No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Demokrasi yang Bau Bangkai

29 Agustus 2026
in Nasional, Puisi, Sastra
Reading Time: 6 mins read
0
A A
0
Gambar ilustrasi.

Gambar ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Karya: Maestro Sihaloho

 

Di negeri ini
politik tak lagi terdengar seperti percakapan
tentang nasib manusia.

Ia telah berubah menjadi
pasar malam yang lampunya terang,
tetapi lorong-lorongnya remang

Di sana
para politisi menjajakan senyum,
mengobral janji dengan diskon lima tahun,
mengemas dusta dengan ayat,
memoles kebohongan dengan nasionalisme,
lalu menyebutnya
“demokrasi”

Mereka datang
dengan mobil mewah,
jas mahal,
sepatu mengilap,
dan kalimat-kalimat
yang lebih licin daripada belut.

“Demi rakyat!”
Begitu selalu mereka berteriak.

Rakyat pun bertepuk tangan.

Padahal
di belakang panggung
mereka diam-diam sedang menghitung dengan cermat:
berapa suara,
berapa kursi,
berapa proyek,
berapa persen fee,
berapa lama
kursi itu bisa dipertahankan.

Rakyat?
Ah, rakyat hanya angka.
Angka dalam survei.
Angka dalam kotak suara.
Angka dalam pidato.
Angka yang selalu dihitung, tapi tak pernah diperhitungkan

Setelah pemilu usai,
angka itu kembali menjadi manusia
yang boleh lapar
sendiri.

—

Di negeri ini
kemiskinan telah menjadi pemandangan biasa.

Orang miskin
sudah terlalu sering miskin
sampai kemiskinannya
tak lagi dianggap tragedi.

Anak-anak tidur
dengan perut yang bernegosiasi
dengan rasa lapar.

Petani menjual hasil panennya murah,
lalu membeli kebutuhan hidup
dengan harga yang mahal

Nelayan melaut
menantang ombak
dengan perahu tua,
sementara di daratan
orang-orang berdasi
menangkap ikan
dengan kebijakan

Buruh bekerja
delapan jam,
sepuluh jam,
kadang lebih,
tetapi upahnya
bahkan tak cukup
membeli masa depan.

Sementara mereka yang berkuasa
sibuk berdebat
tentang siapa yang paling mencintai rakyat

Betapa romantisnya!

Rakyat kelaparan,
mereka sibuk
memilih menu

—

Di televisi
kita melihat mereka tersenyum.

Di media sosial
mereka mengunggah foto
mesra bersama rakyat
Memeluk petani.
Mencium bayi.
Makan di warung sederhana.
Salat bersama jamaah.
Mengangkat tangan
sambil berkata:
“Semoga amanah.”

Lalu kamera dimatikan.
Dan rakyat
kembali menjadi rakyat.

Mereka kembali
ke rumah kontrakan.

Kembali menghitung uang.
Kembali larut dalam dilema memilih:

Membayar tagihan listrik
atau membeli beras.

Membayar uang sekolah
atau membeli obat.

Membayar cicilan utang
atau berpura-pura
tidak punya utang.

Sementara sang politisi
pulang ke rumah
yang pagarnya lebih tinggi
daripada harapan rakyat.

—

Ada yang korupsi.
Ada yang tertangkap.
Ada yang diadili.
Ada yang dihukum.

Tetapi anehnya
uang rakyat tetap hilang.

Yang berubah hanya:
orangnya.
Kursinya tetap ada.
Sistemnya tetap berdiri.
Partainya tetap berkibar.
Dan slogan-slogan
tetap dicetak.

“Berantas korupsi!”
Teriak mereka

Sungguh lucu.
Persis seperti pencuri
meneriakkan:
“Tangkap maling!”
agar orang-orang
tidak sempat memeriksa
kantong celananya.

—

Di negeri ini
hukum sering berjalan
dengan sepatu berbeda.

Cepat kepada mereka
yang tuna kuasa.
Lambat kepada mereka
yang bertahta dan berharta

Tajam kepada rakyat kecil.
Tumpul kepada mereka
yang mampu menyewa
pengacara mahal
dan makan malam
bersama penguasa

Di ruang sidang
keadilan berbicara
dengan bahasa pasal.

