No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence

16 Agustus 2026
in Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter
Oleh: Heri Isnaini

Tahun 2000 menjadi awal perjalanan saya sebagai santri di Pesantren Al-Asy’ary, sebuah pesantren Nahdlatul Ulama di Kabupaten Purwakarta. Sebagai remaja yang baru meninggalkan rumah, saya membayangkan bahwa belajar di pesantren berarti menguasai kitab kuning, menghafal matan, memahami nahwu dan sharaf, atau mampu membaca teks Arab tanpa harakat. Dugaan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi saya baru menyadari kemudian bahwa pelajaran pertama di pesantren ternyata bukanlah ilmu, melainkan adab.

Sebelum diajari membaca kitab, kami diajari bagaimana duduk di hadapan kiai.

Sebelum berani menyampaikan pendapat, kami belajar menunggu giliran berbicara.

Sebelum sibuk mencari jawaban, kami diingatkan agar menjaga lisan, menghormati guru, dan tidak merasa paling tahu.

Di pesantren, ilmu tidak pernah dipisahkan dari akhlak. Pengetahuan tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama sikap hormat, kerendahan hati, dan tanggung jawab.

Dua puluh lima tahun kemudian, saya hidup di zaman yang sangat berbeda. Kini, Artificial Intelligence (AI) mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Seseorang dapat meminta AI menjelaskan teori, merangkum buku, menerjemahkan bahasa, menyusun presentasi, bahkan menulis artikel.

Sebagai dosen, saya juga memanfaatkan AI untuk mencari referensi, merapikan gagasan, atau mempercepat pekerjaan akademik. Saya tidak memusuhi teknologi.

Sebaliknya, saya melihat AI sebagai salah satu capaian besar peradaban manusia.

Namun, di balik kemudahan itu, saya sering bertanya, “Apakah semakin mudah memperoleh informasi berarti kita semakin bijaksana dalam menggunakan ilmu?” Pertanyaan itu muncul setiap kali saya mengajar. Tidak jarang saya menjumpai mahasiswa yang mampu menghasilkan makalah dengan bantuan AI, tetapi kesulitan menjelaskan isi makalahnya ketika diminta berdiskusi. Jawaban tertulis tampak rapi, tetapi ketika ditanya lebih jauh, argumennya mudah runtuh. Informasi memang tersedia, tetapi proses memahami belum tentu terjadi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan mampu mempercepat akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak otomatis membentuk kedewasaan berpikir. AI dapat menyediakan jawaban, tetapi tidak dapat menumbuhkan kesabaran untuk belajar.

AI dapat menyusun kalimat yang baik, tetapi tidak dapat menggantikan proses panjang yang membentuk kebijaksanaan seseorang.

Di sinilah saya kembali mengingat pelajaran-pelajaran sederhana yang saya peroleh di pesantren. Tradisi bandongan mengajarkan kami untuk mendengar dengan saksama. Sorogan melatih keberanian mempertanggungjawabkan bacaan di hadapan guru. Menghafal matan bukan sekadar melatih daya ingat, melainkan membiasakan disiplin dan ketekunan.

Musyawarah mengajarkan bahwa pendapat harus dibangun di atas argumentasi, bukan sekadar keberanian berbicara. Bahkan kegiatan khidmah (membantu kebutuhan pesantren dan melayani guru) mengandung pelajaran bahwa ilmu tumbuh bersama keikhlasan.

Semua itu membentuk cara berpikir yang mungkin tidak langsung terlihat dalam nilai rapor, tetapi terasa ketika seseorang menghadapi kehidupan.

BACA JUGA

Otto Hasibuan Digugat terkait Perpanjangan Jabatan Ketum DPN Peradi

Muhammadiyah dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia

Muhammadiyah Desak Pemerintah Jadikan Bencana Ekologi Sumatera sebagai Bencana Nasional

Said Didu: Menurut Aturan BPJS Kesehatan Tidak Boleh Ngutang

Polemik Usulan HRS jadi Juru Damai Papua, Ini Kata Shohibul

Mulai Senin, Buruh Jabar Aksi Besar-Besaran Selama 3 Hari Berturut-Turut

Dalam tradisi Islam, adab bukan sekadar sopan santun. Adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adab mengajarkan bagaimana memperlakukan ilmu, bagaimana menghormati guru, bagaimana menggunakan pengetahuan untuk kemaslahatan, dan bagaimana menyadari bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada ruang untuk belajar.

Sebab itu, para ulama sejak dahulu menempatkan adab sebagai fondasi sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan. Kepandaian tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan. Pengetahuan yang tidak disertai tanggung jawab justru berpotensi mencelakakan banyak orang.

