No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result
Home
'Aisyiyah

Medan, Kota Sejarah dan Cahaya Gerakan Islam Menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah 

by Mujaddid
20 Juli 2026
in 'Aisyiyah, Daerah, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Muktamar 49, Nasional, Opini
Reading Time: 9 mins read
0
0
Gambar ilustrasi.

Gambar ilustrasi.

0
SHARES
37
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh : Jufri

Ketua PDM Kota Tebing Tinggi

 

Medan, Sumatera Utara, memiliki sejarah panjang dengan Muhammadiyah.

 

Sejak kehadirannya pada tahun 1927, Muhammadiyah tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan dakwah Islam di Kota Medan, tetapi juga ikut memberikan warna penting dalam perkembangan pendidikan, sosial, keagamaan, dan kehidupan masyarakat.

Kehadiran Muhammadiyah di Medan pada masa itu memberikan dampak yang luar biasa. Gagasan pembaruan Islam yang dibawa Muhammadiyah menemukan ruang untuk tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang sedang mengalami perubahan.

Menariknya, perkembangan awal Muhammadiyah di Medan banyak dipengaruhi oleh para perantau. Para perantau Minangkabau yang telah mengenal gagasan pembaruan Islam dari kampung halaman ikut menjadi bagian penting dalam perkembangan awal Muhammadiyah di Medan.

Di antara tokoh-tokoh awal yang disebut dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah di Medan adalah Djuin Sutan Penghulu, Sutan Maradjo, dan Haji Syuaib. Mereka adalah para perantau yang berdagang di Medan. Namun, mereka tidak hanya sibuk dengan urusan ekonomi. Di sela-sela kesibukan berdagang, mereka berdiskusi, mengaji, dan membicarakan berbagai persoalan umat.

Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah sebuah gerakan besar mulai tumbuh.

Sejarah memang sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana. Tidak selalu dari gedung yang megah, tidak selalu dari forum yang besar, dan tidak selalu dari orang-orang yang memiliki kekuasaan.

Kadang-kadang, sebuah perubahan dimulai dari beberapa orang yang memiliki kegelisahan yang sama dan bersedia duduk bersama untuk mencari jalan keluar.

Pada 1 Juli 1928, kepengurusan Muhammadiyah di Medan kemudian terbentuk. Hr. Muhammad Said tercatat sebagai ketua pertama, dengan Djuin Sutan Penghulu sebagai wakil ketua dan Mas Pono sebagai sekretaris.

Perkembangan Muhammadiyah di Medan juga tidak dapat dilepaskan dari aktivitas dakwah tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Sutan Mansur dan Fakhruddin. Mereka ikut memperluas pengaruh dakwah Muhammadiyah di luar Pulau Jawa, termasuk di wilayah Sumatera.

Dari sinilah Muhammadiyah kemudian tumbuh semakin kuat.

Salah satu momentum penting dalam sejarah Muhammadiyah di Medan adalah ketika Kota Medan menjadi tempat berlangsungnya Kongres Muhammadiyah ke-28 pada 19–25 Juli 1939.

Kongres tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Muhammadiyah. Salah satu tokoh yang ikut aktif dalam kepanitiaan kongres itu adalah Buya Hamka.

Buya Hamka bukan hanya seorang ulama. Ia adalah intelektual, sastrawan, pemikir, dan tokoh Muhammadiyah yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Islam dan kebangsaan Indonesia.

Kehadiran Hamka dalam sejarah Muhammadiyah di Medan semakin memperlihatkan bahwa kota ini sejak dahulu telah menjadi ruang perjumpaan para ulama, intelektual, saudagar, aktivis, dan tokoh pergerakan.

Medan bukan hanya tempat berkembangnya sebuah organisasi. Medan adalah tempat bertemunya gagasan.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, sejarah kembali mempertemukan Muhammadiyah dengan Kota Medan dan Sumatera Utara. Namun, tentu saja, Indonesia hari ini bukan lagi Indonesia tahun 1939. Muktamar Muhammadiyah ke-49 berlangsung di tengah situasi Indonesia yang sudah jauh berubah dibandingkan masa Kongres Muhammadiyah ke-28.

