Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Empat hari tiga malam mengikuti Darul Arqam Tingkat Wilayah yang diselenggarakan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara di Parapat menjadi pengalaman yang sangat berharga. Pengkaderan ini bukan sekadar rangkaian kegiatan yang dipenuhi materi dan diskusi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, penguatan ideologi, pendalaman kepemimpinan, sekaligus mempererat ukhuwah antarkader Muhammadiyah.
Sayapun menuliskan sedikit pengalaman pengkaderan kali ini diatas kapal yang kami tumpangi menuju Tomok Samosir dan pas ditengah danau Toba ketika kapal merapat ke batu gantung yang ikonik di danau Toba yang tenang setelah acara penutupan selesai .
Di tengah padatnya agenda, teman-teman peserta memberikan amanah kepada saya sebagai lurah kelas. Tugasnya sederhana, namun membutuhkan komunikasi dan koordinasi yang baik. Mengatur jadwal, menyampaikan informasi, mengoordinasikan peserta, memastikan petugas ibadah, hingga menjadi penghubung dengan panitia.
Dari tugas sederhana itu saya semakin memahami bahwa kepemimpinan sejatinya bukan soal dilayani, tetapi tentang kesediaan untuk melayani.
Menjelang berakhirnya kegiatan, saya memperoleh “penghargaan” yang sama sekali tidak saya duga. Rekan-rekan peserta memilih saya sebagai peserta terlucu. Saya menerimanya dengan penuh syukur dan senyum.
Namun, saya ingin meluruskan satu hal. Menjadi peserta terlucu bukan berarti saya tidak serius mengikuti Darul Arqam. Justru karena mengikuti setiap sesi dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, dan menjalankan setiap amanah yang diberikan, sering kali muncul celetukan atau peristiwa spontan yang mengundang tawa. Kelucuan itu tidak dirancang dan tidak dibuat-buat, tetapi lahir secara alami dari kebersamaan yang hangat selama proses pengkaderan.
Saya juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti arahan dan berbagi tanggung jawab dengan penuh kesadaran. Ketika saya menyusun jadwal muazin, imam salat berjamaah, maupun petugas kultum, semuanya bersedia menjalankan amanah dengan baik. Semangat saling membantu dan saling menguatkan itulah yang membuat tugas sebagai lurah kelas terasa ringan.
Hal lain yang sangat membekas adalah suasana persaudaraan yang begitu erat. Para peserta yang terdiri atas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sumatera Utara, serta Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumatera Utara tampak begitu kompak. Tidak terlihat sekat karena jabatan, usia, maupun latar belakang profesi. Semua hadir sebagai kader yang sedang belajar bersama. Semua duduk sejajar, saling berdiskusi, saling berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam semangat Persyarikatan.
Kekompakan itu juga terlihat dari kedisiplinan seluruh peserta dalam mengikuti arahan panitia dan para instruktur yang luar biasa. Jadwal yang padat dijalani dengan penuh semangat. Materi demi materi diikuti dengan antusias. Panitia bekerja dengan penuh dedikasi, sementara para instruktur menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menginspirasi lahirnya semangat baru dalam menggerakkan Muhammadiyah.
Saya semakin memahami bahwa humor yang baik bukanlah lawan dari keseriusan. Humor yang santun justru menjadi jembatan komunikasi. Ia mencairkan suasana, menghilangkan kecanggungan, dan membuat kebersamaan semakin akrab. Senyum yang lahir dari hati yang tulus sering kali membuat ilmu lebih mudah diterima dan persaudaraan semakin erat.
Rasulullah sendiri dikenal sebagai pribadi yang murah senyum. Beliau sesekali bercanda dengan para sahabat, tetapi tidak pernah berdusta dalam candaannya dan tidak pernah menyakiti hati orang lain. Dari teladan itu kita belajar bahwa keramahan dan kegembiraan adalah bagian dari akhlak seorang pemimpin.
Darul Arqam juga semakin meneguhkan keyakinan kami bahwa pengkaderan merupakan jantung kehidupan Muhammadiyah. Dari sinilah lahir kader-kader yang memiliki pemahaman ideologi yang kuat, kepemimpinan yang melayani, kemampuan berkolaborasi, serta keikhlasan dalam mengemban amanah. Pengkaderan bukan hanya membentuk orang yang pandai berbicara, tetapi juga membentuk pribadi yang siap bekerja, berkorban, dan mengabdi.
Empat hari tiga malam akhirnya berlalu. Jabatan lurah kelas pun selesai. Predikat peserta terlucu mungkin hanya menjadi kenangan kecil yang akan dikenang bersama. Namun ilmu, pengalaman, persaudaraan, dan nilai-nilai Islam Berkemajuan yang ditanamkan selama Darul Arqam akan menjadi bekal panjang dalam menjalankan amanah di Persyarikatan.
Saya pulang dengan satu keyakinan bahwa ber-Muhammadiyah adalah perjalanan yang menggembirakan. Menggembirakan karena di dalamnya ada ilmu yang mencerahkan, persaudaraan yang menguatkan, kepemimpinan yang melayani, dan humor yang menyejukkan. Tidak ada sekat di antara para kader, yang ada adalah semangat untuk saling melengkapi dalam perjuangan.
Semoga Darul Arqam terus melahirkan kader-kader yang tangguh, berintegritas, kolaboratif, rendah hati, dan berwawasan luas. Sebab Muhammadiyah yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang cerdas, tetapi juga oleh mereka yang mampu menghadirkan keteladanan, ketulusan, dan kegembiraan dalam setiap langkah pengabdiannya.
Pengkaderan yang menggembirakan akan melahirkan kader yang menggembirakan. Dan kader yang menggembirakan akan menghadirkan Muhammadiyah yang semakin berkemajuan, mencerdaskan bangsa, serta mencerahkan semesta. (*)






