 Agustus 2026
in Islam, Jufri Daily, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Jufri

Ketua PDM Kota Tebing Tinggi

Tadi pagi, dalam sebuah acara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Utara yang membahas pencegahan radikalisme dan intoleransi, Prof. Dr. H. Ibrahim Gultom , M.Pd. menyampaikan sebuah pandangan yang menarik untuk direnungkan. Menurut beliau, acapkali agama Islam justru dijadikan sebagai tertuduh dengan berbagai pelabelan atau stigma negatif, seperti radikal. Sementara itu, ketika muncul riak atau fenomena hidupnya kembali komunisme, hal tersebut tidak selalu mendapat perhatian dan pembicaraan yang sama.

Pernyataan itu sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang cukup mendasar dalam kehidupan berbangsa. Ketika kita berbicara tentang radikalisme dan intoleransi, kita perlu berhati-hati agar upaya menjaga kerukunan tidak justru melahirkan stigma baru terhadap agama tertentu.

Sebab, kalau kita mau jujur melihat sejarah, di dalam berbagai komunitas agama selalu ada saja individu atau kelompok yang memiliki pemahaman ekstrem dan melakukan tindakan radikal. Fenomena tersebut tidak hanya ada dalam Islam. Sejarah umat manusia memperlihatkan bagaimana agama, ideologi, dan identitas tertentu pada masa-masa tertentu pernah digunakan untuk membenarkan kekerasan dan penindasan.

Karena itu, radikalisme tidak tepat jika dilekatkan secara otomatis kepada agama tertentu. Yang perlu kita persoalkan adalah paham, sikap dan tindakan radikalnya, bukan agamanya.

Bahkan dalam konteks dunia hari ini, konflik Israel-Palestina memberikan pelajaran penting bahwa tindakan kekerasan dan penindasan tidak bisa dibenarkan hanya karena dilakukan oleh pihak yang merasa memiliki alasan sejarah, politik, keamanan, atau identitas tertentu. Berbagai tindakan dan kebijakan pemerintah Israel terhadap bangsa Palestina telah menimbulkan penderitaan kemanusiaan yang sangat besar dan mendapat kritik luas dari masyarakat internasional. Ini menunjukkan bahwa persoalan ekstremisme dan kekerasan harus dilihat dari tindakan dan dampaknya terhadap manusia, bukan semata-mata dari identitas agama atau kelompok yang melakukannya.

Dengan kata lain, standar kita harus sama. Kalau kekerasan terhadap manusia kita sebut sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan ketika dilakukan oleh kelompok tertentu, maka penilaian yang sama semestinya berlaku ketika dilakukan oleh pihak lain.

Radikalisme semestinya dilihat sebagai persoalan paham, sikap, dan tindakan, bukan semata-mata persoalan agama. Jika ada individu atau kelompok yang menggunakan simbol Islam untuk membenarkan kekerasan, menyebarkan kebencian atau melakukan tindakan intoleran, tentu harus dikritik dan ditindak sesuai hukum. Tetapi perilaku sebagian orang tidak boleh serta-merta dijadikan alasan untuk menuduh Islam sebagai agama yang radikal.

Islam sebagai agama tidak identik dengan radikalisme. Demikian pula umat Islam tidak bisa digeneralisasi hanya karena ada sebagian kelompok yang menggunakan identitas Islam dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan kehidupan kebangsaan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara agama, pemahaman keagamaan dan perilaku pemeluk agama. Ketiganya tidak selalu berada pada posisi yang sama.

Kita juga perlu memiliki ukuran yang sama dalam melihat berbagai ideologi dan gerakan yang berkembang di tengah masyarakat. Kalau radikalisme dan intoleransi dianggap berbahaya karena dapat mengganggu persatuan bangsa, maka semua bentuk ekstremisme, kekerasan, kebencian dan paham yang mengancam kehidupan bersama harus dilihat secara objektif.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari radikalisme di satu tempat, tetapi tidak peka ketika gejala yang sama muncul dalam bentuk dan simbol yang berbeda.

BACA JUGA

Masyarakat Sipil Bergerak: Charity Film Screening PRAY FOR SUMATERA sebagai Dukungan Kemanusiaan dan Pemulihan Pasca Bencana

Muhammadiyah dan Pemberdayaan Perempuan

Jumlah Hadiah Tantangan Prof Suteki kepada Prof Mahfud Naik jadi Rp 11.350.000

Sejarah Teknik dalam Peradaban Islam

Busyro Muqoddas: Karakter Muhammadiyah itu Memberi, Tidak Meminta Apalagi Mengemis kepada Pemerintah

Alpha Sesalkan Konflik Internal UI terkait Statuta

Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam. Agama, suku, budaya, bahasa dan berbagai latar belakang kehidupan bertemu dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Karena itu, menjaga Indonesia membutuhkan sikap yang adil. Tidak boleh ada kelompok yang terus-menerus ditempatkan sebagai pihak yang harus dicurigai hanya karena identitas agamanya.

