No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Menjadi Pimpinan Muhammadiyah adalah Kesediaan untuk Berkorban

24 Juli 2026
in Jufri Daily, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Nasional, Opini
Reading Time: 6 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Jufri

Ketua PDM Kota tebing Tinggi

 

Menjadi pengurus atau pimpinan Muhammadiyah bukanlah sebuah kemewahan. Ia juga bukan sekadar status sosial, apalagi kesempatan untuk mendapatkan penghormatan. Menjadi pimpinan Muhammadiyah adalah menerima amanah dan tanggung jawab.

Karena itu, siapa pun yang bersedia menjadi pimpinan Muhammadiyah harus memahami bahwa ada harga yang harus dibayar. Setidaknya ada lima hal yang harus siap dikorbankan: waktu, pikiran, tenaga, harta dan perasaan.

Waktu harus dikorbankan karena organisasi tidak akan berjalan hanya dengan niat baik. Ada rapat yang harus dihadiri, kegiatan yang harus dipersiapkan, persoalan yang harus diselesaikan dan warga persyarikatan yang harus dilayani.

Bahkan, menjadi pimpinan Muhammadiyah dengan sendirinya harus bersedia untuk mudah dihubungi. Tentu bukan berarti seorang pimpinan tidak memiliki kehidupan pribadi atau pekerjaan lain. Tetapi ketika seseorang bersedia menerima amanah kepemimpinan, ia harus memahami bahwa ada tanggung jawab yang melekat pada dirinya.

Ber-Muhammadiyah, apalagi menjadi pimpinan, bukan sekadar menggunakan waktu-waktu yang tersisa. Tetapi harus mampu menyisakan waktu untuk Muhammadiyah. Bukan sekadar ber-Muhammadiyah karena kebetulan tidak ada kegiatan lain, tetapi harus mampu menyediakan waktu di antara berbagai kesibukan lainnya.

Namun, tentu bukan berarti seluruh waktu seorang pimpinan harus diberikan untuk Muhammadiyah. Setiap pimpinan tentu memiliki kewajiban lain terhadap keluarga, profesi, pekerjaan dan berbagai tanggung jawab kehidupan lainnya.

Karena itu, semua pimpinan juga harus saling memahami dan mengerti. Harus ada kesediaan untuk memberikan ruang yang wajar kepada setiap pimpinan. Tidak semua orang bisa hadir dalam setiap kegiatan. Tidak semua orang bisa selalu menjawab setiap panggilan. Tidak semua orang dapat meninggalkan pekerjaan atau keluarganya setiap saat.

Apalagi prinsip kepemimpinan di Muhammadiyah adalah kolektif kolegial. Karena itu, setiap pimpinan harus saling mendukung dan memahami. Kepemimpinan tidak boleh dibangun atas dasar keinginan untuk berjalan sendiri atau merasa paling menentukan. Setiap pimpinan memiliki peran, tanggung jawab dan keterbatasan masing-masing.

Kepemimpinan kolektif kolegial harus dibangun dengan saling memahami, bukan dengan saling menuntut secara berlebihan. Ketika salah seorang pimpinan sedang menghadapi kesibukan pekerjaan, persoalan keluarga atau tanggung jawab lainnya, pimpinan yang lain harus mampu memberikan dukungan dan mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sebaliknya, setiap pimpinan juga harus memiliki kesadaran bahwa amanah organisasi tidak boleh terus-menerus dibebankan kepada orang lain.

Saling mendukung dan saling memahami adalah dua hal penting dalam membangun kepemimpinan kolektif kolegial.

Pimpinan Muhammadiyah juga harus menyadari bahwa pimpinan tidak digaji. Tetapi kadang-kadang, perlakuan orang atau bahkan anggota persyarikatan seolah-olah pimpinan mendapatkan gaji dari organisasi. Pimpinan dituntut selalu ada, selalu siap, selalu mampu menyelesaikan persoalan, bahkan kadang-kadang harus menanggung berbagai kebutuhan organisasi dengan waktu, tenaga dan hartanya sendiri.

Di sinilah keikhlasan diuji.