Indonesia telah mengalami kemerdekaan, pergantian zaman, perubahan politik, perkembangan teknologi, globalisasi, revolusi digital, perubahan demografi, serta berbagai tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi Muhammadiyah pada tahun 1939.

Dunia juga telah berubah. Persoalan umat tidak lagi hanya berkaitan dengan keterbatasan akses pendidikan atau dakwah. Hari ini, umat berhadapan dengan tantangan disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, krisis lingkungan, perubahan ekonomi, ketimpangan sosial, politik identitas, arus informasi yang begitu cepat, serta berbagai persoalan kemanusiaan global.

Karena itu, Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara tentu membawa harapan yang besar.

Jika Kongres Muhammadiyah ke-28 pada tahun 1939 menjadi bagian dari perjalanan Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan zamannya, maka Muktamar ke-49 harus menjadi momentum bagi Muhammadiyah untuk menjawab tantangan zaman yang jauh lebih kompleks.

Dari Medan, Muhammadiyah pernah menyusun langkah perjuangan pada masa sebelum Indonesia merdeka. Kini, dari Medan dan Sumatera Utara, Muhammadiyah diharapkan kembali menyusun langkah besar untuk masa depan Indonesia dan dunia. Inilah yang membuat Muktamar ke-49 memiliki makna historis. Ia bukan hanya pertemuan organisasi. Ia adalah perjumpaan antara sejarah dan masa depan.

Dari masa lalu, Muhammadiyah belajar. Dari masa kini, Muhammadiyah membaca tantangan. Dan untuk masa depan, Muhammadiyah harus menyiapkan jawaban.

Dari masa ke masa, Muhammadiyah terus berkembang. Sekarang, seluruh kecamatan di Kota Medan telah memiliki Pimpinan Cabang Muhammadiyah. Bahkan, jumlah PCM di Kota Medan dalam perkembangannya dapat melebihi jumlah kecamatan yang ada.

Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah di Medan bukan sekadar organisasi yang memiliki sejarah panjang. Ia adalah organisasi yang terus hidup, bergerak, dan berkembang. Perkembangan itu dapat dilihat dari banyaknya amal usaha Muhammadiyah yang hadir di Kota Medan.

Ada Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara atau UMSU yang terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah penting di Indonesia. Ada sekolah-sekolah Muhammadiyah yang hadir mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas dan sederajat.

Ada rumah sakit, masjid, lembaga sosial, lembaga pendidikan, dan berbagai amal usaha lainnya.

Dakwah Muhammadiyah dengan demikian tidak hanya berlangsung di mimbar-mimbar masjid. Dakwah Muhammadiyah hadir di ruang kelas, rumah sakit, kampus, lembaga sosial, pusat-pusat pelayanan masyarakat, dan berbagai ruang kehidupan lainnya.

Inilah kekuatan Muhammadiyah. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi diwujudkan dalam bentuk amal nyata.

Mungkin karena itulah Muhammadiyah di Medan dikenal memiliki karakter pengamalan yang kuat dan militan. Semangat ber-Muhammadiyah di Medan bahkan pernah mendapat pengakuan dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir.

Tentu, militansi dalam Muhammadiyah tidak berarti sikap keras atau fanatisme sempit.

Militansi berarti kesungguhan. Kesungguhan dalam berdakwah. Kesungguhan dalam mengembangkan pendidikan. Kesungguhan dalam membangun amal usaha. Kesungguhan dalam melakukan kaderisasi. Kesungguhan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Boleh dikatakan, Medan merupakan salah satu kota dengan perkembangan Muhammadiyah paling pesat di Pulau Sumatera.

Namun, ada hal lain yang juga menarik dari Kota Medan. Kota ini tidak hanya memiliki sejarah panjang Muhammadiyah. Medan juga menjadi tempat lahir dan berkembangnya berbagai organisasi Islam yang sampai hari ini tetap eksis dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan umat.

