Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Saya bukan termasuk orang yang suka bergadang untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, termasuk Piala Dunia. Bukan karena tidak suka sepakbola, tetapi mungkin karena sepakbola belum cukup kuat untuk membuat saya rela mengorbankan waktu tidur.
Namun, ada tiga final Piala Dunia yang pernah saya saksikan secara langsung melalui televisi.
Pertama, final Piala Dunia 1998 yang mempertemukan Prancis dan Brasil. Saat itu kami sedang mengikuti pengkaderan Mubaligh Muhammadiyah di Jalan Demak, Medan. Saya lupa di rumah siapa kami menonton pertandingan tersebut. Yang saya ingat, kami duduk bersama menyaksikan siaran langsung final Piala Dunia. Prancis akhirnya menang telak 3-0 atas Brasil.
Kini, setelah hampir tiga dekade berlalu, yang saya ingat bukan hanya hasil pertandingan. Ada suasana pengkaderan, kebersamaan, teman-teman, dan sebuah masa yang kini telah menjadi kenangan. Sebuah pertandingan sepakbola ternyata bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Final kedua yang saya saksikan adalah Piala Dunia 2006. Saat itu Prancis berhadapan dengan Italia. Saya menontonnya sendirian di rumah. Pertandingan berlangsung dramatis dan Italia akhirnya menjadi juara melalui adu penalti.
Namun, yang paling diingat dari pertandingan itu tentu saja adalah peristiwa antara Zinedine Zidane dan Marco Materazzi. Zidane menanduk Materazzi, mendapat kartu merah, dan harus meninggalkan lapangan. Ironisnya, pertandingan itu merupakan laga terakhir Zidane sebagai pemain sepakbola. Seorang pemain besar mengakhiri kariernya dengan sebuah adegan yang sampai hari ini tetap dikenang.
Final ketiga yang saya saksikan secara langsung melalui televisi adalah Piala Dunia 2018. Lagi-lagi Prancis tampil di final, kali ini menghadapi Kroasia.
Waktu itu kami sedang dalam perjalanan dari Padang Lawas Utara menuju Medan. Ketika sampai di SPBU Gunung Tua, kami berhenti untuk mengisi bensin. Sambil menunggu, kami ikut menyaksikan siaran langsung final Piala Dunia melalui televisi yang ada di sana. Prancis akhirnya menang 4-2 atas Kroasia.
Menariknya, tiga final Piala Dunia yang pernah saya saksikan itu memiliki suasana yang berbeda. Tahun 1998 saya menontonnya di sela-sela pengkaderan Mubaligh Muhammadiyah di Medan. Tahun 2006 saya menyaksikannya sendirian di rumah. Sementara tahun 2018, saya menonton final Piala Dunia di sebuah SPBU, ketika sedang dalam perjalanan menuju Medan.
Mungkin begitulah cara kenangan bekerja. Kita tidak selalu sedang berusaha menciptakan kenangan. Kadang-kadang kita hanya menjalani sebuah peristiwa biasa. Namun, bertahun-tahun kemudian, peristiwa itu justru menjadi sesuatu yang kita ingat.
Selebihnya, saya lebih sering menyaksikan siaran tunda, membaca berita olahraga, atau sekadar mengikuti hasil pertandingan. Saya bukan orang yang rela bergadang untuk menyaksikan semua pertandingan Piala Dunia.
Namun, mungkin ceritanya akan berbeda jika Indonesia menjadi salah satu peserta Piala Dunia.
Bisa jadi saya akan ikut bergadang. Bahkan mungkin bukan hanya saya. Banyak orang yang selama ini tidak terlalu menyukai sepakbola pun akan rela mengurangi waktu tidurnya untuk menyaksikan kesebelasan Garuda bertanding.
Sebab, ketika yang bermain adalah negara sendiri, sepakbola tidak lagi sekadar sepakbola. Ia menjadi kebanggaan, harapan, dan percakapan sebuah bangsa.
Orang-orang yang biasanya tidak hafal nama pemain akan mulai mengenal para pemain Tim Nasional. Mereka yang tidak terlalu memahami sepakbola akan ikut membicarakan strategi dan peluang kemenangan. Rumah-rumah, warung kopi, kantor, dan berbagai tempat akan dipenuhi percakapan tentang Garuda.
Ketika Indonesia bermain, yang bertanding bukan hanya sebelas pemain di lapangan. Ada jutaan hati yang ikut berlari dan jutaan doa yang ikut melayang.
Selama ini kita terlalu sering menjadi penonton. Kita memilih negara mana yang akan didukung, mengagumi pemain-pemain dari negara lain, dan ikut bergembira ketika mereka menjadi juara.
Saya pun demikian.
Tetapi tentu ada harapan yang lebih besar: kapan Indonesia bisa masuk Piala Dunia? Kapan kita tidak lagi hanya menjadi pendukung negara lain? Kapan kita bisa menyaksikan Garuda bertanding di panggung sepakbola terbesar dunia?
Saya kira, jika suatu hari Indonesia benar-benar tampil di Piala Dunia, banyak orang yang selama ini tidak pernah bergadang menyaksikan sepakbola akan rela menahan kantuk.
Saya pun mungkin akan demikian.
Bukan karena sepakbola tiba-tiba menjadi lebih menarik, tetapi karena untuk pertama kalinya, yang sedang bermain di lapangan adalah Indonesia.
Sebab ketika lagu Indonesia Raya berkumandang di stadion Piala Dunia, kita tidak sedang menyaksikan pertandingan biasa. Kita sedang menyaksikan impian sebuah bangsa.
Indonesia bukan hanya menjadi penonton. Indonesia hadir. Indonesia bertanding. Indonesia membawa nama bangsa.
Semoga suatu hari nanti. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

