No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Sosiolog Soroti Universitas Republik Indonesia: “Institusi Pendidikan atau Reproduksi Elit Kekuasaan?”

24 Juli 2026
in Nasional
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Shohibul Anshor Siregar.

Shohibul Anshor Siregar.

Share on Facebook
Share on Twitter

TAJDID.ID~Medan || Pelantikan Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto sebagai Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI) dan Prof. Yos Sunitiyoso sebagai Wakil Gubernur oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Rabu (22/7), menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi.

Shohibul Anshor Siregar, sosiolog dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FISIP UMSU), menilai pembentukan URI berpotensi menjadi instrumen reproduksi elit kekuasaan alih-alih penguatan pendidikan nasional.

“Pertanyaan kritisnya bukan pada niat mencetak pemimpin masa depan, tetapi pada logika kelembagaan yang dihadirkan. Ketika sebuah universitas dibentuk di bawah kendali langsung eksekutif—bukan di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi—kita sedang menyaksikan upaya mengonsolidasikan kekuasaan melalui jalur pendidikan,” ujar Shohibul kepada wartawan di Medan, Kamis (23/7).

 

“Reproduksi Elit” ala Bourdieu

Mengacu pada teori sosiolog Prancis Pierre Bourdieu, Shohibul menjelaskan bahwa sistem pendidikan kerap menjadi arena reproduksi kultural yang melanggengkan dominasi kelas penguasa.

“Gelar dari URI akan menjadi symbolic capital—tanda pembeda antara ‘orang dalam’ dan ‘orang luar’. Lulusannya membawa stempel legitimasi negara, sementara lulusan universitas lain—meskipun lebih kompeten—akan dipandang sebagai kelas dua. Ini bukan meritokrasi, ini sertifikasi ideologis dari pusat kekuasaan,” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa konsep URI yang terinspirasi dari Institut National du Service Public (INSP) di Prancis—sebelumnya École Nationale d’Administration (ENA)—tidak otomatis cocok dengan konteks Indonesia. “ENA di Prancis lahir dalam tradisi republikan yang kuat dengan mekanisme checks and balances yang mapan. Tanpa itu, institusi serupa di Indonesia berisiko menjadi mesin hegemoni ketimbang pabrik pemimpin berkualitas,” ujarnya.

 

“Menutup Akses bagi Kelas Bawah”

Shohibul juga mengingatkan potensi reproduksi ketimpangan struktural dari kebijakan ini. Menurutnya, akses masuk URI kemungkinan besar akan dikuasai oleh mereka yang sudah memiliki tiga modal sekaligus: modal sosial (jaringan kekuasaan), modal ekonomi (biaya hidup dan akses ke pusat), serta modal kultural (gaya dan perilaku elit).

“Anak-anak dari desa terpencil di Papua, NTT, atau Kalimantan—meskipun cerdas dan berprestasi—secara struktural akan tersisih. Mereka tidak punya akses ke informasi, tidak punya koneksi ke istana. Sistem ini menciptakan nepotisme terlembagakan, di mana meritokrasi hanyalah kedok,” tegasnya.

Padahal, lanjutnya, pendidikan seharusnya menjadi leveller—pemerata sosial. “Negara mengklaim ingin mencetak pemimpin yang melayani rakyat, tetapi justru membangun sistem yang menjauhkan rakyat dari kursi kepemimpinan,” ucapnya.

 

Kritik atas Penggunaan APBN dan Rencana 10 Kampus

Pemerintah berencana membangun 10 kampus URI di berbagai wilayah Indonesia dengan menggunakan dana APBN. Lahan pertama telah disiapkan di Cikasungka, Bogor Utara, bekas perkebunan sawit milik PTPN yang akan dialihfungsikan.

Shohibul mempertanyakan urgensi dan efisiensi anggaran tersebut. “Di tengah keterbatasan APBN untuk pendidikan dasar dan kesehatan, membangun institusi eksklusif untuk segelintir calon pejabat adalah prioritas yang salah. Ini bukan investasi sumber daya manusia, ini investasi politik jangka panjang untuk mengamankan loyalitas birokrasi,” kritiknya.

Ia juga menyoroti bahwa Gubernur URI Donny Ermawan masih merangkap jabatan sebagai Wakil Menteri Pertahanan. “Ini menunjukkan tumpang tindih kepentingan. Seorang pejabat yang masih aktif di kabinet merangkap sebagai pimpinan lembaga pendidikan. Di mana batas antara kepentingan negara dan kepentingan politik praktis?” tanyanya sinis.

