Oleh: Heri Isnaini
Tahun 2000 menjadi awal perjalanan saya sebagai santri di Pesantren Al-Asy’ary, sebuah pesantren Nahdlatul Ulama di Kabupaten Purwakarta. Sebagai remaja yang baru meninggalkan rumah, saya membayangkan bahwa belajar di pesantren berarti menguasai kitab kuning, menghafal matan, memahami nahwu dan sharaf, atau mampu membaca teks Arab tanpa harakat. Dugaan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi saya baru menyadari kemudian bahwa pelajaran pertama di pesantren ternyata bukanlah ilmu, melainkan adab.
Sebelum diajari membaca kitab, kami diajari bagaimana duduk di hadapan kiai.
Sebelum berani menyampaikan pendapat, kami belajar menunggu giliran berbicara.
Sebelum sibuk mencari jawaban, kami diingatkan agar menjaga lisan, menghormati guru, dan tidak merasa paling tahu.
Di pesantren, ilmu tidak pernah dipisahkan dari akhlak. Pengetahuan tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama sikap hormat, kerendahan hati, dan tanggung jawab.
Dua puluh lima tahun kemudian, saya hidup di zaman yang sangat berbeda. Kini, Artificial Intelligence (AI) mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Seseorang dapat meminta AI menjelaskan teori, merangkum buku, menerjemahkan bahasa, menyusun presentasi, bahkan menulis artikel.
Sebagai dosen, saya juga memanfaatkan AI untuk mencari referensi, merapikan gagasan, atau mempercepat pekerjaan akademik. Saya tidak memusuhi teknologi.
Sebaliknya, saya melihat AI sebagai salah satu capaian besar peradaban manusia.
Namun, di balik kemudahan itu, saya sering bertanya, “Apakah semakin mudah memperoleh informasi berarti kita semakin bijaksana dalam menggunakan ilmu?” Pertanyaan itu muncul setiap kali saya mengajar. Tidak jarang saya menjumpai mahasiswa yang mampu menghasilkan makalah dengan bantuan AI, tetapi kesulitan menjelaskan isi makalahnya ketika diminta berdiskusi. Jawaban tertulis tampak rapi, tetapi ketika ditanya lebih jauh, argumennya mudah runtuh. Informasi memang tersedia, tetapi proses memahami belum tentu terjadi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan mampu mempercepat akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak otomatis membentuk kedewasaan berpikir. AI dapat menyediakan jawaban, tetapi tidak dapat menumbuhkan kesabaran untuk belajar.
AI dapat menyusun kalimat yang baik, tetapi tidak dapat menggantikan proses panjang yang membentuk kebijaksanaan seseorang.
Di sinilah saya kembali mengingat pelajaran-pelajaran sederhana yang saya peroleh di pesantren. Tradisi bandongan mengajarkan kami untuk mendengar dengan saksama. Sorogan melatih keberanian mempertanggungjawabkan bacaan di hadapan guru. Menghafal matan bukan sekadar melatih daya ingat, melainkan membiasakan disiplin dan ketekunan.
Musyawarah mengajarkan bahwa pendapat harus dibangun di atas argumentasi, bukan sekadar keberanian berbicara. Bahkan kegiatan khidmah (membantu kebutuhan pesantren dan melayani guru) mengandung pelajaran bahwa ilmu tumbuh bersama keikhlasan.
Semua itu membentuk cara berpikir yang mungkin tidak langsung terlihat dalam nilai rapor, tetapi terasa ketika seseorang menghadapi kehidupan.
Dalam tradisi Islam, adab bukan sekadar sopan santun. Adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adab mengajarkan bagaimana memperlakukan ilmu, bagaimana menghormati guru, bagaimana menggunakan pengetahuan untuk kemaslahatan, dan bagaimana menyadari bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada ruang untuk belajar.
Sebab itu, para ulama sejak dahulu menempatkan adab sebagai fondasi sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan. Kepandaian tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan. Pengetahuan yang tidak disertai tanggung jawab justru berpotensi mencelakakan banyak orang.
Pesan ini terasa semakin relevan pada era AI. Hari ini, hampir semua orang dapat menghasilkan tulisan, gambar, atau presentasi dengan bantuan teknologi. Namun, tidak semua orang memiliki kejujuran untuk mengakui sumber gagasannya. Tidak semua orang memiliki tanggung jawab untuk memverifikasi informasi yang dibagikan. Tidak semua orang menggunakan teknologi demi kemaslahatan.
Masalah terbesar kita bukanlah kecanggihan AI, melainkan kemungkinan hilangnya etika dalam memanfaatkan kecanggihan tersebut.
Sebagai dosen sastra, saya juga melihat tantangan lain. AI dapat meniru gaya bahasa, merangkai metafora, bahkan menghasilkan puisi yang tampak indah. Akan tetapi, sastra sejatinya tidak hanya lahir dari kemampuan menyusun kata-kata. Sastra lahir dari pengalaman manusia: dari kehilangan, kerinduan, kegagalan, harapan, pertobatan, dan pergulatan batin. AI dapat mengenali pola bahasa, tetapi ia tidak mengalami hidup sebagaimana manusia mengalaminya.
Begitu pula dalam kehidupan beragama. AI mungkin mampu menjelaskan hukum fikih, mengutip ayat, atau menyajikan berbagai pendapat ulama. Namun, AI tidak memiliki niat, tidak mengenal keikhlasan, dan tidak memikul tanggung jawab moral. Semua itu tetap menjadi wilayah manusia.
Sebab itulah, saya tidak melihat hubungan antara pesantren dan AI sebagai pertentangan. Pesantren tidak perlu takut kepada teknologi. Sebaliknya, teknologi juga tidak perlu diposisikan sebagai ancaman bagi tradisi keilmuan Islam. Yang kita perlukan adalah menjadikan adab sebagai kompas dalam menggunakan teknologi.
Jika AI membantu kita bekerja lebih cepat, adab mengingatkan agar kita tidak mengabaikan kejujuran.
Jika AI memudahkan kita memperoleh informasi, adab mengingatkan agar kita tetap rendah hati.
Jika AI membuka akses terhadap berbagai pengetahuan, adab mengajarkan agar pengetahuan itu digunakan untuk menghadirkan manfaat, bukan sekadar mengejar pengakuan.
Saya bersyukur pernah menjadi santri. Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa belajar bukan hanya soal mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk hati agar mampu memperlakukan ilmu dengan benar.
Kampus mengajarkan saya cara berpikir secara akademik, sementara pesantren mengajarkan mengapa ilmu harus dijaga kehormatannya.
Di tengah derasnya perkembangan Artificial Intelligence, pelajaran itu terasa semakin berharga. Sebab, kecerdasan buatan mungkin akan terus berkembang, bahkan melampaui banyak kemampuan manusia dalam mengolah data. Akan tetapi, tidak ada teknologi yang dapat menggantikan adab sebagai penuntun ilmu.
Barangkali, inilah pelajaran paling penting yang diwariskan pesantren kepada kita: sebelum menjadi manusia yang cerdas, belajarlah terlebih dahulu menjadi manusia yang beradab. Sebab, kecerdasan tanpa adab hanya akan melahirkan kecepatan. Sebaliknya, kecerdasan yang dipandu adab akan melahirkan kemaslahatan. (*)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.

















