Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Selepas Subuh pagi ini badan saya mulai terasa lebih segar. Setelah kemarin pulang dari pengkaderan, saya memilih beristirahat lebih cepat dari biasanya. Rupanya tubuh memang membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga setelah empat hari tiga malam mengikuti rangkaian kegiatan yang padat. Saya yakin para peserta, panitia, pemateri, dan instruktur lainnya juga merasakan hal yang sama. Hingga pagi ini, sisa-sisa letih itu mungkin masih terasa.
Namun, rasa lelah itu seolah terbayar lunas oleh pengalaman yang kami peroleh. Pengkaderan selama empat hari tiga malam tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Banyak momen yang hanya lahir dalam sebuah pengkaderan dan belum tentu akan terulang lagi. Mulai dari diskusi di ruang kelas, dinamika kelompok, permainan di lapangan, hingga obrolan ringan di sela-sela kegiatan, semuanya menghadirkan pelajaran yang tidak ternilai.
Yang paling indah dari pengkaderan adalah hilangnya sekat-sekat sosial. Para pemateri, instruktur, peserta, dan panitia saling memberikan yang terbaik sesuai perannya masing-masing. Semua hadir dengan semangat belajar dan berbagi. Tidak ada jarak yang dibangun oleh jabatan ataupun gelar akademik.
Di ruangan yang sama duduk guru besar, pejabat pemerintah, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, para Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah, dosen, guru, hingga kader muda. Semuanya adalah peserta. Mereka berdiskusi, saling menyimak, saling mengoreksi, dan saling menghormati tanpa beban. Tidak ada yang merasa paling tinggi, tidak pula ada yang minder. Semua dipersatukan oleh satu pemahaman, satu tujuan, dan satu cita-cita mulia: menghadirkan Islam Berkemajuan serta menyiapkan masa depan Muhammadiyah yang lebih baik.
Perjalanan menuju pengkaderan pun penuh dengan pengorbanan. Ada peserta yang harus bolak-balik dari Panyabungan ke Parapat agar tetap dapat mengikuti kegiatan. Ada yang harus menyeimbangkan tugas pekerjaan dengan kewajiban mengikuti pengkaderan. Ada pula yang mengorbankan waktu bersama keluarga demi menunaikan amanah perkaderan. Semua rela berkorban untuk memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu ilmu, pengalaman, persaudaraan, dan penguatan ideologi.
Yang menarik, proses belajar tidak hanya datang dari pemateri dan instruktur. Antarpeserta pun saling mengajarkan banyak hal. Diskusi berlangsung hidup dan sering kali melahirkan perspektif baru yang sebelumnya belum pernah kami dengar.
Salah satu yang sangat berkesan adalah kultum yang disampaikan oleh seorang guru fisika yang juga Ketua PDM Tanjung Balai Ustadz Datuk Muda Halbay. Dengan gaya yang sederhana, santai, dan sesekali diselingi humor, beliau menyampaikan materi yang unik sehingga membuat seluruh peserta terpana. Ilmu yang disampaikan terasa baru sekaligus mudah dipahami.
Begitu pula pada penghujung Subuh Ahad, ketika Prof. Ali Imran Sinaga menguraikan pembahasan tentang anak dalam Al-Qur’an dengan pendekatan ilmiah yang mendalam. Penjelasan tersebut mendapat apresiasi dari Prof. Mas Muhammad Qorib dan seluruh peserta karena menghadirkan sudut pandang yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Momen-momen seperti inilah yang membuat pengkaderan menjadi ruang bertemunya ilmu, pengalaman, dan kebijaksanaan.
Ada pula teladan yang sangat berharga dari Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara Buya Prof Hasyimsah Nasution . Meskipun memegang jabatan tertinggi di tingkat wilayah, memiliki gelar akademik yang tinggi, dan usia yang jauh lebih senior, beliau justru menjadi salah satu peserta yang paling aktif berdiskusi. Tidak pernah terlihat canggung, tidak menjaga jarak, apalagi merasa lebih tinggi daripada peserta lainnya. Beliau membaur, mendengar, bertanya, dan belajar bersama.
