Oleh: M. Risfan Sihaloho
📌 Mata Kuliah yang Tidak Berguna
Kami sepakat
bahasa tidak terlalu penting.
Toh semua orang sudah bisa bicara.Pejabat bisa bicara
berjam-jam
tanpa mengatakan apa-apa.Iklan bisa bicara
seolah barang yang tidak kita perlukan
adalah kebutuhan pokok.Berita bisa bicara
tentang kenyataan
sampai kenyataan sendiri
tak mengenali wajahnya.Jadi untuk apa
belajar bahasa?Kami juga sepakat
sastra tidak berguna.
Puisi tidak bisa
menurunkan harga beras.
Cerpen tidak sanggup
membayar uang kuliah.
Novel terlalu tebal
untuk dimasukkan
ke dalam dompet.Dan drama,
seperti kita tahu,
sudah dipentaskan setiap hari
tanpa perlu gedung kesenian.Maka kampus modern
harus praktis.Ajarkan mahasiswa
cara membuat presentasi
tanpa membaca buku.
Ajarkan mereka
menulis makalah
tanpa punya pikiran.
Ajarkan cara mengutip
tanpa memahami.
Ajarkan cara lulus
tanpa pernah bertemu
dengan sebuah pertanyaan
yang mengganggu tidur.Bukankah pendidikan
yang baik
adalah pendidikan
yang tidak merepotkan?Sekarang sudah ada mesin
yang bisa menulis.
Lebih cepat.
Lebih rapi.
Tidak meminta honor.
Tidak mengeluh
tentang tenggat waktu.Ia bahkan dapat membuat puisi
tentang kesepian
tanpa pernah kesepian.
Membuat cerita tentang kelaparan
tanpa pernah terlambat makan.
Menulis belasungkawa
tanpa mengenal orang yang mati.Luar biasa.
Akhirnya kita menemukan
penulis ideal.
Tidak punya tubuh.
Tidak punya sejarah.
Tidak punya luka.
Dan yang paling penting:
tidak pernah membantah atasannya.Karena itu
mahasiswa masa depan
tidak perlu terlalu pandai membaca.
Cukup pandai menekan tombol.
Tidak perlu memahami bahasa.
Cukup tahu kata sandi.
Tidak perlu mengenal sastra.
Cukup mengenal aplikasi
yang bisa merangkumnya
menjadi lima poin.Hamlet dapat selesai
dalam tujuh baris.
Pramoedya
dalam enam bullet point.
Chairil Anwar
cukup tiga kata kunci:
individualisme,
kematian,
aku.
Betapa hematnya kebudayaan.Lalu suatu hari
datang sebuah kebijakan
yang merugikan mereka.
Bahasanya sangat halus.Hak dikurangi
disebut penyesuaian.
Pekerja dipecat
disebut efisiensi.
Tanah diambil
disebut pembangunan.
Kritik dilarang
disebut menjaga ketertiban.
Mahasiswa membaca pengumuman itu.
Mereka mengangguk.
Bahasanya resmi.
Pasti benar.Saat itulah
barangkali kita baru ingat
mengapa bahasa perlu dipelajari:
sebab penipuan terbaik
jarang datang
dengan tata bahasa buruk.Dan mengapa sastra
perlu dibaca:
agar seseorang mampu membayangkan
penderitaan orang lain
sebelum penderitaan itu
mendapat giliran
menjadi miliknya.Tetapi tak perlu khawatir.
Kita masih punya teknologi.Jika suatu hari
kita kehilangan kemampuan berpikir,
mesin dapat membantu.
Jika kehilangan kemampuan merasa,
barangkali akan tersedia
versi premium.Dan jika akhirnya
kita kehilangan kemanusiaan,
mudah-mudahan
ada tombol
undo.
Sebuah satir yang ditulis dengan nada tenang sering kali merupakan bentuk kepedulian yang paling tajam. Puisi Mata Kuliah yang Tidak Berguna karya Helvy Tiana Rosa di atas hadir menampar kesadaran kita justru melalui ironi yang dibungkus kepasrahan semu. Di tengah euforia efisiensi, modernisasi kampus, dan kepungan kecerdasan buatan, puisi ini melontarkan pertanyaan mendasar: ketika kebudayaan dan pendidikan dikuras dari kemanusiaannya, apa yang tersisa dari kita?
Ironi dan Ironi Terbalik: Senjata Utama Satir
Secara struktural, puisi ini berdiri di atas fondasi ironi—teknik sastra di mana makna tersirat berbalas terbalik dengan apa yang tersurat.
Mari kita cermati Sejak bait pertama, penyair berpura-pura menyetujui pragmatisme zaman: bahwa bahasa dan sastra itu “tidak berguna” karena tidak menghasilkan beras atau uang kuliah.
Melalui teori satir dan fungsi bahasa, Helvy memperlihatkan bagaimana bahasa dalam kehidupan publik kerap mengalami depravasi makna. Pejabat bicara tanpa isi, iklan menciptakan kebutuhan palsu, dan berita memelintir realitas. Ironinya, ketika bahasa diperalat sedemikian rupa, solusi yang diambil dunia modern justru menghapus pelajaran bahasa itu sendiri, bukannya membenahinya.
Bayangan Penulis Tanpa Jiwa
Gaya bahasa Helvy yang mengalir dan lugas terasa makin menggigit saat ia membedah kehadiran AI sebagai “penulis ideal”. Dari kacamata psikoanalisis sastra, karya seni lahir dari pengalaman eksistensial manusia—dari trauma, luka, kelaparan, dan kesepian. Namun, mesin menawarkan simplifikasi: menulis kesepian tanpa pernah kesepian, merangkai belasungkawa tanpa mengenali kematian.
Helvy mendekonstruksi mitos efisiensi teknologi. Penulis ideal dalam kacamata positivisme modern adalah subjek yang “tidak punya tubuh, tidak punya sejarah, tidak punya luka, dan tidak pernah membantah atasannya.” Di sini, puisi mengkritik pengerdilan peran sastra dari medium emansipasi menjadi sekadar komoditas yang bisa dirangkum dalam tiga baris kata kunci.
Bahaya Bahasa Penundukan
Puncak daya ledak puisi ini berada pada bagian penutup, yang sangat relevan dibaca melalui Teori Analisis Wacana Kritis (Michel Foucault). Foucault menegaskan bahwa bahasa adalah arena kekuasaan. Kekuasaan yang paling berbahaya tidak bekerja lewat kekerasan fisik, melainkan lewat manipulasi eufemisme dan kehalusan bahasa.
Ketika hak dikurangi, kekuasaan menamakannya “penyesuaian”. Ketika pemecatan massal terjadi, ia dibungkus dengan kata “efisiensi”. Tanpa pemahaman bahasa dan sastra yang mendalam, masyarakat—termasuk mahasiswa—menjadi buta wacana. Mereka mengangguk pada ketidakadilan hanya karena kalimatnya disusun dengan resmi dan tanpa cacat tata bahasa. Seperti teguran keras Helvy di akhir puisi: penipuan terbaik jarang datang dengan tata bahasa buruk.
Sastra, pada akhirnya, bukan soal menaikkan harga beras atau membayar UKT. Sastra adalah alat untuk melatih empati moral—kemampuan membayangkan penderitaan orang lain sebelum penderitaan itu mengetuk pintu rumah kita sendiri. Puisi ini mengingatkan kita bahwa jika pendidikan hanya melatih manusia menekan tombol dan menolak berpikir kritis, kita sedang berjalan menuju kebangkrutan jiwa, tempat di mana “kemanusiaan” barangkali hanya menjadi fitur premium yang harus dibeli. (*)

















