Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Ada suasana yang berbeda ketika mengikuti Darul Arqam Pimpinan Muhammadiyah se-Sumatera Utara di Parapat. Udara sejuk Negeri di Atas Awan seakan menjadi simbol kejernihan berpikir, keluasan pandangan, dan keteguhan langkah dalam memperkuat gerakan Muhammadiyah. Di tempat inilah para pimpinan Muhammadiyah dari berbagai daerah dipertemukan, bukan sekadar untuk menerima materi, tetapi untuk menyamakan gelombang perjuangan.
Darul Arqam ini memiliki makna historis tersendiri karena menjadi pelaksanaan pertama di Sumatera Utara. Sebuah momentum penting yang diharapkan menjadi titik awal penguatan ideologi bagi seluruh pimpinan Persyarikatan hingga ke tingkat daerah dan cabang.
Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah , Dr. Bakhtiar, menegaskan bahwa penguatan ideologi merupakan kebutuhan utama bagi seluruh pimpinan Muhammadiyah. Ideologi bukan sekadar bahan kajian, tetapi menjadi kompas yang menentukan arah perjalanan gerakan.
Sebelumnya, Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara, sekaligus ketua panitia Dr. Zainuddin Gayo, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya karena cita-cita menghadirkan Darul Arqam tingkat wilayah akhirnya dapat diwujudkan di Sumatera Utara. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut hingga ke tingkat daerah dan cabang sehingga proses kaderisasi berjalan berkesinambungan.
Ketua PWM Sumatera Utara, Prof. Hasyimsyah Nasution, dalam arahannya menegaskan bahwa kunci kemajuan Muhammadiyah sesungguhnya adalah keikhlasan. Amal usaha boleh semakin besar, organisasi boleh semakin maju, tetapi ruh yang menggerakkan semuanya tetaplah keikhlasan. Tanpa keikhlasan, organisasi hanya menjadi kumpulan aktivitas. Dengan keikhlasan, setiap amal menjadi ibadah dan setiap gerakan menjadi kekuatan yang melahirkan keberkahan.
Beliau juga mengingatkan bahwa kemajuan Muhammadiyah tidak pernah dibangun dengan mengganggu pergerakan organisasi lain. Muhammadiyah tumbuh melalui karya nyata, inovasi, transformasi, pelayanan kepada masyarakat, dan perlombaan dalam kebaikan. Semangat inilah yang selama lebih dari satu abad menjaga Muhammadiyah tetap menjadi gerakan Islam yang membawa rahmat bagi semua.
Dalam sesi penguatan ideologi dijelaskan bahwa ideologi Muhammadiyah memiliki beberapa fungsi yang sangat strategis. Pertama, sebagai penuntun arah gerakan sehingga seluruh langkah Persyarikatan tetap berada di jalur yang benar. Kedua, sebagai landasan teologis yang menghubungkan seluruh aktivitas organisasi dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Ketiga, sebagai perekat komitmen warga Muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke bahkan hingga mancanegara. Dan keempat, sebagai filter terhadap berbagai pemikiran dan ideologi lain agar Muhammadiyah tetap kokoh pada prinsip-prinsipnya.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Agung Danarto. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pesan yang sangat mendalam bahwa Baitul Arqam maupun Darul Arqam tidak pernah menjadi kegiatan yang sia-sia meskipun diikuti berkali-kali. Sebab target utama pengkaderan bukanlah sekadar bertambahnya pengetahuan, melainkan tumbuhnya kesadaran.
Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan kerja sama yang kokoh, saling menguatkan, saling melengkapi, dan membangun konektivitas antarkader. Organisasi besar tidak dibangun oleh orang-orang hebat yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi oleh tim yang memiliki mimpi yang sama dan bergerak dalam irama yang sama.
Dr. Agung juga mengingatkan pentingnya kemampuan mengkomunikasikan mimpi besar Muhammadiyah hingga mampu diwujudkan menjadi kenyataan. Sebuah cita-cita hanya akan menjadi angan apabila tidak diterjemahkan menjadi gerakan yang sistematis dan berkelanjutan.
Beliau menjelaskan bahwa penetapan tuan rumah Muktamar Muhammadiyah dilakukan jauh sebelum pelaksanaannya. Hal ini menunjukkan bahwa Muktamar bukan sekadar forum musyawarah memilih pimpinan, tetapi merupakan momentum besar untuk meningkatkan ghirah, mempercepat transformasi organisasi, serta menghadirkan karya-karya monumental.
Karena itu, Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara harus memberikan pengaruh besar bagi kemajuan Persyarikatan. Menjadi tuan rumah adalah kesempatan yang mungkin baru datang kembali dalam waktu yang sangat lama. Momentum tersebut harus diabadikan melalui karya nyata yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat jauh setelah Muktamar selesai.
Fasilitas yang dibangun untuk Muktamar tidak boleh hanya menjadi saksi pelaksanaan acara beberapa hari, tetapi harus menjadi monumen peradaban yang terus melayani umat, melahirkan kader, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memperkuat dakwah Muhammadiyah pada masa depan.
Di penghujung arahannya, Dr. Agung menyampaikan sebuah pelajaran kepemimpinan yang sangat menyejukkan. Dengan penuh kerendahan hati beliau mengatakan bahwa para instruktur dan pemateri bukanlah orang yang paling pintar ataupun yang terbaik. Pengkaderan justru mendidik setiap kader untuk saling mengisi, saling menghormati, tidak menjatuhkan, dan tidak mempermalukan satu sama lain. “Karena itu saya tidak pernah takut bicara dihadapan orang Muhammadiyah, karena yakin semua saling menghargai”
Beliau juga berbagi pengalaman pernah dipercaya menjadi Ketua PWM Jawa Tengah pada usia 37 tahun, menjadikannya salah satu Ketua PWM termuda. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah memberi ruang bagi kader-kader muda untuk memimpin, selama memiliki kapasitas, integritas, dan komitmen terhadap Persyarikatan.
Dari Kota Parapat pinggir Danau Toba, satu pelajaran besar kembali menguat dalam benak kita. Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh retorika, tetapi oleh kaderisasi. Tidak dibangun oleh kepentingan sesaat, tetapi oleh keikhlasan yang melahirkan karya. Dan tidak akan menjadi besar hanya karena memiliki banyak anggota, tetapi karena memiliki kader yang sadar akan ideologi, memahami arah perjuangan, serta siap bekerja bersama membangun peradaban.
Inilah wajah Islam Berkemajuan yang terus menyalakan harapan. Membangun manusia, memperkuat ideologi, melahirkan karya, menghadirkan kemaslahatan, menuju Indonesia yang cerdas, Bangsa yang berkemajuan, dan Semesta yang bercahaya. (*)