Di kota ini lahir Al Jam’iyatul Washliyah, yang lebih dikenal sebagai Al Washliyah. Organisasi ini berdiri di Medan pada tahun 1930 dan memiliki sejarah panjang dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Di antara tokoh penting dalam sejarah pendiriannya adalah H. Abdurrahman Syihab, H. Ismail Banda, dan H. M. Arsyad Thalib Lubis.

Beberapa tahun kemudian, lahir pula Al Ittihadiyah pada tahun 1935. Organisasi ini didirikan oleh para ulama dan tokoh Islam Sumatera Timur, dengan Syekh H. Ahmad Dahlan sebagai salah satu tokoh utama pendiri bersama sejumlah tokoh lainnya.

Kemudian, Nahdlatul Ulama juga memiliki sejarah panjang di Medan dan Sumatera Utara.

NU di Sumatera Utara memiliki akar sejarah yang kuat di wilayah Tapanuli Selatan. Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara berdiri pada 9 Februari 1947. Dalam proses awal perkembangannya, peran para ulama dan alumni Madrasah Musthafawiyah Purba Baru sangat penting.

Salah satu ulama besar yang memberikan dukungan terhadap perkembangan NU adalah Syekh Musthafa Husein, ulama kharismatik dari Purba Baru, Mandailing Natal.

Dalam sejarah awal NU di Sumatera Utara, Padangsidimpuan menjadi salah satu tempat penting. Namun, dalam perkembangannya, Medan sebagai ibu kota provinsi kemudian menjadi pusat penting bagi aktivitas organisasi NU di Sumatera Utara.

Syekh Bahruddin Thalib Lubis tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal NU di Sumatera Utara. Perkembangan NU di Kota Medan juga tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama dan tokoh Islam yang memperkenalkan serta membangun kepengurusan NU di wilayah ini.

Dengan demikian, dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh, Medan dan Sumatera Utara menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya beberapa organisasi Islam besar. Muhammadiyah hadir sejak 1927. Al Washliyah berdiri di Medan pada 1930. Al Ittihadiyah berdiri pada 1935. Kemudian Nahdlatul Ulama hadir dan berkembang di Sumatera Utara sejak 1947.

Keempat organisasi ini memiliki sejarah, tradisi keilmuan, corak dakwah, dan basis sosial yang berbeda. Namun, semuanya telah memberikan kontribusi penting dalam membangun kehidupan umat Islam di Sumatera Utara.

Medan dengan demikian bukan hanya kota tempat berbagai etnis bertemu. Medan juga merupakan kota tempat berbagai tradisi keislaman bertemu.

Di kota ini, Muhammadiyah tumbuh dengan semangat tajdid dan Islam berkemajuan. Al Washliyah berkembang dengan kekuatan pendidikan dan dakwahnya. Al Ittihadiyah hadir dengan semangat persatuan dan penguatan umat. Sementara Nahdlatul Ulama membawa tradisi keilmuan pesantren, dakwah Ahlussunnah wal Jamaah, dan penguatan kehidupan keagamaan masyarakat. Semua memiliki jalan perjuangannya masing-masing.

Namun, semua juga memiliki tujuan yang sama: membangun umat, mencerdaskan masyarakat, memperkuat kehidupan keagamaan, dan memberikan kontribusi bagi bangsa.

Menariknya lagi, tiga organisasi Islam, yaitu Muhammadiyah, Al Washliyah, dan Al Ittihadiyah, sama-sama mendapatkan lahan di kawasan Teladan, Kota Medan, tepatnya di sekitar kawasan Gedung Arca.

Hal ini menjadi sesuatu yang unik dalam sejarah gerakan Islam di Kota Medan. Tiga organisasi Islam yang memiliki sejarah, tokoh, tradisi, dan corak perjuangan masing-masing ternyata memiliki jejak fisik dan sosial yang berdekatan dalam satu kawasan.

