Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Tidak semua orang mendapat kesempatan menjadi tuan rumah sebuah perhelatan besar. Namun setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk menjadi penyambut yang baik bagi mereka yang sedang dalam perjalanan menuju perhelatan itu.
Semangat itulah yang kini terasa di Masjid Taqwa Muhammadiyah Lubuk Baru. Masjid yang berdiri di Jalan Lintas Sumatera Medan-Pematang Siantar ini terus berbenah dan mempersiapkan diri menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tahun 2027 di Sumatera Utara.
Direncanakan, masjid ini akan menjadi salah satu tempat persinggahan bagi para muktamirin yang melintasi Tebing Tinggi sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi muktamar. Sebuah peran yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki makna besar dalam tradisi dakwah, pelayanan umat, dan persaudaraan Muhammadiyah.
Sejak dahulu, Tebing Tinggi dikenal sebagai kota persinggahan, kota perjumpaan, dan kota perjalanan. Letaknya yang berada di persimpangan jalur strategis menjadikannya tempat bertemunya berbagai manusia, budaya, bahasa, dan harapan. Orang datang dan pergi, singgah dan melanjutkan perjalanan, tetapi kota ini selalu memiliki cara untuk meninggalkan kesan bagi siapa saja yang melewatinya.
Tidak berlebihan jika Tebing Tinggi Deli disebut sebagai kota persahabatan dan kota harapan. Banyak perjalanan besar yang pernah melewati kota ini, dan banyak pula cerita kehidupan yang berawal dari sebuah persinggahan sederhana.
Kini sejarah itu seperti kembali berulang.
Ketika ribuan warga Muhammadiyah dari berbagai daerah datang menuju Sumatera Utara untuk menghadiri Muktamar, sebagian dari mereka akan melewati kota ini. Dan di pinggir Jalan Lintas Sumatera itu, Masjid Taqwa Lubuk Baru sedang mempersiapkan diri untuk menyambut mereka.
Posisi masjid yang berada di jalur utama Medan-Pematang Siantar menjadikannya sangat strategis. Ribuan kendaraan melintas setiap hari membawa para musafir, pekerja, pedagang, mahasiswa, dan pelancong yang membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, dan menunaikan kewajiban kepada Allah.
Karena itulah, masjid ini tidak hanya dibangun sebagai tempat shalat semata, tetapi juga dipersiapkan menjadi rumah singgah bagi siapa saja yang membutuhkan.
Ke depan, Masjid Taqwa Lubuk Baru direncanakan akan dilengkapi dengan area parkir yang representatif, pusat kuliner, kamar-kamar musafir, serta minuman gratis bagi para pelintas jalan yang singgah untuk beristirahat dan beribadah.
Sesungguhnya di situlah ruh sebuah masjid kembali dihidupkan.
Pada masa awal Islam, masjid bukan hanya tempat shalat berjamaah. Masjid adalah pusat peradaban, tempat belajar, tempat bermusyawarah, tempat menyusun strategi umat, bahkan tempat berlindung dan beristirahat bagi para musafir. Masjid hadir sebagai rumah bersama yang pintunya terbuka bagi siapa saja.
Masjid Taqwa Lubuk Baru tampaknya sedang bergerak menuju arah itu.
Menariknya lagi, masjid ini merupakan pindahan dari Masjid Muhammadiyah Lubuk Baru yang lama. Seolah ada semangat yang ikut berpindah bersama batu, semen, dan besi yang kini perlahan menjelma menjadi bangunan baru yang lebih besar dan lebih siap melayani zaman.
Saat ini pembangunan masjid telah mencapai sekitar enam puluh persen. Lantai dua bahkan telah selesai dipasang keramik dan secara fisik sudah dapat digunakan untuk shalat berjamaah, meskipun belum sepenuhnya difungsikan sebagaimana rencana akhirnya nanti.
Setiap keramik yang terpasang, setiap dinding yang berdiri, dan setiap tiang yang menjulang sesungguhnya menyimpan cerita tentang gotong royong, keikhlasan, dan pengorbanan banyak orang yang ingin meninggalkan amal jariyah bagi generasi berikutnya.
Muktamar memang hanya berlangsung beberapa hari.
Namun masjid yang dibangun dengan semangat pelayanan akan hidup puluhan bahkan ratusan tahun setelahnya.
Boleh jadi nanti ada peserta muktamar yang hanya singgah beberapa menit di tempat ini. Mungkin hanya untuk shalat, beristirahat sejenak, meminum segelas air, atau menikmati hidangan sederhana sebelum melanjutkan perjalanan. Tetapi sering kali yang diingat orang dari sebuah perjalanan bukan hanya tujuan akhirnya, melainkan juga tempat-tempat persinggahan yang memberinya kenyamanan dan kehangatan.
Terkadang orang lupa nama gedung tempat acara berlangsung, tetapi mereka mengingat senyum yang menyambutnya, air minum yang menghilangkan dahaga, dan masjid yang memberinya tempat beristirahat ketika perjalanan terasa panjang.
Di situlah letak keindahan pelayanan.
Tidak selalu harus berada di panggung utama untuk menjadi bagian dari sejarah.
Ada yang menjadi penyelenggara, ada yang menjadi peserta, dan ada pula yang menjadi penyambut di sepanjang perjalanan. Semuanya memiliki nilai yang sama dalam sebuah perjuangan besar.
Masjid Taqwa Lubuk Baru sedang mempersiapkan diri untuk mengambil peran itu.
Menjadi tempat singgah bagi para musafir.
Menjadi rumah bagi para pelintas jalan.
Menjadi titik perjumpaan bagi persaudaraan.
Dan menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar, tetapi sering kali dimulai dari pelayanan, keramahan, dan segelas air bagi mereka yang sedang dalam perjalanan.
Dari tepi Jalan Lintas Sumatera, sebuah masjid sedang tumbuh perlahan.
Bukan hanya membangun bangunan, tetapi juga membangun budaya melayani.
Bukan hanya menyiapkan ruang untuk shalat, tetapi juga menyiapkan ruang bagi persaudaraan dan peradaban.
Semoga langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini menjadi bagian dari ikhtiar besar Muhammadiyah untuk mewujudkan Islam Berkemajuan, menghadirkan manfaat bagi umat dan bangsa, serta menggerakkan cita-cita besar persyarikatan: Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.
Dan siapa tahu, kelak ketika Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 dikenang orang, ada sebagian kecil cerita yang berawal dari sebuah persinggahan sederhana di Masjid Taqwa Lubuk Baru, di Kota Tebing Tinggi Deli, kota persinggahan, kota perjumpaan, kota persahabatan, dan kota harapan di jalur panjang Pulau Sumatera.Semoga Masjid Taqwa Lubuk Baru tidak hanya menjadi tempat singgah para musafir, tetapi juga menjadi tempat lahirnya persaudaraan, pelayanan, dan amal jariyah yang terus mengalir dari generasi ke generasi. (*)












