Oleh: M. Risfan Sihaloho
Masyarakat kita sepertinya punya bakat alami yang amat langka: kemampuan berpindah dari amarah yang meledak-ledak menuju amnesia total hanya dalam hitungan hari.
Kita adalah bangsa dengan spedometer emosi paling ekstrem di dunia, di mana benci dan maaf hanya berjarak satu tren FYP, atau unggahan video pendek permohonan maaf yang dibumbui backsound sentimental.
Di satu sisi, netizen Indonesia adalah “hakim” paling bengis di jagat maya. Ketika pejabat, influencer, atau lembaga negara keseleo lidah (slip of the tongue) atau memamerkan kebijakan yang nir-empati, jempol-jempol warga langsung berubah jadi senapan mesin. Fenomena “kena rujak” atau cancel culture bekerja bak hukum rimba digital yang efektif. Akun medsos digempur, tagar pemboikotan digemakan, hingga sponsor dipaksa angkat kaki.
Untuk sejenak, kita merasa jempol kita sakti—seolah baru saja menegakkan keadilan dan menyeret mereka yang berkuasa ke tiang gantungan reputasi.
Tapi sayang, sepertinya pengadilan rakyat ini cuma teatrikal tanpa stamina.
Di balik garangnya barisan komentator, bangsa ini menyimpan kerapuhan yang agak menggelikan: kita adalah tipe korban yang paling gampang dirayu.
Setelah mengamuk hebat karena dibohongi, ditipu, atau dizalimi oleh kebijakan yang mencekik, kita mendadak amnesia begitu dilempar pengalihan isu yang manis. Cukup beri satu video lucu, sedikit bantuan sosial yang dikemas dramatis, atau satu skandal artis baru yang lebih segar, maka amarah membara kemarin sore langsung menguap tanpa bekas.
Para pemangku kepentingan tentu paham betul celah ini. Mereka sadar bahwa kemarahan publik Indonesia itu ibarat menyalakan petasan: bunyinya nyaring, membakar seketika, tapi langsung padam dan menyisakan asap tipis yang gampang diabaikan.
Strateginya sederhana: cukup tiup angin bentar, tiarap beberapa hari, lempar isu baru untuk memecah fokus, lalu muncul kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan ajaibnya, trik murahan ini selalu berhasil. Kita dengan senang hati menyambut kembali pihak yang kemarin kita caci, menggelar karpet merah untuk parade dimaafkannya para pelanggar moral.
Cancel culture yang kita bangga-banggakan akhirnya cuma jadi komedi putar. Kita rajin “membatalkan” orang di internet, tapi konsisten “melestarikan” para penipu yang sama di dunia nyata.
Jika kebiasaan gampang iba dan cepat lupa ini terus dipelihara, jangan salahkan jika kita akan terus-menerus berada di dalam lingkaran setan yang sama: dimanfaatkan, dimaki di media sosial, dirayu dengan gimik, dimaafkan, lalu dizalimi kembali dengan cara yang serupa. Naudzubillah min dzalik (*)

















