Oleh: Marta Pujiono
Pengurus Daerah IGI Kabupaten Muara Enim
Indonesia membutuhkan organisasi profesi guru yang tidak sekadar hadir sebagai wadah administratif, tetapi benar-benar menjadi rumah besar bagi guru untuk belajar, bertumbuh, berinovasi, menyampaikan aspirasi, dan memperjuangkan masa depan profesinya. Dalam konteks itulah Ikatan Guru Indonesia (IGI) memiliki posisi penting.
Ada satu motto yang menggambarkan semangat tersebut secara sederhana tetapi kuat “Sharing and Growing Together.” Berbagi dan tumbuh bersama.
Motto ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia merupakan filosofi yang relevan dengan kebutuhan guru Indonesia hari ini. Sebab, pendidikan tidak akan maju jika guru berjalan sendiri-sendiri. Pengetahuan harus dibagikan, pengalaman harus ditularkan, inovasi harus dikembangkan bersama, dan persoalan profesi harus diperjuangkan secara kolektif.
IGI: Organisasi Guru yang Berfokus pada Kapasitas Guru
Kekuatan utama IGI terletak pada orientasinya terhadap peningkatan kapasitas guru.
Guru yang hebat tidak lahir hanya dari gelar, sertifikat, atau masa kerja. Guru yang hebat adalah guru yang mau terus belajar, beradaptasi, mengevaluasi diri, dan berbagi pengalaman dengan sesama.
Di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi digital, pembelajaran berbasis data, dan tuntutan keterampilan abad ke-21, guru tidak boleh berhenti belajar.
Di sinilah makna “Sharing and Growing Together” menemukan relevansinya. Guru yang memiliki pengetahuan tidak menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ia berbagi. Guru yang memiliki inovasi tidak berhenti pada ruang kelasnya sendiri. Ia menginspirasi guru lainnya.
Dari proses berbagi itulah kapasitas guru tumbuh. Sharing melahirkan learning. learning melahirkan growing. Dan growing melahirkan perubahan.
Organisasi Profesi Guru yang Dikelola oleh Guru
Organisasi profesi akan kuat apabila memiliki akar yang kuat di kalangan anggotanya.
IGI memiliki karakter sebagai organisasi yang tumbuh dari kesadaran guru dan dikelola oleh guru. Hal ini penting karena persoalan guru seharusnya dipahami dari perspektif guru sendiri.
Guru yang berada di ruang kelas setiap hari mengetahui secara langsung tantangan pembelajaran, perkembangan teknologi, perubahan kebijakan, tuntutan administrasi, perlindungan profesi, hingga dinamika pendidikan di masyarakat.
Karena itu, organisasi profesi guru idealnya bukan organisasi yang hanya berbicara tentang guru, tetapi organisasi yang berbicara bersama guru, bergerak bersama guru, dan tumbuh bersama guru.
Inilah semangat “Sharing and Growing Together.”
Tidak Terjebak dalam Dualisme Kepemimpinan Nasional
Salah satu modal penting organisasi adalah stabilitas kepemimpinan. Organisasi profesi membutuhkan legitimasi, konsistensi, dan kesinambungan agar energi organisasi tidak habis dalam konflik internal.
IGI memiliki perjalanan organisasi yang relatif terjaga dari dualisme atau keretakan kepemimpinan nasional Hal ini merupakan modal penting yang harus terus dipelihara.
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dalam organisasi. Namun perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah organisasi.
Semangat “Sharing and Growing Together”justru mengajarkan bahwa perbedaan pengalaman, gagasan, dan perspektif dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan kedewasaan.
Organisasi yang kuat bukan organisasi tanpa perbedaan, tetapi organisasi yang mampu mengubah perbedaan menjadi energi untuk bertumbuh bersama.
Pelopor Guru dalam IPTEK dan Inovasi
Ada satu karakter yang semakin penting dalam dunia pendidikan hari ini: guru harus menjadi pembaharu.
Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. Artificial Intelligence, platform pembelajaran digital, media sosial, sumber belajar terbuka, dan berbagai teknologi baru telah mengubah cara manusia belajar.
Dalam situasi seperti ini, guru tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Guru harus menjadi pengembang, penggerak, sekaligus inovator.
IGI memiliki karakter yang kuat dalam mendorong guru untuk aktif dalam pembaruan pendidikan, khususnya melalui pengembangan kapasitas di bidang IPTEK dan inovasi pembelajaran.
Guru yang sudah menguasai teknologi dapat berbagi kepada guru lainnya.
Guru yang menemukan metode baru dapat membagikan praktik baiknya.
Guru yang memiliki pengalaman dapat menjadi mentor bagi guru lain.
Guru yang sebelumnya merasa teknologi sebagai sesuatu yang sulit dapat memperoleh kesempatan untuk belajar.
Semua itu merupakan implementasi nyata dari: “Sharing and Growing Together.”
Karena inovasi pendidikan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang perubahan dimulai dari seorang guru yang berkata kepada rekannya: “Saya sudah mencoba cara ini. Mari kita belajar bersama.”
Progresif dalam Aspirasi, Santun dalam Perjuangan
Organisasi profesi guru tidak boleh hanya menjadi ruang pelatihan. Organisasi juga harus mampu menjadi ruang advokasi.
Ketika guru menghadapi persoalan profesi, organisasi harus hadir.
Ketika kebijakan pendidikan berpotensi menimbulkan persoalan bagi guru, organisasi harus menyampaikan pandangan.
