TAJDID.ID~Purwokerto 🔳 Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mulai memperkuat strategi branding sekolah melalui pendekatan jurnalistik. Langkah itu diwujudkan dengan menggelar Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) bertema “Branding Sekolah Muhammadiyah Melalui Kehumasan di Era Digital” di Auditorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu-Minggu (18-19/7/2026).
Puluhan humas sekolah Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti pelatihan intensif selama dua hari. Mereka dibekali materi mulai dari paradigma branding sekolah, strategi kehumasan, manajemen media sosial, jurnalistik, hingga praktik menyusun rencana peliputan kegiatan sekolah.
Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya Doktor Ilmu Komunikasi Roni Tobroni, jurnalis Muhammadiyah Jawa Barat Kelik, konsultan branding Rulli Nashrullah, jurnalis TVRI Mukhtarom, serta praktisi pendidikan dan humas sekolah Hendra Apriyadi.
Koordinator Penguatan Media dan Jurnalistik MPI PP Muhammadiyah, Roni Tobroni, mengatakan Akademi Jurnalistik Muhammadiyah dirancang sesuai kebutuhan sekolah dengan benang merah penguatan kemampuan jurnalistik.
“Akademi Jurnalistik Muhammadiyah ini khas sesuai kebutuhan, tetapi benang merahnya adalah jurnalistik. Apa yang kita lakukan hari ini adalah branding sekolah dengan pendekatan jurnalistik,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris MPI PP Muhammadiyah Anam Sutopo menegaskan sekolah Muhammadiyah perlu melakukan rebranding agar mampu bersaing di era digital melalui pengelolaan humas yang profesional.
Menurutnya, sekolah tidak hanya membutuhkan publikasi, tetapi juga jurnalis-jurnalis muda yang mampu menyampaikan informasi secara jujur, kritis, dan berintegritas.
“Jadilah jurnalis Muhammadiyah yang kritis dan jujur. Menulislah berdasarkan fakta, boleh bertanya tetapi tetap santun. Junjung integritas, tanpa meninggalkan ketepatan dan kecepatan. Jadilah orang yang menggunakan pena untuk mencerahkan,” ujarnya.
Anam juga mendorong generasi muda Muhammadiyah menjadikan dunia jurnalistik sebagai ruang dakwah sekaligus media untuk memajukan amal usaha Muhammadiyah.
Salah seorang peserta, Rian Khoirul Rizal dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kabupaten Tegal, mengaku pelatihan tersebut memberikan motivasi baru bagi sekolah dan pesantrennya untuk memperkuat literasi serta publikasi kegiatan.
“Acara ini sangat menginspirasi kami. Kami semakin semangat karena memang membutuhkan penguatan di bidang literasi, jurnalistik, dan media. Setelah ini kami akan segera berbenah agar Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan semakin dikenal masyarakat melalui media dan karya-karya santri,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dengan melibatkan lebih banyak sekolah dan pondok pesantren Muhammadiyah. Menurutnya, potensi santri di bidang jurnalistik perlu dikembangkan sebagai bekal dakwah di masa depan. (*)











