Oleh: Shihab Wicaksono Ardhi, M.Ag.
Anggota KMM, PDM Banyumas
Dunia adalah tempat di mana manusia selalu terdorong untuk mendapatkan sesuatu. Manusia yang memiliki tabiat ingin memiliki, akan selalu berusaha meraih apa yang diinginkan. Hal tersebut terjadi karena kehidupan dunia adalah kehidupan yang selalu diliputi oleh nikmat yang terkadang membuat manusia terlena hingga terperosok ke dalam jurang kezaliman. Zalim di sini ialah rela melakukan segala hal, termasuk yang haram demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Allah berfirman,
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ اِنَّ اِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰىۗ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, ketika melihat dirinya serba berkecukupan. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali.” (QS. Al-Alaq: 6-8).
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa di dalam ayat tersebut, Allah memberitahukan tentang karakter manusia. Bahwa ia merupakan makhluk yang bisa senang, jahat, sombong, dan sewenang-wenang jika ia merasa cukup dan memiliki harta yang banyak.
Maka tidak heran jika kebanyakan manusia yang serakah dan sewenang-wenang adalah mereka yang memiliki kelebihan dalam banyak hal, di antaranya harta dan juga jabatan.
Orang yang hatinya sudah diliputi oleh keserakahan dan kesombongan maka akan berpotensi pada perilaku dusta. Dusta di sini bukan hanya tentang perkataan yang tidak sesuai dengan kebenaran, namun juga perbuatan yang jauh dari kebenaran.
Dusta dalam Perkataan
Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, 1887. as-Syamilah).
Ketika manusia terbiasa berkata dusta, maka ia akan enggan menyampaikan kebenaran. Dan jika manusia sudah enggan menyampaikan kebenaran, maka ia akan menjadi seorang penghianat. Ketika manusia sudah menjadi penghianat, maka kebodohan akan meliputinya.
Jika kita melihat fenomena pada hari ini, berapa banyak para pemimpin bangsa, tokoh masyarakat, yang sudah terjerumus dalam kebodohan. Mereka berbondong-bondong mengumbar kedustaan di antara manusia hanya demi meraih apa yang menjadi keinginan duniawi mereka, yaitu harta, jabatan, dan popularitas.
Banyak orang rela menggadaikan keimanan dan agama mereka hanya demi meraih apa yang diinginkan oleh nafsunya. Maka seketika itulah mereka mengkhianati Tuhannya. Ketika manusia sudah masuk pada jebakan penghianatan yang dibuat oleh dirinya sendiri, maka Allah akan meliputinya dengan kebodohan. Tidak peduli seberapa pintar mereka, setinggi apa jabatannya, dan sepanjang apa gelarnya, mereka adalah orang yang tidak lagi memiliki nilai di sisi Allah.
Dusta dalam Perbuatan
Allah berfirman:
وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14).
Imam Ibnu Katsir menyebutkan tentang makna ayat ini, yaitu apabila orang-orang munafik itu bertemu dengan orang-orang mukmin mereka berkata, (Kami telah beriman) maksudnya yaitu mereka menampakkan keimanan, janji dan kecintaan mereka kepada orang-orang mukmin dengan penuh kemunafikan, kepura-puraan dan untuk menghindar, serta agar mereka bisa ikut mengambil bagian dari kebaikan dan harta rampasan yang diperoleh oleh orang-orang mukmin.
Bentuk kedustaan amal atau perbuatan adalah ketidaksesuaian antara maksud hati dan perbuatan. Perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak hati akan mengarahkan manusia pada kemunafikan. Dan kemunafikan akan mengarahkan manusia pada kesesatan.
Berapa banyak manusia yang menggunakan tipu daya mereka untuk meraih keinginan hawa nafsu. Padahal tanpa disadari, kemunafikan hati dan perbuatan akan membuat manusia menjadi hina di sisi Allah.
Kita sebagai manusia yang beriman sangat perlu sekali untuk memerhatikan setiap perbuatan dan amal yang kita lakukan. Memastikan apa yang muncul dalam hati adalah kebenaran yang nyata, tanpa ada dorongan iri, dengki, dan sombong yang sering kali membuat amalan kita melenceng jauh dari kebenaran. (*)