Di kawasan Teladan dan Gedung Arca, sejarah ketiga organisasi tersebut seakan-akan bertemu. Muhammadiyah dengan sejarah panjangnya sejak 1927. Al Washliyah yang lahir di Medan pada tahun 1930. Al Ittihadiyah yang berdiri pada tahun 1935.

Ketiganya lahir dalam suasana sejarah yang hampir berdekatan, ketika umat Islam di Sumatera Timur sedang menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman.

Ketiganya juga menjadikan pendidikan, dakwah, dan penguatan umat sebagai bagian penting dari perjuangannya.

Tentu, masing-masing organisasi tetap memiliki identitas, tradisi, dan jalan perjuangannya sendiri. Namun, keberadaan mereka dalam satu kawasan juga mengingatkan kita bahwa perbedaan organisasi tidak harus menghilangkan persaudaraan dan kebersamaan.

Justru, keberagaman gerakan Islam itulah yang membuat sejarah keislaman di Kota Medan menjadi kaya.

Medan bukan hanya kota perdagangan dan perjumpaan berbagai etnis. Medan juga merupakan kota perjumpaan berbagai gagasan dan gerakan Islam.

Dari sinilah kita dapat belajar bahwa perbedaan organisasi tidak harus berakhir pada pertentangan. Sebuah kota dapat menjadi kuat justru karena memiliki banyak energi sosial yang hidup. Muhammadiyah, Al Washliyah, Al Ittihadiyah, Nahdlatul Ulama, dan berbagai organisasi Islam lainnya telah memberikan warna dalam perjalanan panjang Islam di Kota Medan dan Sumatera Utara. Masing-masing memiliki sejarah perjuangan, tokoh, kader, amal usaha, dan kontribusi yang berbeda.

Namun, dalam konteks kebangsaan, semuanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga umat, membangun pendidikan, memperkuat moral masyarakat, dan memberikan kontribusi bagi Indonesia.

Menariknya, Muhammadiyah sendiri di Medan juga tumbuh melalui perjumpaan berbagai etnis dan budaya. Pada fase awal, para perantau Minangkabau memiliki peran penting. Mereka membawa tradisi intelektual dan semangat pembaruan Islam. Para perantau Mandailing kemudian ikut memperkuat jaringan dakwah dan pendidikan.

Masyarakat Jawa turut mengembangkan berbagai amal usaha dan basis sosial.

Belakangan, masyarakat Batak juga semakin memperluas warna dan kekuatan Muhammadiyah di Sumatera Utara.

Sementara itu, meskipun Medan dikenal memiliki akar sejarah Melayu yang kuat, masyarakat Melayu yang aktif dalam gerakan Muhammadiyah tidak sebanyak kelompok etnis lainnya.

Ini merupakan dinamika sejarah yang menarik. Sebab, sebuah gerakan tidak selalu tumbuh mengikuti peta mayoritas penduduk.

Kadang-kadang, sebuah gagasan justru berkembang melalui para pendatang, para perantau, dan orang-orang yang datang dari berbagai daerah dengan membawa pengalaman, pemikiran, dan semangat baru. Muhammadiyah di Medan adalah salah satu contohnya. Para perantau Minang, Mandailing, Jawa, Batak, Melayu, dan berbagai latar belakang lainnya kemudian bertemu dalam satu rumah besar bernama Muhammadiyah.

Di sinilah kita melihat bahwa Muhammadiyah sesungguhnya memiliki kekuatan besar untuk melampaui batas-batas primordial. Muhammadiyah tidak bertanya seseorang berasal dari suku mana.

Muhammadiyah lebih penting bertanya: apa yang dapat kita lakukan untuk Islam, umat, bangsa, dan kemanusiaan?

Karena itu, Muhammadiyah bukan hanya organisasi yang dibangun oleh kesamaan asal-usul. Muhammadiyah dibangun oleh kesamaan cita-cita. Cita-cita untuk menghadirkan Islam yang mencerahkan. Cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita-cita untuk membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dan cita-cita untuk menghadirkan rahmat bagi semesta.

Kini, sejarah panjang itu sedang memasuki babak baru. Kota Medan dan Sumatera Utara sedang mempersiapkan diri dengan serius untuk menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 tahun 2027.

