Dari silaturahmi, pengajian hingga pemberdayaan UMKM. Pertemuan perdana empat PDM menjadi awal membangun gerakan bersama menyukseskan Muktamar di Sumatera Utara.
TAJDID.ID~Sergai 🔳 Sebuah pertemuan tidak selalu harus dimulai dengan banyak orang untuk melahirkan sebuah gagasan besar. Kadang, cukup beberapa orang yang duduk bersama, berbicara dari hati ke hati, lalu menyatukan niat untuk sesuatu yang lebih besar dari kepentingan masing-masing.
Semangat itulah yang terasa dalam silaturahmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dari enam daerah penyangga Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara. Keenam daerah tersebut adalah Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi.
Pertemuan perdana yang digelar di Kopi Literasi, Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, dihadiri Ketua, Sekretaris, dan Bendahara dari masing-masing PDM yang hadir.
Dari enam daerah penyangga, baru empat PDM yang dapat mengikuti pertemuan, yakni PDM Binjai, Medan, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi. Sementara PDM Langkat dan Deli Serdang berhalangan hadir karena pada saat yang sama memiliki kegiatan di daerah masing-masing.
Meski baru dihadiri empat dari enam PDM, pertemuan tersebut tetap berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Yang dibicarakan bukan sekadar sebuah acara, melainkan bagaimana enam daerah penyangga dapat membangun gerakan bersama untuk menyambut dan menyukseskan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Pertemuan juga membicarakan rencana kegiatan bersama yang akan dirangkaikan dengan Milad Muhammadiyah ke-114. Bentuk kegiatan yang mengemuka adalah pengajian dengan menghadirkan pimpinan pusat Muhammadiyah sebagai pembicara dan melibatkan warga Muhammadiyah dari enam daerah penyangga.
Ketua PDM Serdang Bedagai yang sekaligus pemilik Kopi Literasi berharap rencana tersebut dapat diwujudkan. Harapan yang sama disampaikan Ketua PDM Medan Ustadz Maulana Siregar, Ketua PDM Binjai Juriadi, dan Ketua PDM Tebing Tinggi Jufri.
Namun, ada gagasan lain yang membuat pertemuan tersebut menjadi lebih dari sekadar persiapan sebuah kegiatan.
Bendahara PDM Serdang Bedagai, Ahmad Zaki, melihat bahwa momentum menyambut Muktamar tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Pengajian dan silaturahmi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kerja sama yang lebih luas, termasuk dalam pemberdayaan masyarakat melalui UMKM.
Gagasan ini menjadi penting karena dakwah Muhammadiyah sejak awal tidak hanya bergerak pada ruang-ruang pengajian. Dakwah juga hadir melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, ketika momentum Muktamar dipertemukan dengan agenda pemberdayaan ekonomi umat, sesungguhnya yang sedang dibangun adalah gerakan yang lebih utuh: membangun kesalehan spiritual sekaligus kemandirian sosial-ekonomi masyarakat.
Ahmad Zaki menyampaikan bahwa PDM Serdang Bedagai saat ini turut dilibatkan dalam pengurusan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi, di samping berbagai usaha yang digagasnya. Pengalaman tersebut menurutnya dapat menjadi ruang untuk membuka peluang kerja sama dan pemberdayaan masyarakat yang lebih luas.
Gagasan seperti ini patut dikembangkan. Sebab organisasi besar akan semakin berarti ketika kehadirannya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ukuran keberhasilan sebuah gerakan bukan hanya seberapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, tetapi seberapa jauh kegiatan tersebut mampu memberikan manfaat dan membuka ruang kemandirian.
Sementara itu, Sekretaris PDM Medan Ibrahim Nainggolan berharap pertemuan tersebut menjadi awal bagi gerakan bersama enam daerah penyangga dalam menyukseskan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi yang berkelanjutan dengan panitia Muktamar serta Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), sehingga berbagai potensi yang dimiliki daerah penyangga dapat diarahkan untuk mendukung suksesnya agenda besar Muhammadiyah tersebut.
Di sinilah makna penting pertemuan pertama ini.
Ia bukan semata tentang siapa yang hadir dan siapa yang belum hadir. Lebih jauh dari itu, pertemuan ini berbicara tentang kesadaran bahwa agenda besar akan lebih mudah diwujudkan ketika dikerjakan bersama.
Enam daerah penyangga memiliki karakter, potensi, dan kekuatan masing-masing. Jika kekuatan itu dapat disatukan, Muktamar tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga dapat menjadi momentum memperkuat silaturahmi, membangun jejaring, menggerakkan ekonomi umat, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Sumatera Utara.
Muktamar pada akhirnya bukan sekadar sebuah perhelatan besar yang datang lalu berlalu. Ia semestinya meninggalkan sesuatu yang lebih panjang: jejaring yang semakin kuat, kolaborasi yang semakin luas, dan gerakan yang semakin nyata di tengah masyarakat.
Pertemuan di Kopi Literasi mungkin sederhana. Ada ramah tamah, berbincang, bertukar pikiran, dan ngopi bersama. Tetapi dari ruang sederhana seperti inilah sering kali gagasan besar menemukan awalnya.
Pertemuan kemudian ditutup dengan salat berjamaah di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sei Rampah.
Semoga silaturahmi perdana ini menjadi awal dari langkah yang lebih panjang. Enam PDM penyangga bukan sekadar enam nama dalam sebuah daftar, tetapi enam kekuatan yang jika disatukan dapat menjadi energi besar untuk menyukseskan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah, sekaligus memperkuat gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat di Sumatera Utara. (*)
✍️ Jufri

















