Karya: Maestro Sihaloho
Di negeri ini
politik tak lagi terdengar seperti percakapan
tentang nasib manusia.
Ia telah berubah menjadi
pasar malam yang lampunya terang,
tetapi lorong-lorongnya remang
Di sana
para politisi menjajakan senyum,
mengobral janji dengan diskon lima tahun,
mengemas dusta dengan ayat,
memoles kebohongan dengan nasionalisme,
lalu menyebutnya
“demokrasi”
Mereka datang
dengan mobil mewah,
jas mahal,
sepatu mengilap,
dan kalimat-kalimat
yang lebih licin daripada belut.
“Demi rakyat!”
Begitu selalu mereka berteriak.
Rakyat pun bertepuk tangan.
Padahal
di belakang panggung
mereka diam-diam sedang menghitung dengan cermat:
berapa suara,
berapa kursi,
berapa proyek,
berapa persen fee,
berapa lama
kursi itu bisa dipertahankan.
Rakyat?
Ah, rakyat hanya angka.
Angka dalam survei.
Angka dalam kotak suara.
Angka dalam pidato.
Angka yang selalu dihitung, tapi tak pernah diperhitungkan
Setelah pemilu usai,
angka itu kembali menjadi manusia
yang boleh lapar
sendiri.
—
Di negeri ini
kemiskinan telah menjadi pemandangan biasa.
Orang miskin
sudah terlalu sering miskin
sampai kemiskinannya
tak lagi dianggap tragedi.
Anak-anak tidur
dengan perut yang bernegosiasi
dengan rasa lapar.
Petani menjual hasil panennya murah,
lalu membeli kebutuhan hidup
dengan harga yang mahal
Nelayan melaut
menantang ombak
dengan perahu tua,
sementara di daratan
orang-orang berdasi
menangkap ikan
dengan kebijakan
Buruh bekerja
delapan jam,
sepuluh jam,
kadang lebih,
tetapi upahnya
bahkan tak cukup
membeli masa depan.
Sementara mereka yang berkuasa
sibuk berdebat
tentang siapa yang paling mencintai rakyat
Betapa romantisnya!
Rakyat kelaparan,
mereka sibuk
memilih menu
—
Di televisi
kita melihat mereka tersenyum.
Di media sosial
mereka mengunggah foto
mesra bersama rakyat
Memeluk petani.
Mencium bayi.
Makan di warung sederhana.
Salat bersama jamaah.
Mengangkat tangan
sambil berkata:
“Semoga amanah.”
Lalu kamera dimatikan.
Dan rakyat
kembali menjadi rakyat.
Mereka kembali
ke rumah kontrakan.
Kembali menghitung uang.
Kembali larut dalam dilema memilih:
Membayar tagihan listrik
atau membeli beras.
Membayar uang sekolah
atau membeli obat.
Membayar cicilan utang
atau berpura-pura
tidak punya utang.
Sementara sang politisi
pulang ke rumah
yang pagarnya lebih tinggi
daripada harapan rakyat.
—
Ada yang korupsi.
Ada yang tertangkap.
Ada yang diadili.
Ada yang dihukum.
Tetapi anehnya
uang rakyat tetap hilang.
Yang berubah hanya:
orangnya.
Kursinya tetap ada.
Sistemnya tetap berdiri.
Partainya tetap berkibar.
Dan slogan-slogan
tetap dicetak.
“Berantas korupsi!”
Teriak mereka
Sungguh lucu.
Persis seperti pencuri
meneriakkan:
“Tangkap maling!”
agar orang-orang
tidak sempat memeriksa
kantong celananya.
—
Di negeri ini
hukum sering berjalan
dengan sepatu berbeda.
Cepat kepada mereka
yang tuna kuasa.
Lambat kepada mereka
yang bertahta dan berharta
Tajam kepada rakyat kecil.
Tumpul kepada mereka
yang mampu menyewa
pengacara mahal
dan makan malam
bersama penguasa
Di ruang sidang
keadilan berbicara
dengan bahasa pasal.
Di luar ruang sidang
keadilan sering berbicara
dengan bahasa lobi dan koneksi
Dan rakyat belajar satu hal:
bahwa hukum itu sama di depan mata,
tetapi berbeda
di belakang pintu.
—
Politik telah menjadi seni
mengubah keburukan
menjadi sesuatu yang tampak wajar
Korupsi disebut
“kesalahan administrasi.”
Nepotisme disebut
“hak prerogatif.”
Bagi-bagi jabatan disebut
“akomodasi politik.”
Transaksi kekuasaan disebut
“komunikasi.”
Pengkhianatan terhadap janji disebut “dinamika.”
Dan ketika rakyat bertanya:
“Ini apa?”
Mereka menjawab:
“Ini demokrasi.”