Ketika anggota membutuhkan perlindungan dan pendampingan, organisasi harus bergerak.
Namun perjuangan tidak harus dilakukan dengan cara yang gaduh.
IGI dapat mengambil posisi sebagai organisasi yang progresif tetapi santun dalam menyampaikan aspirasi
Kritik terhadap kebijakan tidak harus berubah menjadi permusuhan. Advokasi tidak harus kehilangan etika. Ketegasan tidak harus menghilangkan kesantunan.
Semangat “Sharing and Growing Together” juga berarti membangun dialog: mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan memperjuangkan kepentingan guru dengan cara yang bermartabat.
Apa yang Tidak Ada pada IGI?
Pertanyaan ini menarik untuk direnungkan: “Apa yang tidak ada pada IGI?”
Yang tidak seharusnya ada pada IGI adalah kepentingan yang menjadikan guru sebagai alat kepentingan tertentu.
Yang tidak seharusnya ada adalah perebutan kekuasaan yang mengorbankan Organisasi
Yang tidak seharusnya ada adalah budaya anti-kritik, stagnasi, eksklusivisme, dan ketergantungan kepada segelintir orang.
Sebaliknya, yang harus terus hidup adalah budaya berbagi, belajar, berinovasi, berjejaring, dan tumbuh bersama.
Sebab motto “Sharing and Growing Together” menuntut IGI untuk menjadi organisasi yang terbuka terhadap gagasan, terbuka terhadap perubahan, dan terbuka terhadap perkembangan zaman.
IGI Apa yang Tidak Ada?
Pertanyaan berikutnya bahkan lebih menarik: “IGI apa yang tidak ada?”
Jika yang dimaksud adalah organisasi profesi yang mendorong guru meningkatkan kapasitas, mengembangkan teknologi dan inovasi, membangun komunitas pembelajaran, berbagi praktik baik, memperjuangkan aspirasi anggota, serta membuka ruang bagi guru untuk berkembang bersama, maka IGI memiliki karakter yang khas.
IGI tidak harus menjadi organisasi yang paling besar secara jumlah.
Yang jauh lebih penting adalah menjadi organisasi yang besar pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas guru.
Sebab ukuran keberhasilan organisasi profesi bukan semata-mata berapa banyak anggota yang dimiliki, tetapi berapa banyak guru yang tumbuh karena organisasi tersebut.
Indonesia Membutuhkan IGI
Indonesia membutuhkan organisasi profesi guru yang tidak berhenti pada seremoni.
Indonesia membutuhkan organisasi yang hadir di ruang kelas, komunitas guru, ruang inovasi, perkembangan teknologi, dan ketika guru menghadapi persoalan profesinya.
Indonesia membutuhkan organisasi yang mampu mengatakan kepada guru: “Mari kita belajar.”
Kepada guru yang sudah maju: “Mari kita berbagi.”
Kepada guru yang memiliki inovasi: “Mari kita kembangkan.”
Dan kepada guru yang menghadapi persoalan: “Mari kita perjuangkan bersama.”
Semua itu bermuara pada satu semangat: “Sharing and Growing Together”.
Berbagi bukan berarti kehilangan. Berbagi justru memperbanyak manfaat.
Tumbuh bersama bukan berarti kehilangan keunggulan individu.
Tumbuh bersama berarti memastikan bahwa kemajuan seorang guru dapat menjadi jalan kemajuan bagi guru lainnya.
Menjadikan IGI Rumah Besar Guru Indonesia
Pada akhirnya, Indonesia membutuhkan organisasi profesi yang mampu menjadikan guru sebagai subjek perubahan pendidikan.
IGI memiliki ruang untuk memainkan peran tersebut: sebagai organisasi yang meningkatkan kapasitas, mendorong inovasi, mengembangkan literasi IPTEK, memperjuangkan aspirasi, memberikan advokasi, dan membangun jejaring guru tanpa kehilangan kesantunan.
“Sharing and Growing Together” bukan hanya motto. Ia adalah panggilan untuk membangun budaya baru dalam organisasi profesi guru: Guru berbagi ilmu. Guru berbagi pengalaman. Guru berbagi inovasi. Guru saling menguatkan. Guru saling belajar. Dan guru tumbuh bersama.
Karena masa depan pendidikan Indonesia tidak mungkin dibangun oleh guru yang berjalan sendiri-sendiri.
Masa depan pendidikan Indonesia membutuhkan komunitas guru yang saling berbagi dan bertumbuh bersama.
Dan di sanalah IGI seharusnya terus mengambil peran.
Bukan sekadar menjadi organisasi guru, tetapi menjadi gerakan profesional guru.
Bukan sekadar membesarkan organisasi, tetapi membesarkan kapasitas guru.
Bukan sekadar memperjuangkan kepentingan organisasi, tetapi memperjuangkan kemajuan profesi guru Indonesia.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan:Seberapa besar IGI?
Melainkan: “Seberapa besar kontribusi IGI terhadap kemajuan guru dan pendidikan Indonesia?”
Jika jawabannya adalah semakin banyak guru yang belajar, berbagi, berinovasi, berdaya, dan tumbuh bersama, maka sesungguhnya IGI telah menjalankan makna terdalam dari mottonya:
‘Sharing and Growing Together”.
Berbagi untuk menguatkan.
Bertumbuh untuk memajukan. Bersama untuk pendidikan Indonesia.(*)












