TAJDID.ID~Surabaya 🔳 Penulisan sejarah bukan sekadar kumpulan teks, melainkan pilar utama peradaban yang berfungsi sebagai pelajaran sekaligus inspirasi bagi dinamika masa depan. Menyadari pentingnya hal tersebut, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar program sinergi bertajuk “Sang Maestro: Jatim Historical Leadership Program 2026”.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu hingga Ahad (4-5/7/2026) di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Pucang Surabaya ini diinisiasi oleh Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSI) bersama Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi (MPID) PWM Jawa Timur. Program ini bertujuan untuk menggali dan mendokumentasikan peran tokoh-tokoh Muhammadiyah di tingkat akar rumput (Daerah, Cabang, dan Ranting) yang telah berkontribusi besar bagi dakwah dan kemanusiaan.
Sekretaris MPID PDM Surabaya sekaligus panitia acara, Mifta, menjelaskan bahwa para peserta yang hadir merupakan hasil seleksi ketat. Penyeleksian ini dilakukan untuk mengukur kompetensi mereka dalam menuliskan sejarah lokal.
“Banyak kader kita di daerah yang pengorbanannya sangat besar demi suksesnya dakwah Muhammadiyah. Melalui program ini, kita ingin melatih kompetensi penulisan para peserta agar sejarah mereka tidak hilang,” ujar Mifta di sela-sela kegiatan.
Napak Tilas Historis di Kampung Peneleh
Untuk membekali peserta, panitia menghadirkan sejarawan berkompeten seperti Prof. Dr. Sarkawi dan Prof. Dr. Purnawan Basundoro. Tidak hanya menerima teori di dalam kelas, para peserta juga diajak melakukan studi lapangan ke rumah HOS Tjokroaminoto dan Toko Buku Peneleh milik Abd. Latief Zein di kawasan bersejarah Kampung Peneleh, Surabaya.
Di lokasi tersebut, peserta mempraktikkan langsung metode wawancara dan penggalian data. Meski cuaca Surabaya siang itu menyengat, antusiasme peserta tidak surut saat mengeksplorasi situs sejarah dipandu oleh pemandu lokal.
Ketua MPID PDM Surabaya, Andi Hariyadi, yang juga menjadi peserta dalam kegiatan tersebut, menjelaskan nilai historis tinggi dari kawasan Peneleh. Menurutnya, rumah Abd. Latief Zein menjadi saksi pertemuan penting antara KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, dan Soekarno muda.
“Kedatangan KH Ahmad Dahlan dari Yogyakarta ke Surabaya benar-benar memengaruhi cara berpikir dan wawasan Soekarno muda. Beliau bahkan aktif mengikuti tabligh yang diadakan pendiri Muhammadiyah tersebut di Surabaya,” jelas Andi.
Metodologi dan Prinsip Penulisan Biografi
Usai melakukan napak tilas, peserta kembali ke Smamda Surabaya untuk menerima materi metodologi penelitian sejarah dari Prof. Dr. Sarkawi. Ia menekankan pentingnya tahapan konseptualisasi objek, pengumpulan data, evaluasi kualitas bukti, hingga komparasi dengan sumber lain sebelum masuk ke tahap penulisan.
Malam harinya, para peserta langsung dipandu untuk merefleksikan hasil kunjungan lapangan dan menentukan tokoh lokal dari daerah masing-masing yang akan ditulis. Kegiatan yang berlangsung padat hingga pukul 22.00 WIB ini dilanjutkan keesokan harinya sejak pukul 03.00 WIB dengan ibadah malam, kultum, olahraga, serta presentasi kajian Fathul Qulub.
Pada sesi terakhir, Prof. Dr. Purnawan Basundoro memaparkan prinsip-prinsip penting dalam menulis biografi tokoh Muhammadiyah. “Penulisan biografi harus mengedepankan keteladanan, menulis apa adanya sesuai fakta yang dialami, tidak mengultuskan tokoh, menonjolkan pengaruhnya di masyarakat, dan menggunakan bahasa yang baik,” paparnya.
Rencana Tindak Lanjut
Gelaran Jatim Historical Leadership Program 2026 resmi ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut agar proyek penulisan biografi tokoh lokal ini dapat segera rampung.
Sebagai stimulus dan bentuk apresiasi, panitia membagikan buku karangan Muhammadiyah Surabaya yang berjudul “Jejak Langkah Tokoh Muhammadiyah Surabaya: Meneladani Kiprah dan Dakwah 1921 – 2025” kepada para narasumber dan peserta. Buku tersebut diharapkan mampu melecut semangat para kader untuk terus berkarya dan berdakwah lewat tulisan. (*)
Kontributor: Andi Hariyadi















