Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Ada satu kalimat yang paling menarik perhatian saya ketika membaca kabar dari Gedung Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara hari ini. Kalimat itu bukan tentang besarnya nilai wakaf, bukan pula tentang luasnya lahan pesantren yang akan diserahkan. Yang paling membekas justru sebuah ungkapan sederhana.
“Walau badan saya tidak di Muhammadiyah, tetapi hati dan pikiran saya ada di Muhammadiyah.”
Kalimat itu diucapkan Bapak Abdullah Sony Batubara ketika bersama para pembina Yayasan Pesantren Uswatun Hasanah Tuntungan II datang ke Gedung Dakwah Muhammadiyah jalan Sisingamangaraja Medan , dan diterima oleh Prof. Hasrat Efendi Samosir dan Drs. Mario Kasduri, M.A. mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara. Mereka menyampaikan keinginan untuk mewakafkan Pesantren Uswatun Hasanah Tuntungan II yang berada tidak jauh dari Kampus UIN Sumatera Utara agar dikelola oleh Muhammadiyah.
Saya ikut merasa senang dan bersyukur membaca kabar tersebut, rasanya saya juga berada disana dan menyaksikan moment istimewa tersebut. Bagi saya, berita itu bukan sekadar tentang bertambahnya sebuah amal usaha Muhammadiyah. Yang sesungguhnya sedang bertambah adalah kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah.
Satu lagi amal usaha Muhammadiyah akan hadir berkat kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah Sumatera Utara. Ini tentu menjadi kabar yang menggembirakan sekaligus menambah semangat seluruh warga persyarikatan menjelang pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara. Kepercayaan yang terus berdatangan menjadi isyarat bahwa masyarakat menaruh harapan besar kepada Muhammadiyah untuk terus berkontribusi dalam bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Apalagi keluarga pewakaf merupakan keluarga yang dikenal luas oleh masyarakat Sumatera Utara. Pilihan mereka menitipkan amanah kepada Muhammadiyah tentu memiliki makna tersendiri. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah masih dipandang sebagai organisasi yang memiliki tata kelola yang baik, amanah, dan mampu menjaga serta mengembangkan aset umat untuk kepentingan dakwah dan pendidikan.
Namun, kepercayaan ini di samping merupakan sebuah peluang, sekaligus amanah yang cukup berat. Amanah untuk menjaga semangat, cita-cita, dan niat mulia para pewakaf agar benar-benar terwujud dalam pengelolaan yang profesional, produktif, dan berkelanjutan. Sebab yang diwakafkan bukan hanya tanah, bangunan, atau sebuah pesantren, tetapi juga harapan agar amal jariyah itu terus mengalir manfaatnya hingga generasi-generasi berikutnya.
Sebagai organisasi Islam Berkemajuan, kepercayaan kepada Muhammadiyah juga merupakan sebuah tantangan. Tantangan untuk terus membuktikan bahwa Muhammadiyah tetap menjadi gerakan yang unggul, terpercaya, adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap kokoh memegang nilai-nilai Islam. Kepercayaan masyarakat harus dijawab dengan tata kelola yang baik, kepemimpinan yang amanah, pelayanan yang berkualitas, serta komitmen untuk terus menghadirkan kemajuan bagi umat dan bangsa.
Kepercayaan memang tidak pernah datang secara tiba-tiba.
Ia dibangun oleh waktu yang panjang. Ia lahir dari ribuan orang yang bekerja dalam diam, dari para guru yang mengajar dengan ikhlas, para dosen yang mencerdaskan kehidupan bangsa, tenaga kesehatan yang melayani tanpa membedakan latar belakang, para pengelola amal usaha yang menjaga setiap amanah dengan penuh tanggung jawab, hingga para kader yang terus menghidupkan dakwah di berbagai pelosok negeri. Semua itu perlahan membentuk keyakinan masyarakat bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang dapat dipercaya.
Itulah sebabnya, ketika seseorang hendak mewakafkan aset yang nilainya tidak kecil, pertanyaan pertama bukanlah siapa yang paling populer, melainkan siapa yang paling dipercaya untuk menjaganya.
Dalam kehidupan, reputasi memang penting. Namun kepercayaan jauh lebih mahal daripada sekadar popularitas. Popularitas dapat dibangun dengan publikasi, tetapi kepercayaan hanya dapat dibangun melalui integritas, konsistensi, dan pengabdian.
Muhammadiyah telah membuktikan hal itu selama lebih dari satu abad. Amal usaha yang tersebar dari kota besar hingga pelosok desa menjadi bukti bahwa organisasi ini tidak hanya berbicara tentang dakwah, tetapi menghadirkannya dalam bentuk karya nyata. Sekolah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat menjadi wajah Islam yang mencerahkan dan membawa manfaat bagi semua.
Yang menarik, mereka yang memberikan kepercayaan itu tidak selalu berasal dari keluarga besar Muhammadiyah. Banyak yang berasal dari latar belakang organisasi yang berbeda. Namun mereka tetap memilih Muhammadiyah karena melihat rekam jejaknya. Mereka percaya bahwa amanah akan dijaga dengan baik dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat.
Di situlah letak pelajaran besarnya. Orang tidak selalu melihat dari mana kita berasal, tetapi bagaimana kita bekerja, bagaimana kita mengelola amanah, dan bagaimana kita mempertanggungjawabkannya.
Kepercayaan adalah hasil dari konsistensi antara kata dan perbuatan.
Semoga wakaf Pesantren Uswatun Hasanah Tuntungan II menjadi awal lahirnya pusat-pusat pendidikan baru yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, dan berkemajuan. Semoga momentum ini juga semakin menguatkan optimisme warga Muhammadiyah Sumatera Utara dalam menyongsong Muktamar Muhammadiyah ke-49, bukan hanya sebagai tuan rumah yang baik, tetapi juga sebagai wilayah yang terus menunjukkan kemajuan amal usaha dan semakin mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Kalimat yang disampaikan Bapak Abdullah Sony Batubara sesungguhnya bukan sekadar ungkapan simpati kepada Muhammadiyah. Ia adalah titipan kepercayaan yang harus dijaga, dirawat, dan dibuktikan dari waktu ke waktu. Sebab, aset terbesar Muhammadiyah bukan hanya tanah, gedung, atau amal usaha yang dimilikinya. Aset terbesar Muhammadiyah adalah kepercayaan masyarakat.
Mudah-mudahan amanah yang datang hari ini menjadi penyemangat untuk terus berbenah. Sebab selama Muhammadiyah mampu menjaga kepercayaan itu dengan keikhlasan, profesionalisme, dan semangat melayani, selama itu pula Muhammadiyah akan tetap tumbuh sebagai Gerakan Islam Berkemajuan yang unggul, terpercaya, dan senantiasa menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Semoga bertambahnya amal usaha Muhammadiyah di Sumatera Utara menjadi bagian dari ikhtiar besar menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-49. Dari Tanah Deli, mari kita kuatkan tekad untuk menghadirkan Muhammadiyah yang semakin maju, semakin dipercaya, dan semakin memberi manfaat, sejalan dengan semangat Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara: “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

