Pencegahan radikalisme seharusnya bukan perang terhadap agama. Yang harus dicegah adalah berkembangnya sikap yang membenarkan kekerasan, kebencian, intoleransi dan tindakan yang merusak kehidupan bersama.

Begitu pula toleransi bukan berarti kita harus kehilangan keyakinan. Toleransi justru mengajarkan kita untuk tetap teguh dengan keyakinan masing-masing, sembari menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.

Karena itu, pendekatan yang paling sehat adalah adil dalam menilai, jernih dalam melihat dan konsisten dalam menerapkan ukuran.

Kalau sebuah paham dianggap berbahaya karena mengancam persatuan dan kehidupan kebangsaan, maka ukurannya harus berlaku kepada siapa saja. Jangan karena simbolnya berbeda, kita menggunakan standar yang berbeda pula.

Agama jangan dijadikan tertuduh. Tetapi agama juga jangan dijadikan tameng untuk membenarkan kekerasan dan intoleransi.

Pada dasarnya, menjaga kerukunan bukanlah pekerjaan untuk membuat semua orang menjadi sama. Kerukunan justru lahir ketika perbedaan dapat dikelola dengan kedewasaan, saling menghormati dan kesediaan untuk mencari titik temu.

Sebab Indonesia tidak akan menjadi kuat karena semua orang berpikir sama. Indonesia menjadi kuat karena perbedaan dapat hidup berdampingan dalam suasana saling menghargai, dengan Pancasila dan konstitusi sebagai titik temu bersama. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: FKUBIbrahim GultomIslamofobiaIslamofobia di IndonesiatoleransiTulisan Jufri
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49
Daerah

Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49

by Mujaddid
31 Agustus 2026
14
Dorong Visi World Class University, UMSU Teken Kerja Sama Internasional dengan PCIM Britania Raya dan Irlandia
Internasional

Dari Tanah Deli ke London: Sebuah Jembatan Muhammadiyah Menuju Dunia

by Mujaddid
29 Agustus 2026
10
Ranting Sumber Mufakat, Tanah Karo dan Muktamar 49: Menumbuhkan Akar, Mencerahkan Semesta
Daerah

Ranting Sumber Mufakat, Tanah Karo dan Muktamar 49: Menumbuhkan Akar, Mencerahkan Semesta

by Mujaddid
29 Agustus 2026
12
Jangan Jadikan Muhammadiyah Sekadar Kolam Perebutan
Jufri Daily

Jangan Jadikan Muhammadiyah Sekadar Kolam Perebutan

by Mujaddid
26 Agustus 2026
31
Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027: Menyambungkan Semangat Masa Lalu dengan Masa Depan
Daerah

Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027: Menyambungkan Semangat Masa Lalu dengan Masa Depan

by Mujaddid
21 Agustus 2026
11
Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah
Jufri Daily

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah

by Mujaddid
8 Agustus 2026
63
Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas
Daerah

Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas

by Mujaddid
7 Agustus 2026
30
Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban
Daerah

Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban

by Mujaddid
7 Agustus 2026
38
Membangun Semangat dari Daerah Penyangga, Menyongsong Sejarah Muktamar 49 Muhammadiyah
'Aisyiyah

Membangun Semangat dari Daerah Penyangga, Menyongsong Sejarah Muktamar 49 Muhammadiyah

by Mujaddid
3 Agustus 2026
26
Ketika Pohon Kelapa Tumbang, Katak Pun Ikut Memanjat
Jufri Daily

Ketika Pohon Kelapa Tumbang, Katak Pun Ikut Memanjat

by Mujaddid
3 Agustus 2026
39

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Pemuda Muhammadiyah Sumut Desak Investigasi Total Kebakaran PT Evyap di Sei Mangke
  • Muhammadiyah Telah Melayani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT
  • Lazismu Himpun Dana Bantuan Rp 6 Miliar untuk Korban Gempa NTT
  • Dosen UMJT Ingatkan Mitigasi Penyalahgunaan Kekuasaan dalam RUU Perampasan Aset
  • Dosen Ilmu Lingkungan UMJT Madiun: Efek Kebakaran Hutan Harus Diwaspadai
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM
Daerah

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah
Daerah

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.