Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
“Orang Batak itu keras, tegas, dan lugas.”
Begitulah stereotip yang selama ini sering dilekatkan kepada masyarakat Batak. Stereotip memang lahir dari pengalaman banyak orang, tetapi tidak pernah mampu menggambarkan seluruh kenyataan. Sebab, setiap manusia memiliki karakter yang unik. Suku boleh sama, tetapi kepribadian bisa sangat berbeda.
Saya sendiri sudah sekitar tiga puluh tahun “menjadi orang Batak”. Selama kurun waktu itu saya melihat, merasakan, dan belajar bahwa tidak semua orang Batak memiliki karakter keras sebagaimana anggapan umum. Bahkan saya pernah bertemu dengan orang Batak asli yang lahir dan besar di Sumatera Utara, tetapi tutur katanya sangat lembut, nyaris tak terdengar. Cara berbicaranya tenang, santun, dan penuh kehati-hatian, saya masih ingat beliau orang Porsea Toba, bersama dalam rentang tahun 2012-2014 yang lalu .
Salah seorang yang menurut saya termasuk unik dan berkesan adalah Prof. Dr. Ali Imran Sinaga , Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara sekaligus Guru Besar UIN Sumatera Utara. Karena hubungan kami sudah cukup akrab dan beliau juga merupakan senior yang saya hormati, saya sering berseloroh mengatakan bahwa beliau adalah “orang Batak yang tertukar.”
Tentu itu hanya candaan yang lahir dari kedekatan dan rasa hormat. Sebab, selama mengenal beliau, saya hampir tidak pernah melihat beliau marah. Wajahnya mudah dihiasi senyum, tutur katanya lembut, dan saya hampir tidak pernah mendengar beliau berbicara dengan nada tinggi. Beliau berbicara seperlunya, tidak berlebihan, dan sama sekali tidak menampilkan kesan ingin menonjolkan diri.
Namun, kelembutan itu sama sekali tidak mengurangi wibawa keilmuannya. Justru ketika menyampaikan materi, beliau tampil sangat menarik dan mengagumkan. Penjelasannya runtut, argumentasinya kuat, dan mampu membuat peserta mengikuti setiap uraian dengan penuh perhatian. Pada kegiatan Darul Arqam pekan lalu pun beliau tetap tampil dengan gaya yang sama; tenang, sederhana, tetapi berbobot.
Ada satu momen yang masih membekas dalam ingatan saya. Hari Minggu lalu, ketika kami berdiri berdampingan sambil menikmati dan menghayati tarian Batak dalam suasana penuh keakraban, saya menggoda beliau, “Tampak juga Abang orang Batak.”
Beliau langsung menoleh sambil melemparkan senyum khasnya yang teduh. Dengan nada tenang beliau menjawab, “Memang orang Batak kok.”
Jawaban sederhana itu membuat kami sama-sama tersenyum. Entah mengapa, saat itu saya justru merasa menjadi semakin Batak. Irama gondang yang mengalun, gerak tarian yang penuh makna, serta kebersamaan yang kami rasakan membuat saya semakin bersemangat menghayati tarian tersebut. Mungkin begitulah budaya bekerja. Ia tidak hanya diwariskan melalui darah dan marga, tetapi juga melalui rasa memiliki dan kebersamaan.
Kalau ada yang menunjukkan “Bataknya” menurut saya, mungkin hanya dua hal. Pertama, marganya yang jelas menunjukkan identitas Batak. Kedua, ketika beliau berbicara dalam bahasa Batak. Apalagi saat menjelaskan persoalan-persoalan teologis dengan merujuk pada Alkitab dalam bahasa Batak. Kemampuan itu merupakan salah satu keahlian beliau yang tidak banyak dimiliki orang.
Keahlian tersebut tampaknya tidak lahir begitu saja. Beliau adalah putra almarhum Ayahanda Ustadz Imran Sinaga, seorang mubaligh Muhammadiyah yang sangat dikenal di Sumatera Utara karena kepiawaiannya berdialog secara teologis dengan kalangan non-Muslim. Tradisi keilmuan, keluasan wawasan, dan ketenangan dalam berdialog seakan mengalir dari ayah kepada putranya.
Setiap orang memiliki karakter dan keunikannya masing-masing. Tidak ada yang harus menjadi salinan orang lain. Saya sendiri mungkin, menurut Bang Ali Imran, akan lebih baik jika berjenggot agar tampak lebih pendiam. Tentu saya hanya tersenyum mendengarnya. Rasanya hal itu tidak mungkin, karena justru akan menghilangkan diri saya sendiri. Saya tetaplah saya, dengan cara saya berbicara, bercanda, dan berinteraksi dengan banyak orang. Sebaliknya, biarlah Bang Ali Imran tetap menjadi dirinya sendiri dengan kelembutan, keteduhan, dan kebijaksanaan yang menjadi ciri khasnya.
Bukankah Allah menciptakan manusia dengan watak, bakat, dan kelebihan yang berbeda-beda? Yang terpenting bukan menyamakan karakter, melainkan menyamakan tujuan. Dalam keluarga besar Muhammadiyah, perbedaan karakter bukanlah alasan untuk saling menjauh, tetapi justru menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Ada yang berbicara dengan tenang, ada yang lebih ekspresif. Ada yang banyak bekerja dalam diam, ada pula yang lebih sering tampil di depan. Semuanya memiliki ruang untuk berkhidmat.
Karena itu, tugas kita bukan mengubah orang lain agar menjadi seperti diri kita, melainkan terus belajar, saling memahami , saling melengkapi, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Biarlah Bang Ali Imran menjadi dirinya sendiri, dan biarlah saya tetap menjadi diri saya sendiri. Yang terpenting, kami tetap berjalan pada jalan yang sama, saling menghormati sebagai satu keluarga besar Muhammadiyah, sekaligus sebagai saudara seiman dan se-Islam.
Pengalaman ini kembali mengingatkan saya bahwa jangan pernah menilai seseorang hanya dari stereotip sukunya. Di balik marga yang dikenal keras, bisa saja bersemayam pribadi yang sangat lembut. Sebaliknya, di balik kelembutan, bisa tersimpan ketegasan dalam prinsip dan keluasan ilmu.
Mungkin itulah pelajaran yang diberikan Bang Ali Imran Sinaga kepada kami . Bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Justru kelembutan yang berpadu dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan sering kali menjadi bentuk dakwah yang paling menyentuh hati.
Darul Arqom selama empat hari tiga malam itu telah memberikan begitu banyak kesan dan makna dalam menerapkan Islam yang berkemajuan,Islam yang mencerahkan , dan Islam yang inklusif. Islam menjadikan kita bersaudara dalam ikatan yang kuat tanpa membedakan latar belakang suku dan kebudayaan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
