No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati

Analisis Sastra atas Puisi Helvy Tiana Rosa

1 September 2026
in Esai, JABARAN, Jambangan, Nasional, Opini, Sastra, Tilikan
Reading Time: 5 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: M. Risfan Sihaloho

 

📌 Mata Kuliah yang Tidak Berguna

Kami sepakat
bahasa tidak terlalu penting.
Toh semua orang sudah bisa bicara.

Pejabat bisa bicara
berjam-jam
tanpa mengatakan apa-apa.

Iklan bisa bicara
seolah barang yang tidak kita perlukan
adalah kebutuhan pokok.

Berita bisa bicara
tentang kenyataan
sampai kenyataan sendiri
tak mengenali wajahnya.

Jadi untuk apa
belajar bahasa?

Kami juga sepakat
sastra tidak berguna.
Puisi tidak bisa
menurunkan harga beras.
Cerpen tidak sanggup
membayar uang kuliah.
Novel terlalu tebal
untuk dimasukkan
ke dalam dompet.

Dan drama,
seperti kita tahu,
sudah dipentaskan setiap hari
tanpa perlu gedung kesenian.

Maka kampus modern
harus praktis.

Ajarkan mahasiswa
cara membuat presentasi
tanpa membaca buku.
Ajarkan mereka
menulis makalah
tanpa punya pikiran.
Ajarkan cara mengutip
tanpa memahami.
Ajarkan cara lulus
tanpa pernah bertemu
dengan sebuah pertanyaan
yang mengganggu tidur.

Bukankah pendidikan
yang baik
adalah pendidikan
yang tidak merepotkan?

Sekarang sudah ada mesin
yang bisa menulis.
Lebih cepat.
Lebih rapi.
Tidak meminta honor.
Tidak mengeluh
tentang tenggat waktu.

Ia bahkan dapat membuat puisi
tentang kesepian
tanpa pernah kesepian.
Membuat cerita tentang kelaparan
tanpa pernah terlambat makan.
Menulis belasungkawa
tanpa mengenal orang yang mati.

Luar biasa.
Akhirnya kita menemukan
penulis ideal.
Tidak punya tubuh.
Tidak punya sejarah.
Tidak punya luka.
Dan yang paling penting:
tidak pernah membantah atasannya.

Karena itu
mahasiswa masa depan
tidak perlu terlalu pandai membaca.
Cukup pandai menekan tombol.
Tidak perlu memahami bahasa.
Cukup tahu kata sandi.
Tidak perlu mengenal sastra.
Cukup mengenal aplikasi
yang bisa merangkumnya
menjadi lima poin.

Hamlet dapat selesai
dalam tujuh baris.
Pramoedya
dalam enam bullet point.
Chairil Anwar
cukup tiga kata kunci:
individualisme,
kematian,
aku.
Betapa hematnya kebudayaan.

Lalu suatu hari
datang sebuah kebijakan
yang merugikan mereka.
Bahasanya sangat halus.

Hak dikurangi
disebut penyesuaian.
Pekerja dipecat
disebut efisiensi.
Tanah diambil
disebut pembangunan.
Kritik dilarang
disebut menjaga ketertiban.
Mahasiswa membaca pengumuman itu.
Mereka mengangguk.
Bahasanya resmi.
Pasti benar.

Saat itulah
barangkali kita baru ingat
mengapa bahasa perlu dipelajari:
sebab penipuan terbaik
jarang datang
dengan tata bahasa buruk.

Dan mengapa sastra
perlu dibaca:
agar seseorang mampu membayangkan
penderitaan orang lain
sebelum penderitaan itu
mendapat giliran
menjadi miliknya.

Tetapi tak perlu khawatir.
Kita masih punya teknologi.

Jika suatu hari
kita kehilangan kemampuan berpikir,
mesin dapat membantu.
Jika kehilangan kemampuan merasa,
barangkali akan tersedia
versi premium.

Dan jika akhirnya
kita kehilangan kemanusiaan,
mudah-mudahan
ada tombol
undo.

 

Sebuah satir yang ditulis dengan nada tenang sering kali merupakan bentuk kepedulian yang paling tajam. Puisi Mata Kuliah yang Tidak Berguna karya Helvy Tiana Rosa di atas hadir menampar kesadaran kita justru melalui ironi yang dibungkus kepasrahan semu. Di tengah euforia efisiensi, modernisasi kampus, dan kepungan kecerdasan buatan, puisi ini melontarkan pertanyaan mendasar: ketika kebudayaan dan pendidikan dikuras dari kemanusiaannya, apa yang tersisa dari kita?

 

Ironi dan Ironi Terbalik: Senjata Utama Satir

Secara struktural, puisi ini berdiri di atas fondasi ironi—teknik sastra di mana makna tersirat berbalas terbalik dengan apa yang tersurat.

Mari kita cermati Sejak bait pertama, penyair berpura-pura menyetujui pragmatisme zaman: bahwa bahasa dan sastra itu “tidak berguna” karena tidak menghasilkan beras atau uang kuliah.