Ada orang yang mampu mengkomunikasikan keinginan atau usulannya dengan baik. Tetapi ada pula yang menyampaikan masukan dan kritik sesuai dengan kemampuan dan cara berpikirnya sendiri, tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Semua itu harus dihadapi oleh seorang pimpinan.

Tidak semua orang memiliki kemampuan komunikasi yang sama. Tidak semua kritik disampaikan dengan cara yang baik. Tidak semua masukan lahir dari proses berpikir yang matang. Namun, seorang pimpinan tetap harus belajar menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kedewasaan.

Seorang pimpinan juga harus memahami bahwa dalam organisasi selalu ada orang yang ingin menjadi pimpinan, tetapi tidak bersedia memikul tanggung jawab. Ada yang ingin berada dalam struktur, tetapi tidak siap menjalankan tugas. Ada yang ingin disebut sebagai pimpinan, tetapi tidak siap mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, harta dan perasaan.

Ada pula yang mampu berceramah dengan baik, tetapi belum tentu mampu diajak bekerja sama. Padahal, kemampuan berbicara dan kemampuan berorganisasi adalah dua hal yang berbeda.

Berceramah membutuhkan kemampuan menyampaikan gagasan kepada orang lain. Tetapi berorganisasi membutuhkan kemampuan mendengar, memahami, berkompromi, bekerja sama dan mengelola perbedaan.

Karena itu, seorang yang pandai berbicara belum tentu pandai bekerja dalam tim. Sebaliknya, seseorang yang tidak banyak berbicara bisa jadi memiliki kemampuan bekerja sama yang luar biasa.

Dalam perjalanan organisasi, persoalan juga datang dari berbagai arah. Ada persoalan yang berasal dari internal, baik bersama pimpinan maupun anggota lainnya. Ada perbedaan pandangan, komunikasi yang tidak selalu berjalan baik, harapan yang tidak selalu dapat dipenuhi dan berbagai dinamika lainnya.

Ada pula persoalan yang datang dari eksternal organisasi. Muhammadiyah hidup di tengah masyarakat, bangsa dan negara. Karena itu, berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi dan kemasyarakatan juga sering kali harus disikapi oleh pimpinan.

Selama sepuluh tahun memimpin Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi, saya belajar dan terus belajar menyikapi berbagai keadaan, situasi dan kondisi Muhammadiyah dengan segala dinamika yang ada.

Saya belajar bahwa memimpin organisasi tidak cukup hanya dengan pengetahuan. Tidak cukup pula hanya dengan niat baik. Diperlukan kesabaran, komunikasi, kemampuan memahami orang lain, keberanian mengambil keputusan dan kesediaan untuk terus belajar.

BACA JUGA

299 Sarjana FISIP UMSU Diwisuda, Tamat 3,5 Tahun dan IPK di Atas Tiga

Wujudkan Semesta Digital Muhammadiyah, MPI PWM Jateng Gelar Rakerwil

Menelusuri Metodologi Baru untuk Peradaban Islam Modern

Suheri Harahap: Idiologi Pancasila Harus Membumi Bagi Semua Anak Bangsa

PCM Sunggal Wakili Sumatera Utara di Ajang Nasional CRM Award VI Muhammadiyah

Muhammadiyah Luncurkan Program Mentari Covid-19

Seorang pimpinan tidak bisa merasa cukup hanya dengan mengikuti satu pelatihan atau satu kali pengkaderan. Kadang-kadang, seorang pimpinan harus mengikuti berkali-kali proses pengkaderan. Bukan karena tidak pernah belajar, tetapi justru untuk merawat rasa cinta dan tanggung jawab kepada persyarikatan.

Pengkaderan juga mengajarkan kita untuk terus belajar dan tetap rendah hati. Sebab sebanyak apa pun pengalaman yang dimiliki, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari. Setinggi apa pun posisi seseorang dalam organisasi, ia tetap harus bersedia untuk belajar.

Kadang-kadang kita harus berbicara, tetapi kadang-kadang kita juga harus mampu mendengar. Ada saatnya kita menjadi pemateri. Ada saatnya menjadi instruktur. Ada saatnya menjadi panitia. Tetapi ada pula saatnya kita harus menjadi peserta. Posisi itu dapat berganti-ganti sesuai dengan kebutuhan dan keadaan.