 

“Pendidikan sebagai Medan Pertempuran Ideologi”

BACA JUGA

Universitas Kelas Akhirat

Pemuda Muhammadiyah Sulut Kutuk Perusakan Musala di Minahasa Utara

Refly Harun Mengendus Akan Ada Skenario Jahat Demokrasi di 2024

Perkuat Komitmen Menyukseskan Muktamar ke-49, PCM Teladan Medan Siapkan Akomodasi dan Revitalisasi Fasilitas

Muhammadiyah dan UMSU Anugerahi Gelar Kehormatan kepada Raja Muda Perlis

Wacana Poros Keempat, Shohibul: Tergantung Keberanian Elit Parpol

Menurut Shohibul, pembentukan URI mencerminkan apa yang oleh filsuf Italia Antonio Gramsci disebut sebagai hegemoni—negara membangun konsensus melalui institusi budaya dan pendidikan, bukan sekadar melalui kekerasan.

“Ini adalah totalitarianisme lembut: negara tidak lagi sekadar mengatur, tetapi mendikte cara berpikir calon petingginya sejak bangku kuliah. Mahasiswa URI akan diajari untuk patuh, bukan bertanya; untuk memuja kekuasaan, bukan mengkritiknya. Ini bunuh diri bagi demokrasi,” pungkasnya.

 

Tanggapan Pemerintah

Sebelumnya, Donny Ermawan menjelaskan bahwa URI dibentuk untuk mengintegrasikan berbagai lembaga pendidikan, mulai dari Sekolah Unggulan Garuda, perguruan tinggi, hingga Lembaga Administrasi Negara (LAN), dalam satu payung Badan Pengelola Pendidikan Kebangsaan.

“Presiden sangat concern dengan sumber daya manusia, terutama pemimpin Indonesia di masa depan. Beliau ingin mengonsolidasikan, mengintegrasikan beberapa pendidikan yang sudah ada,” kata Donny usai pelantikan.

Saat ini URI telah menjalankan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) yang membina 399 pegawai baru BUMN. Pemerintah juga menargetkan pembangunan 10 kampus URI dan perluasan fungsi LAN tidak hanya untuk ASN tetapi juga pegawai BUMN. (MRS)

Tags: shohibul anshor siregarUniversitas Republik IndonesiaURI
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas
Daerah

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas

by Mujaddid
28 Juli 2026
27
URI itu apa sih? Mencetak Negarawan atau Sekadar Elit Baru?
Nasional

URI itu apa sih? Mencetak Negarawan atau Sekadar Elit Baru?

by Mujaddid
28 Juli 2026
33
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”
Nasional

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

by Mujaddid
19 Juli 2026
37
Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”
Esai

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

by Mujaddid
3 Agustus 2026
27
Penyiksaan oleh Aparat TNI-Polri di Sumut Ancam Demokrasi dan Hak Asasi Warga
Internasional

Kesaksian Akademisi: AI Menipu Saya, Jangan Percaya Buta!

by Mujaddid
14 Juni 2026
71
Akademisi ini Paparkan Peta Pilpres 2024 di Sumatera Utara
Nasional

Rupiah Sekarat Bertengkar dengan Siapa? Ini Jawaban Menohok Akademisi

by Mujaddid
12 Juni 2026
91
Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman
Nasional

Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman

by Mujaddid
9 Juni 2026
58
Cegah Kriminalitas, Shohibul: Muhammadiyah Perlu Tentukan Prioritas Orientasi Dakwahnya
Daerah

LHKP Muhammadiyah Sumut Desak Pemerintah Hentikan Personifikasi Kurban APBN

by Mujaddid
28 Mei 2026
158
Pakar Sentil KPK Soal Usulan E-Voting Pemilu: Jangan Bicara di Luar Domain Tugas!
Nasional

Pakar Sentil KPK Soal Usulan E-Voting Pemilu: Jangan Bicara di Luar Domain Tugas!

by Mujaddid
9 Mei 2026
52
Magnet Investor, Tanah yang Menghilang
Daerah

Magnet Investor, Tanah yang Menghilang

by Mujaddid
1 April 2026
45

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Hari Radio Nasional, Fajar Junaedi: Industri Radio Perlu Adaptasi Multiplatform
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.