Di luar ruang sidang
keadilan sering berbicara
dengan bahasa lobi dan koneksi

Dan rakyat belajar satu hal:
bahwa hukum itu sama di depan mata,
tetapi berbeda
di belakang pintu.

—

Politik telah menjadi seni
mengubah keburukan
menjadi sesuatu yang tampak wajar

Korupsi disebut
“kesalahan administrasi.”
Nepotisme disebut
“hak prerogatif.”
Bagi-bagi jabatan disebut
“akomodasi politik.”
Transaksi kekuasaan disebut
“komunikasi.”
Pengkhianatan terhadap janji disebut “dinamika.”

Dan ketika rakyat bertanya:
“Ini apa?”

Mereka menjawab:
“Ini demokrasi.”

Publik pun bertanya-tanya
Betapa luas dan lenturnya makna demokrasi
jika ia bisa digunakan
untuk menutupi
hampir segala dosa.

—

Kita hidup
di zaman ketika politisi
tak perlu malu berbohong.

Cukup ulangi kebohongan
berkali-kali.
Nanti algoritma
akan mengurus sisanya.

Satu kebohongan
menjadi konten.
Konten menjadi viral.
Yang viral dianggap benar.
Yang benar
belum tentu viral.
Maka kebenaran pun
kalah cepat
dari kebohongan.

Di layar smartphone
rakyat berkelahi
membela politisi
yang bahkan
tidak mengenal nama mereka.

Kau membela dia.
Aku membela mereka.
Kita saling memaki.

Sementara mereka
duduk satu meja.
Tertawa.
Bersalaman
Mesra bercengkrama
Berbagi kekuasaan.

Dan kita?
Kita berbagi kebencian.

—

Inilah tragedi paling banal:

Rakyat miskin
dibuat sibuk membenci
rakyat miskin lainnya.

Yang satu membenci
karena pilihan politik.

Yang lain membenci
karena agama.

Yang lain lagi
karena suku.

Yang lainnya
karena perbedaan pilihan.

Kita saling mencaci
di kolom komentar,
sementara kekayaan negeri
pelan-pelan berpindah tangan
ke mereka yang tahu
cara memegang kunci.

Kita sibuk bertengkar
tentang siapa yang paling nasionalis.
Mereka sibuk bertengkar
tentang siapa yang mendapat
jatah paling strategis.

Kita sibuk mengibarkan bendera.
Mereka sibuk
mennggemukkan rekening.

—

Dan rakyat tetap diminta sabar.

“Bersabarlah.”

“Pembangunan butuh proses.”

“Jangan terlalu kritis.”

“Jangan membuat gaduh.”

“Percayakan kepada pemerintah.”

“Percayakan kepada wakil rakyat.”

“Percayakan kepada hukum.”

Itulah sederet ujaran moral
yang muncrat dari muncung mereka

Tetapi sampai kapan
rakyat harus terus percaya
kepada mereka
yang berkali-kali
memberi alasan
untuk tidak dipercaya?

Kesabaran rakyat
jangan sampai disalahartikan
sebagai kebodohan.

Diam bukan selalu tanda setuju.

Tunduk bukan selalu berarti patuh.

Dan ketenangan
bukan berarti
rakyat tidak sedang menyimpan
kemarahan.

—

Wahai para penguasa,

jangan terlalu bangga
dengan tepuk tangan.

Tepuk tangan rakyat
bisa berubah
menjadi gemuruh perlawanan.

Jangan terlalu percaya
pada baliho.

Baliho akan lapuk.

Jangan terlalu percaya
pada survei.

Angka dapat berubah.

Jangan terlalu percaya
pada buzzer.

Mereka akan pindah
ketika bayaran berubah.

Jangan terlalu percaya
pada kursi.

Kursi kekuasaan
tidak pernah menjadi milik abadi.

Hari ini
kau duduk di atasnya.

Besok
orang lain.

