Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Saya sudah sangat lama mendengar nama Batang Toru atau Kecamatan Batang Toru. Alhamdulillah, Sabtu dan Minggu ( Bulan Agustus 2022) akhirnya saya berkesempatan bersilaturahim dengan saudara-saudara Muhammadiyah di sana. Perjalanan yang awalnya hanya untuk memenuhi undangan silaturahim ternyata memberi banyak pelajaran tentang sejarah, keberagaman, dan arti penting sebuah daerah yang selama ini hanya saya kenal dari cerita.
Saya masih menyimpan keinginan untuk kembali ke Batangtoru, sayangnya waktu kawan- kawan kesana lagi pada Januari 2026 saya tidak sempat datang karena ada kegiatan di tempat lain.
Batang Toru merupakan daerah yang cukup ramai dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Masyarakatnya hidup dalam keberagaman. Di sana ada suku Mandailing, Angkola, Batak, Minangkabau, Jawa, dan berbagai etnis lainnya yang telah lama hidup berdampingan. Keberagaman itu bukan menjadi penghalang, tetapi justru menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan masyarakat.
Dalam sejarahnya, Muhammadiyah hadir di Batang Toru sekitar tahun 1940 melalui para perantau Minangkabau. Bahkan hingga kini masih dikenal adanya Kampung Darek, sebuah kawasan yang dibentuk oleh para perantau Minang. Hal ini menunjukkan bahwa para perantau tidak hanya membawa semangat mencari kehidupan yang lebih baik, tetapi juga membawa nilai-nilai dakwah, pendidikan, dan gerakan pembaruan yang kemudian tumbuh bersama masyarakat setempat.
Letak Batang Toru yang berada di antara Padangsidimpuan dan Sibolga menjadikannya sejak dahulu sebagai kawasan yang sangat strategis. Bagi generasi yang pernah menikmati perjalanan darat di Sumatera puluhan tahun silam tentu masih mengingat bahwa jika hendak menuju Medan dari wilayah Tapanuli bagian selatan, hampir pasti harus melewati Batang Toru. Saat itu jalur ini merupakan urat nadi utama transportasi sebelum berkembangnya lintas Sipirok–Tarutung, Padangsidimpuan–Rantau Prapat, maupun Lintas Timur Medan–Pekanbaru.
Dari Batang Toru perjalanan dilanjutkan menuju Sibolga melewati Batu Lobang yang sangat terkenal. Jalur itu bukan sekadar jalan raya, tetapi juga menjadi saksi perjalanan ribuan orang yang merantau, berdagang, menuntut ilmu, maupun pulang membawa kerinduan kepada kampung halaman. Tidak berlebihan jika Batang Toru disebut sebagai salah satu simpul sejarah perjalanan di Pulau Sumatera.
Alhamdulillah, kini akses jalan Batang Toru jauh lebih baik. Jalan yang mulus membuat perjalanan dari Sibolga menuju Padangsidimpuan maupun sebaliknya menjadi lebih nyaman. Infrastruktur yang baik bukan hanya mempersingkat waktu tempuh, tetapi juga mempercepat pertumbuhan ekonomi, memperlancar distribusi hasil bumi, meningkatkan pariwisata, serta mempererat hubungan sosial antardaerah.
Namun, di balik kemajuan itu tersimpan luka yang belum sepenuhnya hilang. Pada akhir tahun 2025, Batang Toru menjadi salah satu daerah yang terdampak banjir besar di Sumatera Utara. Jalan, jembatan, dan berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan. Lebih dari itu, banjir juga merusak bahkan menghilangkan sebagian Amal Usaha Muhammadiyah di Batang Toru yang selama ini menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat. Kehilangan itu bukan sekadar hilangnya bangunan, tetapi juga hilangnya jejak pengabdian yang dibangun dengan penuh keikhlasan selama bertahun-tahun.
Musibah tersebut mengingatkan kita bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam. Hutan, sungai, dan lingkungan bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan fondasi kehidupan yang harus dirawat bersama. Ketika alam dijaga, ia akan menjadi sahabat manusia. Namun ketika keseimbangannya terganggu, alam pun memberi peringatan dengan caranya sendiri.
Bagi saya, Batang Toru bukan sekadar nama sebuah kecamatan. Ia adalah ruang perjumpaan berbagai etnis, jalur bersejarah yang menghubungkan wilayah-wilayah di Sumatera, tempat bertumbuhnya dakwah Muhammadiyah, sekaligus saksi bagaimana masyarakat bangkit menghadapi berbagai tantangan zaman.
Semoga Batang Toru terus berkembang menjadi daerah yang maju tanpa kehilangan sejarahnya, modern tanpa meninggalkan nilai-nilai kebersamaan, serta mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