Itulah indahnya ber-Muhammadiyah. Tidak ada yang semestinya merasa lebih tinggi dari yang lain. Yang hari ini menjadi pemateri, besok mungkin menjadi peserta. Yang hari ini menjadi instruktur, pada kesempatan lain mungkin harus duduk mendengarkan. Yang hari ini menjadi panitia, pada kegiatan lain bisa saja menjadi peserta yang dilayani.

Semua itu baru saja kami alami dalam Darul Arqam pada awal Juli yang lalu. Di sana, posisi dan pengalaman boleh berbeda, tetapi dalam proses pengkaderan kita sama-sama belajar. Kita sama-sama duduk, mendengar, berdiskusi dan saling berbagi pengalaman.

Di situlah salah satu keindahan Muhammadiyah. Kepemimpinan tidak menjadikan seseorang kehilangan kerendahan hati. Jabatan tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih tinggi. Sebab pada akhirnya, semua adalah kader dan semua tetap berada dalam proses belajar.

Sebab setiap persoalan memiliki konteksnya sendiri. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Dan setiap keadaan membutuhkan sikap yang mungkin tidak selalu sama.

Karena itu, menurut saya, wajar saja jika seorang Bupati atau Wali Kota, Gubernur atau Presiden dan pejabat publik lainnya yang mendapatkan berbagai fasilitas dari negara tetap banyak dinilai dan dikritik.

Namun, menjadi pengurus organisasi kemasyarakatan yang kadang-kadang bahkan harus menggunakan uang dari kantong sendiri pun tetap tidak luput dari perhatian dan kritik.

Itulah dinamika kepemimpinan.

Ketika kita bersedia berada di depan, maka kita harus siap dilihat. Ketika kita bersedia mengambil keputusan, maka kita harus siap dinilai. Ketika kita bersedia menerima amanah, maka kita harus siap menghadapi pujian sekaligus kritik.

Pikiran harus dicurahkan untuk memikirkan kemajuan organisasi. Seorang pimpinan tidak cukup hanya hadir secara fisik. Ia harus mampu membaca keadaan, menyusun strategi, mencari solusi dan memikirkan masa depan persyarikatan.

Tenaga juga harus diberikan. Tidak semua pekerjaan organisasi bisa diselesaikan dengan perintah. Kadang seorang pimpinan harus turun langsung, hadir di tengah umat, mengunjungi amal usaha, mendampingi kader dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Harta pun sering kali harus dikeluarkan. Tidak semua kebutuhan organisasi tersedia anggarannya. Ada kalanya seorang pimpinan harus menggunakan hartanya sendiri untuk transportasi, komunikasi, konsumsi, bahkan membantu kegiatan organisasi.

Dan yang paling berat, mungkin adalah mengorbankan perasaan.

Seorang pimpinan tidak boleh mudah merajuk. Dalam berorganisasi, tidak semua keinginan akan terpenuhi. Tidak semua pendapat akan diterima. Tidak semua keputusan akan sesuai dengan harapan pribadi. Karena itu, seorang pimpinan harus memiliki kedewasaan untuk menerima perbedaan dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.

Berorganisasi berarti bertemu dengan banyak manusia. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, pendidikan, cara berpikir dan karakter yang berbeda. Karena itu, tidak mungkin semua keputusan akan selalu sesuai dengan keinginan kita.

Menjadi pimpinan Muhammadiyah berarti harus belajar bekerja sama dengan pimpinan lainnya. Kerja sama itu tidak selalu mudah, tetapi harus diusahakan. Sebab berorganisasi berarti bergabung dan berinteraksi dengan berbagai karakter yang berbeda.

Perbedaan karakter tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru kemampuan mengelola perbedaan itulah salah satu tanda kedewasaan dalam berorganisasi.

Seorang pimpinan tidak boleh hanya ingin didengar, tetapi juga harus mau mendengar. Tidak boleh hanya ingin dihargai, tetapi juga harus mampu menghargai. Tidak boleh hanya menuntut pengorbanan dari orang lain, tetapi juga harus bersedia memberikan pengorbanan.

