Oleh: M. Risfan Sihaloho
Filsuf berdarah Korea-Jerman, Byung-Chul Han, dalam bukunya The Palliative Society: Pain Today, melempar sebuah kritik dingin yang menampar wajah peradaban modern. Ia mendiagnosis dunia hari ini sedang mengidap algophobia, yakni ketakutan akut pada rasa sakit. Demi menghindari rasa sakit, masyarakat modern bersedia menyuntikkan obat bius ke dalam kepala mereka sendiri, menciptakan sebuah tatanan bernama “Masyarakat Paliatif” (Palliative Society), yakni sebuah masyarakat yang sibuk meredakan gejala penyakit, tanpa pernah berani menyembuhkan akar boroknya.
Jika Han hari ini diajak ngopi di trotoar Jakarta atau di kota besar lainnya, ia mungkin akan tersenyum kecut melihat Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia hari ini adalah laboratorium eksperimen terbaik untuk teorinya. Kita sedang bertransformasi menjadi sebuah Republik Paliatif, sebuah negara yang dikelola layaknya pasien stadium akhir: tidak disembuhkan, yang penting tidak mengeluh sakit, hingga jadwal pemilu berikutnya tiba.
Politik: Konsensus Semu dan Matinya Oposisi
Mari kita fokus menilik lanskap politik hari ini. Han menulis bahwa politik paliatif adalah politik yang kehilangan keberanian untuk berkonfrontasi karena takut pada “rasa sakit” konflik. Di Indonesia, ketakutan ini dibungkus dengan eufemisme yang sangat luhur: Silaturahmi Kebangsaan, Gotong Royong, dan Stabilitas.
Semua elit politik mendadak menjadi sangat “paliatif”. Mereka alergi pada gesekan ideologi. Akibatnya, panggung politik kita hari ini penuh dengan pelukan hangat antarmusuh bebuyutan pasca-pemilu. Sementara oposisi dianggap sebagai “rasa sakit” yang mengganggu investasi, maka ia harus diamputasi atau disuap dengan kursi menteri.
Demokrasi yang sejatinya adalah arena kontestasi ide yang berdarah-darah, kini disulap menjadi ruang arisan keluarga yang adem ayem. Ketika kebijakan cacat lahir diproduksi, ketukan palu sidang paripurna menjadi obat penenang yang meredam jeritan publik.
Sampai di sini, sepertinya kita tidak lagi bernegara. Tapi kita sedang merawat kenyamanan pragmatis dalam ruang koalisi yang hipokrit dan palsu.
Ekonomi: Bansos sebagai Morfin Neoliberal
Bergeser ke dapur ekonomi. Bagaimana cara meredam rasa sakit dari jurang ketimpangan yang kian menganga? Sederhana: guyur dengan bantuan sosial (bansos) tepat sebelum tensi sosial meninggi.
Bansos dalam struktur ekonomi paliatif Indonesia tidak pernah didesain untuk mengentaskan kemiskinan secara struktural. Ia berfungsi persis seperti morfin. Ketika rakyat mulai menjerit karena harga beras mencekik, daya beli rontok, dan lapangan kerja menyusut, pemerintah datang membawa karung-karung beras berlogo paslon atau kementerian.
Rasa sakitnya hilang sesaat, lapar seolah terobati, namun penyakit kemiskinan sistemik dan monopoli ekonomi di belakangnya tetap abadi. Ini adalah taktik ekonomi paling jenius sekaligus paling sinis: membiarkan rakyat tetap miskin agar mereka selalu butuh dosis morfin berikutnya.
Sosial-Budaya: “Self-Care”, Toxic Positivity, dan Budaya Scroll tanpa Henti
Di tingkat horizontal, warga negara kita mengalami anestesi massal melalui algoritma digital. Han menyoroti bagaimana neoliberalisme memaksa kita untuk selalu bahagia dan produktif. Jika Anda stres, cemas, atau miskin, psikologi positif ala penasihat finansial media sosial akan berbisik: “Itu karena kamu kurang bersyukur, kurang manifestasi, kurang self-care. Makanya kamu butuh healing,”
Struktur sosial kita yang pincang sukses diprivatisasi menjadi kesalahan personal. Kita dilarang marah pada sistem. Maka, ketika realitas hidup terlalu menyakitkan untuk dihadapi, pelariannya adalah layar gawai. Budaya scroll TikTok tanpa henti, kecanduan judi online (yang ironisnya disebut “hiburan”), hingga glorifikasi konten-konten receh adalah bentuk pelarian kolektif dari rasa sakit realitas.
Kita adalah masyarakat yang jarinya sibuk mengetuk tombol “likes”, sementara tak sadar pundaknya kian bungkuk memikul beban hidup yang kian tidak masuk akal.
Budaya Aparat: “Pers” Tactical dan Romantisme Aparatur sipil
Bahkan di ruang publik, estetika kita ikut-ikutan paliatif. Jurnalisme yang seharusnya menjadi pisau bedah untuk menguliti borok kekuasaan, kadang terjebak dalam estetika permukaan. Penggunaan rompi taktis bertuliskan “Pers” yang gagah atau liputan yang sekadar mengejar rilis pers resmi tanpa investigasi mendalam, adalah gejala paliatif di dunia media. Kita lebih sibuk membangun citra bahwa kita sedang “bekerja keras mengawasi”, padahal yang kita awasi hanyalah apa yang diizinkan untuk dilihat.
Hal yang sama terjadi pada bagaimana negara mengelola kritik. Kritik tidak lagi dijawab dengan argumen, melainkan diredam dengan jerat hukum UU ITE atau penertiban yang rapi. Tujuannya satu: wajah publik harus terlihat bersih, tanpa noda, tanpa ekspresi kesakitan.
Epilog: Terlalu Takut Mati, Malas Berpikir
Byung-Chul Han menutup argumennya dengan menyatakan bahwa masyarakat paliatif pada akhirnya adalah masyarakat yang sekadar bertahan hidup (survival society). Kita terlalu takut untuk mati, tetapi kita juga tidak benar-benar hidup.
Indonesia hari ini sedang berada di fase itu. Kita bangga dengan pertumbuhan ekonomi di atas kertas, kita merayakan stabilitas politik yang dipaksakan, dan kita menidurkan nalar kritis dengan tontonan hiburan massal. Kita menolak rasa sakit yang dibawa oleh kebenaran, dan lebih memilih kenyamanan yang ditawarkan oleh kebohongan yang terstruktur.
Selamat datang di Republik Paliatif. Silakan ambil dosis obat penenang Anda hari ini, dan mari kita kembali tidur berjamaah. (*)