Dan suatu hari
sejarah akan bertanya:

ketika kau memiliki kekuasaan,
apa yang kau lakukan
kepada mereka
yang tidak memilikinya?

—

Wahai rakyat,

jangan lagi terlalu mudah
terpesona oleh senyum.

Jangan ukur pemimpin
dari baliho.

Jangan ukur keberanian
dari volume pidato.

Jangan ukur kesalehan
dari panjang jubah.

Jangan ukur nasionalisme
dari banyaknya bendera.

Lihatlah
ke mana uang negara mengalir.

Lihat siapa
yang memperoleh keuntungan.

Lihat siapa
yang kehilangan tanah.

Lihat siapa
yang kehilangan pekerjaan.

Lihat siapa
yang kehilangan rumah.

Lihat siapa
yang kehilangan masa depan.

Sebab politik
tidak pernah benar-benar bicara
melalui kata-kata.

Politik berbicara
melalui akibat.

—

Jangan biarkan
kemiskinan menjadi takdir.

Jangan biarkan
korupsi menjadi kebiasaan.

Jangan biarkan
kebohongan menjadi hiburan.

Jangan biarkan
ketidakadilan menjadi pemandangan.

Dan jangan biarkan
demokrasi berubah
menjadi ritual lima tahunan:

datang,

dicoblos,

difoto,

dihitung,

lalu dilupakan.

Demokrasi bukan
sekadar hak memilih
siapa yang duduk di kursi.

Demokrasi adalah keberanian
mengawasi siapa pun
yang sudah duduk di sana.

—

Sebab negeri ini
bukan milik mereka
yang paling pandai berpidato.

Bukan milik mereka
yang paling banyak baliho.

Bukan milik mereka
yang paling kuat modal.

Bukan milik mereka
yang paling banyak pengikut.

Negeri ini milik
anak-anak yang sedang tumbuh
dengan harapan sederhana:

ingin sekolah tanpa takut biaya,

ingin bekerja tanpa diperas,

ingin sakit tanpa takut miskin,

ingin tinggal tanpa digusur,

ingin makan tanpa berutang,

ingin hidup tanpa harus menyuap.

Itulah rakyat.

Mereka tidak meminta istana.

Mereka hanya meminta
negara berhenti
menganggap mereka
sebagai penonton
di tanah airnya sendiri.

—

Maka bila suatu hari
rakyat mulai bertanya,

“Untuk siapa sebenarnya
negara ini bekerja?”

Jangan buru-buru
menuduh mereka provokator.

Mungkin mereka
hanya sedang belajar
menjadi warga negara.

Bila rakyat mulai marah,

jangan buru-buru
menyebutnya pembangkangan.

Mungkin itu
suara nurani
yang terlalu lama
dikurung kesabaran.

Dan bila rakyat mulai
tidak percaya,

jangan salahkan rakyat.

Tanyakan kepada diri sendiri:

berapa kali kepercayaan itu
telah kalian khianati?

—

Negeri ini belum mati.

Tetapi terlalu banyak
yang sedang membiasakan
kematiannya.

Keadilan mati
sedikit demi sedikit.

Kejujuran mati
sedikit demi sedikit.

Rasa malu mati
sedikit demi sedikit.

Nurani mati
sedikit demi sedikit.

Dan yang paling berbahaya:

rakyat mulai terbiasa.

Terbiasa melihat korupsi.

Terbiasa melihat kebohongan.

Terbiasa melihat ketimpangan.

Terbiasa melihat pejabat
tertawa ketika rakyat menangis.

Terbiasa melihat hukum
membungkuk kepada kekuasaan.

Terbiasa melihat negara
sibuk mengurus citra
sementara rakyat
mengurus luka.

Itulah kemenangan terbesar
dari politik yang banal:

bukan ketika rakyat dikalahkan,

melainkan ketika rakyat
sudah tidak merasa
perlu melawan.

—

Karena itu,

bangunlah.

Bukan untuk membakar negeri.

Tetapi untuk menyalakan
akal sehat.

Bukan untuk membenci.

Tetapi untuk berhenti
dibodohi.