Publik pun bertanya-tanya
Betapa luas dan lenturnya makna demokrasi
jika ia bisa digunakan
untuk menutupi
hampir segala dosa.
—
Kita hidup
di zaman ketika politisi
tak perlu malu berbohong.
Cukup ulangi kebohongan
berkali-kali.
Nanti algoritma
akan mengurus sisanya.
Satu kebohongan
menjadi konten.
Konten menjadi viral.
Yang viral dianggap benar.
Yang benar
belum tentu viral.
Maka kebenaran pun
kalah cepat
dari kebohongan.
Di layar smartphone
rakyat berkelahi
membela politisi
yang bahkan
tidak mengenal nama mereka.
Kau membela dia.
Aku membela mereka.
Kita saling memaki.
Sementara mereka
duduk satu meja.
Tertawa.
Bersalaman
Mesra bercengkrama
Berbagi kekuasaan.
Dan kita?
Kita berbagi kebencian.
—
Inilah tragedi paling banal:
Rakyat miskin
dibuat sibuk membenci
rakyat miskin lainnya.
Yang satu membenci
karena pilihan politik.
Yang lain membenci
karena agama.
Yang lain lagi
karena suku.
Yang lainnya
karena perbedaan pilihan.
Kita saling mencaci
di kolom komentar,
sementara kekayaan negeri
pelan-pelan berpindah tangan
ke mereka yang tahu
cara memegang kunci.
Kita sibuk bertengkar
tentang siapa yang paling nasionalis.
Mereka sibuk bertengkar
tentang siapa yang mendapat
jatah paling strategis.
Kita sibuk mengibarkan bendera.
Mereka sibuk
mennggemukkan rekening.
—
Dan rakyat tetap diminta sabar.
“Bersabarlah.”
“Pembangunan butuh proses.”
“Jangan terlalu kritis.”
“Jangan membuat gaduh.”
“Percayakan kepada pemerintah.”
“Percayakan kepada wakil rakyat.”
“Percayakan kepada hukum.”
Itulah sederet ujaran moral
yang muncrat dari muncung mereka
Tetapi sampai kapan
rakyat harus terus percaya
kepada mereka
yang berkali-kali
memberi alasan
untuk tidak dipercaya?
Kesabaran rakyat
jangan sampai disalahartikan
sebagai kebodohan.
Diam bukan selalu tanda setuju.
Tunduk bukan selalu berarti patuh.
Dan ketenangan
bukan berarti
rakyat tidak sedang menyimpan
kemarahan.
—
Wahai para penguasa,
jangan terlalu bangga
dengan tepuk tangan.
Tepuk tangan rakyat
bisa berubah
menjadi gemuruh perlawanan.
Jangan terlalu percaya
pada baliho.
Baliho akan lapuk.
Jangan terlalu percaya
pada survei.
Angka dapat berubah.
Jangan terlalu percaya
pada buzzer.
Mereka akan pindah
ketika bayaran berubah.
Jangan terlalu percaya
pada kursi.
Kursi kekuasaan
tidak pernah menjadi milik abadi.
Hari ini
kau duduk di atasnya.
Besok
orang lain.
Dan suatu hari
sejarah akan bertanya:
ketika kau memiliki kekuasaan,
apa yang kau lakukan
kepada mereka
yang tidak memilikinya?
—
Wahai rakyat,
jangan lagi terlalu mudah
terpesona oleh senyum.
Jangan ukur pemimpin
dari baliho.
Jangan ukur keberanian
dari volume pidato.
Jangan ukur kesalehan
dari panjang jubah.
Jangan ukur nasionalisme
dari banyaknya bendera.
Lihatlah
ke mana uang negara mengalir.
Lihat siapa
yang memperoleh keuntungan.
Lihat siapa
yang kehilangan tanah.
Lihat siapa
yang kehilangan pekerjaan.
Lihat siapa
yang kehilangan rumah.
Lihat siapa
yang kehilangan masa depan.
Sebab politik
tidak pernah benar-benar bicara
melalui kata-kata.
Politik berbicara
melalui akibat.
—
Jangan biarkan
kemiskinan menjadi takdir.
Jangan biarkan
korupsi menjadi kebiasaan.
Jangan biarkan
kebohongan menjadi hiburan.
Jangan biarkan
ketidakadilan menjadi pemandangan.
Dan jangan biarkan
demokrasi berubah
menjadi ritual lima tahunan:
datang,
dicoblos,
difoto,
dihitung,
lalu dilupakan.
Demokrasi bukan
sekadar hak memilih
siapa yang duduk di kursi.
Demokrasi adalah keberanian
mengawasi siapa pun
yang sudah duduk di sana.
—
Sebab negeri ini
bukan milik mereka
yang paling pandai berpidato.
Bukan milik mereka
yang paling banyak baliho.
Bukan milik mereka
yang paling kuat modal.
Bukan milik mereka
yang paling banyak pengikut.