Yang tidak kalah penting, seorang pimpinan harus memiliki rasa tanggung jawab. Ketika seseorang menerima amanah, maka amanah itu tidak boleh hanya hadir dalam nama dan struktur organisasi. Ia harus hadir dalam tindakan.

Sebab menjadi pimpinan Muhammadiyah bukanlah sekadar tercantum dalam surat keputusan. Bukan pula sekadar memiliki jabatan dan gelar organisasi. Kepemimpinan harus terlihat dari kesediaan untuk hadir, bekerja, mendengar, melayani dan menyelesaikan tanggung jawab.

Dalam Muhammadiyah, kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang paling berkuasa. Kepemimpinan adalah tentang siapa yang paling bersedia memikul tanggung jawab.

Karena itu, menjadi pimpinan Muhammadiyah di tingkat apa pun—dari ranting, cabang, daerah, wilayah hingga pusat—semestinya selalu diiringi dengan kesadaran bahwa jabatan itu adalah amanah.

Semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semakin besar pula tanggung jawab dan pengorbanan yang seharusnya diberikan.

Sebab pada akhirnya, seorang pimpinan Muhammadiyah tidak akan dikenang karena berapa lama ia memegang jabatan, berapa banyak orang yang memanggilnya dengan gelar pimpinan, atau seberapa besar penghormatan yang diterimanya.

Ia akan lebih dikenang karena apa yang telah dikerjakannya, apa yang telah dikorbankannya, dan seberapa besar manfaat yang telah diberikannya bagi persyarikatan, umat dan bangsa.

Menjadi pimpinan Muhammadiyah bukanlah kemewahan. Ia adalah kesediaan untuk berkorban.(*)

Tags: Muhammadiyahpimpinan muhammadiyahTulisan Jufri
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
Jufri Daily

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan

by Mujaddid
7 September 2026
18
Muhammadiyah Telah Melayani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT
Daerah

Muhammadiyah Telah Melayani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT

by Mujaddid
5 September 2026
5
Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49
Daerah

Bingkisan Usaha Kecil, Semangat Besar: UMKM Serdang Bedagai Menyambut Muktamar 49

by Mujaddid
31 Agustus 2026
15
Dorong Visi World Class University, UMSU Teken Kerja Sama Internasional dengan PCIM Britania Raya dan Irlandia
Internasional

Dari Tanah Deli ke London: Sebuah Jembatan Muhammadiyah Menuju Dunia

by Mujaddid
29 Agustus 2026
13
Ranting Sumber Mufakat, Tanah Karo dan Muktamar 49: Menumbuhkan Akar, Mencerahkan Semesta
Daerah

Ranting Sumber Mufakat, Tanah Karo dan Muktamar 49: Menumbuhkan Akar, Mencerahkan Semesta

by Mujaddid
29 Agustus 2026
12
Jangan Jadikan Agama sebagai Tertuduh
Islam

Jangan Jadikan Agama sebagai Tertuduh

by Mujaddid
26 Agustus 2026
25
Jangan Jadikan Muhammadiyah Sekadar Kolam Perebutan
Jufri Daily

Jangan Jadikan Muhammadiyah Sekadar Kolam Perebutan

by Mujaddid
26 Agustus 2026
31
Perlakuan Muhammadiyah kepada Habib
Kemuhammadiyahan

Perlakuan Muhammadiyah kepada Habib

by Mujaddid
24 Agustus 2026
31
FKIP UMSU Gelar Pengabdian Internasional di Thailand, Latih Guru Sekolah Islam Satun  Terapkan Metode Deep Learning
Internasional

FKIP UMSU Gelar Pengabdian Internasional di Thailand, Latih Guru Sekolah Islam Satun Terapkan Metode Deep Learning

by Mujaddid
24 Agustus 2026
31
Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027: Menyambungkan Semangat Masa Lalu dengan Masa Depan
Daerah

Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027: Menyambungkan Semangat Masa Lalu dengan Masa Depan

by Mujaddid
21 Agustus 2026
11

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Tindaklanjut MoU, BWI Simalungun Targetkan 241 Sertifikat Tanah Wakaf
  • Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
Daerah

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.