Oleh: Baihaqi Septiansyah Novrizal
Media sosial membuka ruang bagi masyarakat Global South untuk menyampaikan perspektifnya sendiri tanpa sepenuhnya bergantung pada media internasional. Namun, kebebasan tersebut juga menghadirkan risiko disinformasi, manipulasi algoritma, dan polarisasi sosial.
Perkembangan media sosial telah mengubah struktur komunikasi global. Masyarakat yang sebelumnya hanya menjadi penerima informasi kini dapat memproduksi, menyebarkan, dan memperdebatkan informasi secara langsung.
Perubahan ini memberikan peluang bagi munculnya narasi alternatif dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan wilayah lain yang selama ini kurang mendapatkan ruang dalam pemberitaan internasional.
Dalam sistem media konvensional, informasi global umumnya disampaikan melalui lembaga pemberitaan besar yang sebagian besar berpusat di negara-negara Barat. Akibatnya, berbagai persoalan internasional sering kali dipahami melalui sudut pandang politik, ekonomi, dan kebudayaan tertentu.
Kehadiran media sosial kemudian membuka jalur komunikasi baru bagi masyarakat lokal, jurnalis independen, aktivis, akademisi, dan warga biasa untuk memperkenalkan pengalaman mereka kepada publik global.
Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Communication pada September 2025 menjelaskan bahwa model jurnalistik yang berpusat pada perspektif Barat belum tentu mampu menggambarkan kondisi sejarah, politik, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Global South secara utuh.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa media digital dan media sosial telah menyediakan ruang baru bagi jurnalisme warga serta narasi yang lebih beragam untuk menantang dominasi arus informasi tradisional.
Menurut saya, media sosial telah memberikan kesempatan kepada masyarakat yang selama ini berada di pinggiran arus informasi global untuk menyampaikan pengalaman, identitas, dan kepentingannya dengan menggunakan bahasa serta perspektif mereka sendiri.
Melalui media sosial, masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada koresponden asing atau media internasional untuk menjelaskan suatu peristiwa. Warga yang berada langsung di lokasi dapat membagikan video, foto, kesaksian, dan penjelasan mengenai keadaan yang mereka alami. Kondisi tersebut dapat memperkaya pemahaman publik sekaligus mengoreksi pemberitaan yang dianggap tidak lengkap atau terlalu menyederhanakan persoalan. (*)
Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (SPs UMSU)






