📌 LORONG PANJANG
Suaranya menggema
Lantainya menyayat
Udara kian mendera
Hempasan jarum jam, kembali memejam
Waktu merekam
Sinar tak kunjung berbinar
Lorong itu masih panjang
Pelan yang tak pasti
Cepat yang tak tepat
Langkah tak berbunyi
Langkah tak berdimensi
Lambaian yang samar
Wangi yang familiar
Bayangan yang menjalar
Air mata kembali mengakar
Semakin melebur
Semakin tersingkir, tersungkur
Menyisakan raga tak bertulang
Menyisakan harap tak kunjung pulang
Lorong panjang itu semakin menghilang dari arah pandang.
~~~~~
📌 ABSTRAK
Jalannya ringkih, suaranya lirih
Tangannya mengatup perih
Berhasil meraih tangan yang merintih, meski dirinya tertatih
Seakan terlatih
Seakan paling gigih
Padahal tidak pernah terasuh, terasih, terbasuh
Biarkan hidup membawa ribuan makna saling membasuh
Meski tak dilirik
Meski tak dipantik
Meski tak selalu otentik
Tangan-tangan itu berhasil dijunjungnya seorang diri
Tanpa pernah membela diri
Tanpa pernah membantu berdiri
Kokohnya badan bagai kuda besi
Banyak goresan ambisi
Padahal banyak eksistensi memakan gengsi
Hingga mengakhiri dengan berbekal ilusi
Entahlah kalimat mana yang akan menang
Dirinya tetap layak dimenangkan
Dirinya tetap layak meski terkoyak
Tidak perlu mendongak
Meski berkali-kali tertolak
Meski dianggap kerak
Semua saksi mata tak mungkin bertopeng
Tuhan tidak tidur
Tuhan Maha menolong
Bahkan untuk hamba-Nya yang tak tertolong.
Bionarasi
Zahra Nur Alfiyah, alumnus UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang kini kembali aktif menekuni hobi menulis. Di sini, saya menuangkan isi kepala, keresahan, dan cerita tentang keteguhan hidup ke dalam bait-bait puisi. Selamat menikmati karya-karya saya, dan mari terhubung lebih dekat di zahranuralfiyah49@gmail.com.