Melalui teori satir dan fungsi bahasa, Helvy memperlihatkan bagaimana bahasa dalam kehidupan publik kerap mengalami depravasi makna. Pejabat bicara tanpa isi, iklan menciptakan kebutuhan palsu, dan berita memelintir realitas. Ironinya, ketika bahasa diperalat sedemikian rupa, solusi yang diambil dunia modern justru menghapus pelajaran bahasa itu sendiri, bukannya membenahinya.

 

Bayangan Penulis Tanpa Jiwa

Gaya bahasa Helvy yang mengalir dan lugas terasa makin menggigit saat ia membedah kehadiran AI sebagai “penulis ideal”. Dari kacamata psikoanalisis sastra, karya seni lahir dari pengalaman eksistensial manusia—dari trauma, luka, kelaparan, dan kesepian. Namun, mesin menawarkan simplifikasi: menulis kesepian tanpa pernah kesepian, merangkai belasungkawa tanpa mengenali kematian.

Helvy mendekonstruksi mitos efisiensi teknologi. Penulis ideal dalam kacamata positivisme modern adalah subjek yang “tidak punya tubuh, tidak punya sejarah, tidak punya luka, dan tidak pernah membantah atasannya.” Di sini, puisi mengkritik pengerdilan peran sastra dari medium emansipasi menjadi sekadar komoditas yang bisa dirangkum dalam tiga baris kata kunci.

 

Bahaya Bahasa Penundukan

BACA JUGA

Kunjungan PMB UM Bandung Diserbu Siswa, Antusiasme Peminat Terus Meningkat

Perlindungan Hukum Profesi Guru

Sri Sayekti Beberkan Praktik Baik Pelaksanaan Pendidikan Antikorupsi

Din Syamsuddin: Pemindahan Ibukota Negara adalah Bentuk Tirani Kekuasaan yang Harus Ditolak

Direkrut Cyrus Network & CSIS, 5 Mahasiswa UMMAD Lakukan Quick Count Pilpres dan Pileg DPR RI 2024

Jurnalisme Alam Raya

Puncak daya ledak puisi ini berada pada bagian penutup, yang sangat relevan dibaca melalui Teori Analisis Wacana Kritis (Michel Foucault). Foucault menegaskan bahwa bahasa adalah arena kekuasaan. Kekuasaan yang paling berbahaya tidak bekerja lewat kekerasan fisik, melainkan lewat manipulasi eufemisme dan kehalusan bahasa.

Ketika hak dikurangi, kekuasaan menamakannya “penyesuaian”. Ketika pemecatan massal terjadi, ia dibungkus dengan kata “efisiensi”. Tanpa pemahaman bahasa dan sastra yang mendalam, masyarakat—termasuk mahasiswa—menjadi buta wacana. Mereka mengangguk pada ketidakadilan hanya karena kalimatnya disusun dengan resmi dan tanpa cacat tata bahasa. Seperti teguran keras Helvy di akhir puisi: penipuan terbaik jarang datang dengan tata bahasa buruk.

Sastra, pada akhirnya, bukan soal menaikkan harga beras atau membayar UKT. Sastra adalah alat untuk melatih empati moral—kemampuan membayangkan penderitaan orang lain sebelum penderitaan itu mengetuk pintu rumah kita sendiri. Puisi ini mengingatkan kita bahwa jika pendidikan hanya melatih manusia menekan tombol dan menolak berpikir kritis, kita sedang berjalan menuju kebangkrutan jiwa, tempat di mana “kemanusiaan” barangkali hanya menjadi fitur premium yang harus dibeli. (*)

Tags: AIHelvy Tiana RosapuisiPuisi Mata Kuliah yang Tidak Bergunasastra
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

by Mujaddid
5 September 2026
5
Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

by Mujaddid
5 September 2026
8
Demokrasi yang Bau Bangkai
Nasional

Demokrasi yang Bau Bangkai

by Mujaddid
29 Agustus 2026
8
Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Esai

Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri

by Mujaddid
1 September 2026
18
Ramai Memuji Rasulullah, Sepi Meneladaninya
Islam

Ramai Memuji Rasulullah, Sepi Meneladaninya

by Mujaddid
1 September 2026
38
Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence
Nasional

Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence

by Mujaddid
16 Agustus 2026
29
Puisi-puisi Zahra Nur Alfiyah
Nasional

Puisi~puisi Zahra Nur Alfiyah (2)

by Mujaddid
14 Juli 2026
62
Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil
Esai

Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil

by Mujaddid
1 September 2026
16
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

by Mujaddid
28 Juni 2026
24
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

by Mujaddid
28 Juni 2026
18

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Pemuda Muhammadiyah Sumut Desak Investigasi Total Kebakaran PT Evyap di Sei Mangke
  • Muhammadiyah Telah Melayani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT
  • Lazismu Himpun Dana Bantuan Rp 6 Miliar untuk Korban Gempa NTT
  • Dosen UMJT Ingatkan Mitigasi Penyalahgunaan Kekuasaan dalam RUU Perampasan Aset
  • Dosen Ilmu Lingkungan UMJT Madiun: Efek Kebakaran Hutan Harus Diwaspadai
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM
Daerah

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah
Daerah

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.