Muktamar Muhammadiyah ke-49 dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” bukan sekadar agenda lima tahunan Persyarikatan. Ia adalah momentum untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi Muhammadiyah, khususnya bagi masyarakat Kota Medan dan Sumatera Utara.

Tema tersebut mengandung pesan yang sangat dalam. Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi organisasi yang besar secara jumlah, luas secara struktur, dan banyak amal usahanya. Muhammadiyah harus terus menghadirkan kecerdasan, pencerahan, dan cahaya bagi kehidupan.

Kecerdasan bangsa tidak hanya dibangun melalui pendidikan formal. Ia juga dibangun melalui penguatan iman, akhlak, ilmu pengetahuan, kesehatan, ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan sosial.

Sementara semesta yang bercahaya berarti bahwa keberadaan Muhammadiyah harus semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Karena itu, Muktamar ke-49 harus meninggalkan warisan yang lebih besar daripada sekadar suksesnya penyelenggaraan sebuah acara.

Muktamar harus melahirkan energi baru bagi gerakan Muhammadiyah di Sumatera Utara.

Khusus bagi Kota Medan dan Sumatera Utara, Muktamar ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan, memperluas pelayanan kesehatan, mengembangkan ekonomi umat, memperkuat kaderisasi, meningkatkan kualitas dakwah, dan memperbesar kontribusi Muhammadiyah dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

Muktamar juga harus membangun legacy. Setelah ribuan peserta dari seluruh Indonesia meninggalkan Sumatera Utara, jangan sampai yang tersisa hanya kenangan tentang acara yang meriah. Yang harus tersisa adalah sekolah yang semakin maju, kampus yang semakin kuat, rumah sakit yang semakin baik, kader yang semakin berkualitas, dakwah yang semakin mencerahkan, dan masyarakat yang semakin merasakan manfaat kehadiran Muhammadiyah.

Salah satu bagian penting dari persiapan tersebut adalah pembangunan Kampus IV UMSU di Desa Seintis, Kecamatan Percut Sei Tuan. Secara administratif, Desa Seintis berada di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Namun, secara geografis, kawasan ini lebih dekat dengan Kota Medan dan memiliki hubungan yang sangat erat dengan perkembangan kawasan metropolitan Medan.

Di kawasan inilah Muhammadiyah Sumatera Utara sedang menyiapkan sebuah kawasan besar yang diharapkan menjadi bagian penting dari pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49.

Pembangunan tersebut memperlihatkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Muhammadiyah sedang menyiapkan masa depan.

Dari Medan, Muhammadiyah pernah menulis sejarah pada tahun 1939. Dari Medan dan Sumatera Utara, Muhammadiyah kini sedang bersiap menulis sejarah baru pada tahun 2027. Sejarah tentang sebuah gerakan yang tidak hanya mampu bertahan selama lebih dari satu abad, tetapi juga terus berkembang, melakukan pembaruan, dan menghadirkan cahaya bagi kehidupan.

Mungkin inilah makna penting dari perjalanan Muhammadiyah di Medan. Sebuah gerakan yang dahulu tumbuh dari pertemuan para perantau, dari pengajian dan diskusi sederhana, kini telah berkembang menjadi jaringan dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan yang luas.

Dari beberapa orang yang dahulu duduk bersama, kini tumbuh ribuan kader dan warga Muhammadiyah. Dari ruang-ruang sederhana, lahir sekolah, kampus, rumah sakit, masjid, dan berbagai amal usaha. Dari sebuah gagasan pembaruan, tumbuh sebuah gerakan yang terus menyalakan cahaya.

Karena itu, sejarah Muhammadiyah di Medan sesungguhnya bukan hanya sejarah tentang berdirinya cabang, ranting, sekolah, masjid, perguruan tinggi, rumah sakit, atau amal usaha. Ia adalah sejarah tentang perjumpaan manusia dari berbagai latar belakang yang kemudian dipersatukan oleh gagasan Islam berkemajuan.