Bukan untuk menggulingkan
setiap kekuasaan.

Tetapi untuk mengingatkan
bahwa setiap kekuasaan
harus bisa digulingkan
bila berubah menjadi kezaliman.

Jangan serahkan
pikiranmu kepada partai.

Jangan sewakan
nuranimu kepada kandidat.

Jangan gadaikan
suaramu dengan sembako.

Dan jangan jual
masa depan anak-anakmu
seharga uang yang habis
dalam sehari.

Sebab ketika rakyat
menjual suaranya,

yang dibeli bukan sekadar suara.

Yang dibeli adalah
hak rakyat untuk mengeluh
selama lima tahun berikutnya.

—

Kelak,

ketika sejarah membuka
catatan negeri ini,

semoga ia tidak menulis:

“Di sini pernah hidup
sebuah bangsa
yang ditipu berkali-kali
dan tetap memilih
untuk percaya.”

Semoga sejarah menulis:

“Di sini pernah hidup
sebuah rakyat
yang akhirnya sadar,

bahwa negara bukan milik
para penguasa,

bahwa politik bukan milik
para politisi,

bahwa demokrasi bukan milik
para pemenang pemilu,

melainkan milik
setiap manusia
yang berani berkata: cukup.

Cukup menjadikan kebohongan
sebagai kebiasaan.

Cukup menjadikan korupsi
sebagai budaya.

Cukup menjadikan rakyat
sebagai komoditas.

Cukup menjadikan negara
sebagai ladang kekuasaan.

Sebab negeri ini
terlalu kaya
untuk terus memelihara kemiskinan,

terlalu besar
untuk dikelola dengan keserakahan,

dan terlalu berharga
untuk diserahkan
kepada mereka
yang menganggap kekuasaan
sebagai warisan keluarga.

Dan jika hari ini
kita masih diam,

barangkali bukan karena
kita tidak tahu
apa yang sedang terjadi.

Barangkali karena
kita terlalu lama
diajari percaya
bahwa semua kebusukan
adalah sesuatu
yang harus kita terima
sebagai takdir.

Padahal tidak.

Takdir tidak pernah
meminta manusia
menjadi pengecut.

Sejarah pun tidak berubah
karena mereka yang diam.

BACA JUGA

Buntut Pernyataan Kontroversial Moeldoko, MUI: Jangan Bicara Kalau Tak Paham Agama

Gunakan Helikopter BNPB, Tim Medis MDMC Layani Warga Terisolir

InsyaAllah, Muktamar 49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumut Menjadi Terbaik

Muhammadiyah Berkomitmen Kembangkan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan

Wawasan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Wajib Dimiliki Relawan Muhammadiyah

Muhammadiyah 111 Tahun

Ia berubah
ketika manusia biasa
berhenti menganggap
ketidakadilan
sebagai sesuatu yang biasa.

 


Maestro Sihaloho adalah nama pena yang sering dipakai M Risfan Sihaloho ketika menulis karya sastra.

Tags: demokrasiDemokrasi yang Bau Bangkaipuisipuisi maestro sihaloho
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

by Mujaddid
5 September 2026
13
Hajat Versus Syahwat
Nasional

Hajat Versus Syahwat

by Mujaddid
1 September 2026
14
Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati
Esai

Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati

by Mujaddid
1 September 2026
26
Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara
Nasional

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

by Mujaddid
20 Juli 2026
16
Puisi-puisi Zahra Nur Alfiyah
Nasional

Puisi~puisi Zahra Nur Alfiyah (2)

by Mujaddid
14 Juli 2026
67
Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna
Kebangsaan

Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna

by Mujaddid
28 Mei 2026
27
Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting
Daerah

Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting

by Mujaddid
24 Mei 2026
30
Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi
Jufri Daily

Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi

by Mujaddid
9 April 2026
30
Kencing Cukong
Nasional

Kencing Cukong

by Mujaddid
22 Februari 2026
59
Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia
Esai

Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

by Mujaddid
22 Februari 2026
94

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Hari Radio Nasional, Fajar Junaedi: Industri Radio Perlu Adaptasi Multiplatform
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.