Negeri ini milik
anak-anak yang sedang tumbuh
dengan harapan sederhana:
ingin sekolah tanpa takut biaya,
ingin bekerja tanpa diperas,
ingin sakit tanpa takut miskin,
ingin tinggal tanpa digusur,
ingin makan tanpa berutang,
ingin hidup tanpa harus menyuap.
Itulah rakyat.
Mereka tidak meminta istana.
Mereka hanya meminta
negara berhenti
menganggap mereka
sebagai penonton
di tanah airnya sendiri.
—
Maka bila suatu hari
rakyat mulai bertanya,
“Untuk siapa sebenarnya
negara ini bekerja?”
Jangan buru-buru
menuduh mereka provokator.
Mungkin mereka
hanya sedang belajar
menjadi warga negara.
Bila rakyat mulai marah,
jangan buru-buru
menyebutnya pembangkangan.
Mungkin itu
suara nurani
yang terlalu lama
dikurung kesabaran.
Dan bila rakyat mulai
tidak percaya,
jangan salahkan rakyat.
Tanyakan kepada diri sendiri:
berapa kali kepercayaan itu
telah kalian khianati?
—
Negeri ini belum mati.
Tetapi terlalu banyak
yang sedang membiasakan
kematiannya.
Keadilan mati
sedikit demi sedikit.
Kejujuran mati
sedikit demi sedikit.
Rasa malu mati
sedikit demi sedikit.
Nurani mati
sedikit demi sedikit.
Dan yang paling berbahaya:
rakyat mulai terbiasa.
Terbiasa melihat korupsi.
Terbiasa melihat kebohongan.
Terbiasa melihat ketimpangan.
Terbiasa melihat pejabat
tertawa ketika rakyat menangis.
Terbiasa melihat hukum
membungkuk kepada kekuasaan.
Terbiasa melihat negara
sibuk mengurus citra
sementara rakyat
mengurus luka.
Itulah kemenangan terbesar
dari politik yang banal:
bukan ketika rakyat dikalahkan,
melainkan ketika rakyat
sudah tidak merasa
perlu melawan.
—
Karena itu,
bangunlah.
Bukan untuk membakar negeri.
Tetapi untuk menyalakan
akal sehat.
Bukan untuk membenci.
Tetapi untuk berhenti
dibodohi.
Bukan untuk menggulingkan
setiap kekuasaan.
Tetapi untuk mengingatkan
bahwa setiap kekuasaan
harus bisa digulingkan
bila berubah menjadi kezaliman.
Jangan serahkan
pikiranmu kepada partai.
Jangan sewakan
nuranimu kepada kandidat.
Jangan gadaikan
suaramu dengan sembako.
Dan jangan jual
masa depan anak-anakmu
seharga uang yang habis
dalam sehari.
Sebab ketika rakyat
menjual suaranya,
yang dibeli bukan sekadar suara.
Yang dibeli adalah
hak rakyat untuk mengeluh
selama lima tahun berikutnya.
—
Kelak,
ketika sejarah membuka
catatan negeri ini,
semoga ia tidak menulis:
“Di sini pernah hidup
sebuah bangsa
yang ditipu berkali-kali
dan tetap memilih
untuk percaya.”
Semoga sejarah menulis:
“Di sini pernah hidup
sebuah rakyat
yang akhirnya sadar,
bahwa negara bukan milik
para penguasa,
bahwa politik bukan milik
para politisi,
bahwa demokrasi bukan milik
para pemenang pemilu,
melainkan milik
setiap manusia
yang berani berkata: cukup.
Cukup menjadikan kebohongan
sebagai kebiasaan.
Cukup menjadikan korupsi
sebagai budaya.
Cukup menjadikan rakyat
sebagai komoditas.
Cukup menjadikan negara
sebagai ladang kekuasaan.
Sebab negeri ini
terlalu kaya
untuk terus memelihara kemiskinan,
terlalu besar
untuk dikelola dengan keserakahan,
dan terlalu berharga
untuk diserahkan
kepada mereka
yang menganggap kekuasaan
sebagai warisan keluarga.
Dan jika hari ini
kita masih diam,
barangkali bukan karena
kita tidak tahu
apa yang sedang terjadi.
Barangkali karena
kita terlalu lama
diajari percaya
bahwa semua kebusukan
adalah sesuatu
yang harus kita terima
sebagai takdir.
Padahal tidak.
Takdir tidak pernah
meminta manusia
menjadi pengecut.
Sejarah pun tidak berubah
karena mereka yang diam.
Ia berubah
ketika manusia biasa
berhenti menganggap
ketidakadilan
sebagai sesuatu yang biasa.
Maestro Sihaloho adalah nama pena yang sering dipakai M Risfan Sihaloho ketika menulis karya sastra.

