Pesan ini terasa semakin relevan pada era AI. Hari ini, hampir semua orang dapat menghasilkan tulisan, gambar, atau presentasi dengan bantuan teknologi. Namun, tidak semua orang memiliki kejujuran untuk mengakui sumber gagasannya. Tidak semua orang memiliki tanggung jawab untuk memverifikasi informasi yang dibagikan. Tidak semua orang menggunakan teknologi demi kemaslahatan.

Masalah terbesar kita bukanlah kecanggihan AI, melainkan kemungkinan hilangnya etika dalam memanfaatkan kecanggihan tersebut.

Sebagai dosen sastra, saya juga melihat tantangan lain. AI dapat meniru gaya bahasa, merangkai metafora, bahkan menghasilkan puisi yang tampak indah. Akan tetapi, sastra sejatinya tidak hanya lahir dari kemampuan menyusun kata-kata. Sastra lahir dari pengalaman manusia: dari kehilangan, kerinduan, kegagalan, harapan, pertobatan, dan pergulatan batin. AI dapat mengenali pola bahasa, tetapi ia tidak mengalami hidup sebagaimana manusia mengalaminya.

Begitu pula dalam kehidupan beragama. AI mungkin mampu menjelaskan hukum fikih, mengutip ayat, atau menyajikan berbagai pendapat ulama. Namun, AI tidak memiliki niat, tidak mengenal keikhlasan, dan tidak memikul tanggung jawab moral. Semua itu tetap menjadi wilayah manusia.

Sebab itulah, saya tidak melihat hubungan antara pesantren dan AI sebagai pertentangan. Pesantren tidak perlu takut kepada teknologi. Sebaliknya, teknologi juga tidak perlu diposisikan sebagai ancaman bagi tradisi keilmuan Islam. Yang kita perlukan adalah menjadikan adab sebagai kompas dalam menggunakan teknologi.

Jika AI membantu kita bekerja lebih cepat, adab mengingatkan agar kita tidak mengabaikan kejujuran.

Jika AI memudahkan kita memperoleh informasi, adab mengingatkan agar kita tetap rendah hati.

Jika AI membuka akses terhadap berbagai pengetahuan, adab mengajarkan agar pengetahuan itu digunakan untuk menghadirkan manfaat, bukan sekadar mengejar pengakuan.

Saya bersyukur pernah menjadi santri. Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa belajar bukan hanya soal mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk hati agar mampu memperlakukan ilmu dengan benar.

Kampus mengajarkan saya cara berpikir secara akademik, sementara pesantren mengajarkan mengapa ilmu harus dijaga kehormatannya.

Di tengah derasnya perkembangan Artificial Intelligence, pelajaran itu terasa semakin berharga. Sebab, kecerdasan buatan mungkin akan terus berkembang, bahkan melampaui banyak kemampuan manusia dalam mengolah data. Akan tetapi, tidak ada teknologi yang dapat menggantikan adab sebagai penuntun ilmu.

Barangkali, inilah pelajaran paling penting yang diwariskan pesantren kepada kita: sebelum menjadi manusia yang cerdas, belajarlah terlebih dahulu menjadi manusia yang beradab. Sebab, kecerdasan tanpa adab hanya akan melahirkan kecepatan. Sebaliknya, kecerdasan yang dipandu adab akan melahirkan kemaslahatan. (*)

 

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.

Tags: AdabAIArtificial IntellegenceHeri Isnainiilmu
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

by Mujaddid
5 September 2026
18
Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

by Mujaddid
5 September 2026
13
Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Esai

Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri

by Mujaddid
1 September 2026
20
Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati
Esai

Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati

by Mujaddid
1 September 2026
26
Pesantren Tidak Pernah Kekurangan Teori
Islam

Pesantren Tidak Pernah Kekurangan Teori

by Mujaddid
27 Juli 2026
21
Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil
Esai

Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil

by Mujaddid
1 September 2026
16
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

by Mujaddid
28 Juni 2026
25
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

by Mujaddid
28 Juni 2026
19
Penyiksaan oleh Aparat TNI-Polri di Sumut Ancam Demokrasi dan Hak Asasi Warga
Internasional

Kesaksian Akademisi: AI Menipu Saya, Jangan Percaya Buta!

by Mujaddid
14 Juni 2026
71
Dari Lupus hingga Enny Arrow: Bacaan-bacaan yang Membesarkan Generasi 1990-an
Nasional

Dari Lupus hingga Enny Arrow: Bacaan-bacaan yang Membesarkan Generasi 1990-an

by Mujaddid
8 Juni 2026
39

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Tindaklanjut MoU, BWI Simalungun Targetkan 241 Sertifikat Tanah Wakaf
  • Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
Daerah

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.