Sejarah panjang yang dimulai sejak 1927, kemudian mendapat momentum besar melalui Kongres Muhammadiyah ke-28 tahun 1939, terus berlanjut hingga hari ini.

Dari generasi ke generasi, Muhammadiyah di Medan terus tumbuh, bergerak, dan mengambil peran penting dalam peta dakwah Islam di Sumatera Utara.

Kini, Muktamar Muhammadiyah ke-49 menjadi salah satu babak penting berikutnya. Sebuah babak yang mempertemukan sejarah, amal usaha, kaderisasi, pendidikan, dakwah, dan masa depan Muhammadiyah.

Sebab, sebuah kota yang pernah menjadi tempat berlangsungnya kongres besar Muhammadiyah pada tahun 1939, kini sedang bersiap kembali menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Muhammadiyah Indonesia.

Medan dan Sumatera Utara tidak hanya sedang menyambut Muktamar. Mereka sedang menulis sejarah baru. Sejarah tentang bagaimana sebuah gerakan Islam dapat tumbuh dari perjumpaan berbagai suku, budaya, dan latar belakang. Sejarah tentang bagaimana dakwah dapat diwujudkan dalam ilmu, pendidikan, kesehatan, pelayanan, dan amal nyata. Dan sejarah tentang bagaimana Muhammadiyah terus berusaha menjawab tantangan zaman.

Semoga Muktamar Muhammadiyah ke-49 benar-benar menjadi momentum bagi Muhammadiyah untuk semakin cerdas dalam membaca zaman, luas dalam memberikan manfaat, dan bercahaya dalam menerangi semesta. Sebab tentu saja ukuran kebesaran Muhammadiyah bukan hanya seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dari Sumatera Utara, dari Kota Medan, semoga cahaya itu semakin terang dan menjangkau lebih jauh. Cerdas bangsanya. Bercahaya semestanya. (*)

 

Tags: Muhammadiyah MedanMuktamar 49Sejarah Muhammadiyah MedanTulisan Jufri

Related Posts

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah
Jufri Daily

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah

8 Agustus 2026
44
Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas
Daerah

Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas

7 Agustus 2026
24
Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban
Daerah

Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban

7 Agustus 2026
30
Membangun Semangat dari Daerah Penyangga, Menyongsong Sejarah Muktamar 49 Muhammadiyah
'Aisyiyah

Membangun Semangat dari Daerah Penyangga, Menyongsong Sejarah Muktamar 49 Muhammadiyah

3 Agustus 2026
22
Polda Sumut Siap Kawal dan Sukseskan Muktamar 49 Muhammadiyah
Daerah

Polda Sumut Siap Kawal dan Sukseskan Muktamar 49 Muhammadiyah

3 Agustus 2026
30
Silaturahim ke UMSU, UMN Al Washliyah Siap Sukseskan Muktamar 49 Muhammadiyah~Aisyiyah 2027
Daerah

Silaturahim ke UMSU, UMN Al Washliyah Siap Sukseskan Muktamar 49 Muhammadiyah~Aisyiyah 2027

1 Agustus 2026
17

Recent Posts

  • Perkuat Ekosistem Digital Kampus, Rektor UMSU Temui Menteri Komdigi Meutya Hafid
  • Jadi Kontingen Terbesar di ASEAN, UMSU Utus 47 Mahasiswa Kuliah dan Studi Pengalaman di Malaysia
  • Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
  • Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara
  • Memperkuat Karakter dan Pengabdian, FH UMSU Lepas 441 Mahasiswa Peserta KKN 2026

Recent Comments

  1. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  2. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  3. Ashsaism mengenai IMM Sumsel Dukung Zaki Nugraha jadi Caketum pada Muktamar IMM XX Palembang
  4. Ay mengenai Temanku
  5. Akuntansi mengenai Dukung Swasembada Pangan Nasional, Penyuluh Pertanian OKUT Normalisasi Saluran Irigasi

Follow Global Journal on:

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

© 2026 JNews – Premium WordPress News & Magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?
Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required.
Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.