Teladan seperti ini menunjukkan bahwa kebesaran seseorang bukan diukur dari jabatan yang disandang, melainkan dari kerendahan hati untuk terus belajar. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan, semakin besar pula kesediaannya untuk menghargai orang lain.
Semoga inilah gambaran kader Muhammadiyah yang terus kita rawat: kader yang mampu bekerja sama, saling memahami, saling menghormati, dan tetap siap berkompetisi secara sehat ketika amanah organisasi membutuhkannya. Berbeda pandangan dalam forum adalah hal yang wajar, tetapi persaudaraan harus tetap menjadi fondasi utama.
Selama pengkaderan, ada dua ungkapan yang paling sering terdengar dan akhirnya menjadi semacam “kata kunci” kebersamaan kami, yaitu “excellent” dan “sok paten”. Kata excellent menjadi harapan sekaligus penyemangat agar setiap kader selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam berpikir, bersikap, dan berkarya. Sebaliknya, ungkapan sok paten menjadi nasihat yang disampaikan dengan penuh keakraban agar tidak ada di antara kami yang merasa paling benar, paling hebat, atau paling tahu. Dua ungkapan sederhana itu ternyata menyimpan makna yang sangat dalam. Yang satu adalah harapan yang harus terus diwujudkan, sedangkan yang satunya lagi adalah nasihat agar kita tetap rendah hati. Menjadi kader Muhammadiyah berarti terus berusaha menjadi excellent, tetapi tidak pernah berubah menjadi pribadi yang sok paten.
Pada akhirnya, pengkaderan mengajarkan satu pelajaran penting. Hidup bukanlah tentang merasa sudah paling benar, paling hebat, atau paling sempurna. Hidup adalah perjalanan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memberi manfaat.
Karena itu, marilah kita menjalani kehidupan dengan semangat excellent, selalu berusaha memberikan yang terbaik, tetapi tidak pernah menjadi orang yang sok paten. Sebab orang yang merasa sudah selesai belajar akan berhenti bertumbuh, sedangkan kader Muhammadiyah sejati adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti beramal, dan tidak pernah berhenti memajukan persyarikatan demi terwujudnya Islam Berkemajuan, Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.
Secara pribadi, saya yang selama pengkaderan diberi amanah sebagai “Lurah”, dan pada akhirnya bahkan dinobatkan sebagai peserta terlucu, ingin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta, panitia, pemateri, dan instruktur apabila selama kebersamaan empat hari tiga malam itu ada perkataan, candaan, maupun sikap saya yang kurang berkenan. Saya percaya, dalam keluarga besar Muhammadiyah, kita semua belajar untuk saling memahami, saling memaafkan, bahkan saling mendoakan. Justru dari sikap itulah ukhuwah semakin kokoh dan persaudaraan semakin bermakna.
Kini kita kembali ke daerah masing-masing dengan aktivitas dan amanah yang beragam. Ada yang kembali memimpin persyarikatan, mengajar di kampus atau sekolah, melayani masyarakat, menjalankan tugas pemerintahan, berdakwah di masjid, maupun mengurus keluarga. Apa pun medan pengabdiannya, semoga semangat Darul Arqam tetap hidup di dalam diri kita. Jadikan pengkaderan ini bukan sekadar kenangan, melainkan bekal untuk terus menghidupkan, menggembirakan, dan menyebarluaskan semangat Islam Berkemajuan di mana pun kita berada.
Selamat kembali beraktivitas di daerah masing-masing. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, keikhlasan, dan keberkahan dalam setiap langkah pengabdian kita. Sampai bertemu kembali dalam ruang-ruang perkaderan dan perjuangan berikutnya. Semoga semangat Darul Arqam senantiasa menjadi bekal bagi kita untuk memajukan Muhammadiyah, mencerahkan umat, mencerdaskan bangsa, serta menghadirkan Islam Berkemajuan, Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. (*)






