Oleh: M. Risfan Sihaloho
Selama bertahun-tahun, rakyat Indonesia disuguhi tontonan teatrikal yang membosankan dari para Aparat Penegak Hukum (APH). Skenarionya selalu sama: ketika ada oknum di kepolisian, kejaksaan, atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terendus mengutil uang rakyat, institusi mereka akan langsung pasang badan. Semboyan terselubungnya jelas:
“Lu jaga borok gue, gue jaga borok lu.”
Sebuah kesepakatan jahat yang rapi, dibungkus rapi dengan dalih “menjaga marwah institusi.”
Rakyat? Ah, kita hanya penonton bayaran di kelas festival yang cuma bisa mengelus dada. Kecewa, marah, tapi sadar diri bahwa kita tak berdaya melawan tembok raksasa bernama impunitas institusional negara.
Namun, roda nasib tampaknya sedang bosan melihat kemapanan para koruptor. Tuhan—atau semesta, atau apa pun sebutannya—sepertinya punya selera humor yang sarkas. Hari ini, tembok kokoh bernama “solidaritas antar-institusi” itu runtuh bukan karena hantaman demonstrasi mahasiswa atau amuk massa, melainkan karena keserakahan mereka sendiri.
BACA JUGA 🔎 Komedi Hitam Penegakan Hukum
Mereka yang dulunya saling peluk, saling bisik, dan saling melindungi, kini mendadak amnesia pada sumpah setia mereka. Mereka mulai saling bongkar borok, saling cakar, dan saling menelanjangi di depan publik. Sebuah tontonan yang benar-benar menggelikan, sekaligus menjijikkan.
Mengapa para “penjaga hukum” ini mendadak berubah menjadi sekumpulan tikus kelaparan yang saling gigit di dalam karung?
1. Hukum Alam “Sinking Ship”: Selamatkan Diri Masing-Masing!
Ketika kapal mulai bocor dan air laut sudah sebatas leher, tidak ada lagi waktu untuk memikirkan kapten atau nakhoda. Semboyan Korsa yang diagung-agungkan langsung menguap digantikan oleh insting paling primitif manusia: bertahan hidup. Berbagi jarahan itu mudah saat situasi aman, tetapi berbagi sel tahanan? Nanti dulu. Menyeret kawan untuk dijadikan tumbal agar diri sendiri mendapat keringanan hukuman adalah strategi paling logis di kepala mereka saat ini.
2. Kue Jarahan yang Semakin Menyusut
Korupsi di negeri ini sudah sangat sistemik, namun sumber daya yang bisa dikorupsi tidaklah tak terbatas. Ketika “kue” jarahan semakin mengecil sementara nafsu gaya hidup hedonistik para pejabatnya semakin membesar, gesekan antar-kelompok tak bisa dihindari. Saling cakar ini bukan karena mereka tiba-tiba mendapat hidayah atau mendadak cinta tanah air, melainkan karena berebut lapak dan mengamankan jalur logistik haram masing-masing.
3. Rusaknya “Peta Damai” dan Konflik Kepentingan Politis
Institusi penegak hukum kita sudah lama ditarik-ulur oleh kepentingan politik praktis. Ketika konstelasi politik di atas berubah, peta kedamaian di bawah pun ikut berantakan. Saling bongkar borok ini sering kali merupakan pesanan dari aktor intelektual yang sedang bertarung di panggung kekuasaan. Sialnya bagi para APH korup ini, mereka hanyalah pion yang siap dikorbankan kapan saja ketika masa pakainya habis.
Melihat fenomena saling cakar ini, kita tidak perlu buru-buru senang, bersyukur dan menganggap hukum sedang ditegakkan. Jangan naif. Ini bukan law enforcement, ini adalah gang war—perang antar-geng yang kebetulan memakai seragam dinas.
Namun, setidaknya dari balik kejijikan ini, ada hiburan gratis bagi rakyat. Kita dipamerkan isi perut dari institusi yang katanya “suci” dan “profesional” itu. Kita melihat bagaimana topeng-topeng kehormatan itu copot satu per satu, menampilkan wajah asli para pemburu rente yang ketakutan.
Silakan lanjutkan saling cakarnya, bapak-bapak yang terhormat. Bongkar terus sampai akar-akarnya. Habisi satu sama lain hingga tak ada lagi yang tersisa. Rakyat sudah menyiapkan popcorn untuk menonton babak akhir dari komedi hitam ini: melihat kalian semua, tanpa terkecuali, sama-sama jadi tersangka dan berakhir di tempat yang sama: liang lahat keadilan. (*)






