TAJDID.ID~Lubuk Pakam 🔳 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Lubuk Pakam kembali menyelenggarakan pengajian rutin dua mingguan di Masjid Taqwa Lubuk Pakam pada Selasa (7/7) malam. Kegiatan yang berlangsung ba’da Isya ini dihadiri oleh puluhan jemaah.
Bertindak sebagai ahlul bait (tuan rumah), Nanang Sugiarto. Sedangkan Ustadz Alfi Syahrin Harahap, S.Pd.I tampil sebagai penceramah.
Pada kesempatan kali ini, Ustadz Alfi Syahrin mengangkat tema seputar “Keutamaan Bulan Muharram”.
Mengawali ceramahnya, Ustadz Alfi membacakan Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 36:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…”
Ustadz Alfi menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan ketetapan Islam mengenai hitungan 12 bulan dalam satu tahun. Di antara dua belas bulan tersebut, terdapat empat bulan yang dikategorikan sebagai bulan “haram” atau bulan suci, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
“Bulan-bulan ini disebut ‘haram’ atau suci karena Allah SWT melarang keras umat Islam melakukan kezaliman dan maksiat. Di sisi lain, segala bentuk amal kebaikan yang kita kerjakan di bulan-bulan ini akan mendapatkan ganjaran yang jauh lebih besar dan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT,” ujar Ustadz Alfi di hadapan para jemaah.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jemaah untuk memperbanyak istighfar dan bertobat.
Menurutnya, memperbanyak istighfar bukan hanya mendatangkan ampunan, melainkan juga ampuh untuk meredakan keresahan dan kegundahan di dalam jiwa.
Momentum Muhasabah dan Menghargai Waktu
Lebih lanjut, Ustadz Alfi memaparkan beberapa hikmah penting terkait pentingnya menghargai waktu di bulan Muharram, yang menjadi penanda awal kalender Hijriah. Menurutnya, menghargai waktu di bulan mulia ini sangat krusial untuk mendorong proses hijrah menjadi pribadi yang lebih baik.
Beberapa poin utama yang ditekankan dalam ceramah tersebut antara lain:
â—¾ Momentum Evaluasi Diri (Muhasabah): Pergantian tahun merupakan pengingat untuk meneliti kembali lembaran amal dan dosa di masa lalu, sekaligus berkomitmen memperbaiki kualitas ibadah di masa depan.
â—¾ Memaksimalkan Amalan Utama: Muslim yang bijak akan mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan prioritas, seperti puasa sunah, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak sedekah.
â—¾ Mencegah Kemaksiatan: Menghargai usia berarti menggunakan waktu untuk hal-hal produktif dan membentengi diri dari perbuatan zalim yang dapat merusak kehormatan di hadapan Allah.
◾ Mensyukuri Nikmat Usia: Waktu adalah aset berharga yang tidak akan kembali. Muharram mengajarkan umat untuk tidak menyia-nyiakan sisa umur, melainkan menjadikannya ladang meraih keridaan Allah.
Di akhir ceramahnya, Ustadz Alfi menekankan bahwa salah satu hikmah terbesar Muharram bagi umat Islam adalah pentingnya memulai segala sesuatu dengan niat baik dan semangat perbaikan yang kontinu.
Di era modern saat ini, makna hijrah dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari, contoh sederhananya adalah dengan memperbaiki kualitas salat lima waktu dan membiasakan diri membaca Al-Qur’an.
“Barangsiapa yang waktunya dihabiskan hanya untuk ketaatan dan beribadah kepada Allah, maka itulah waktu dan umur yang sebenarnya,” pungkas Ustadz Alfi menutup tausiyahnya. (*)













