TAJDID.ID~Gresik || Karakter menjadi fondasi utama keberhasilan seorang mubaligh Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah yang mencerahkan, menggerakkan, memberdayakan, dan menggembirakan umat. Pesan tersebut disampaikan oleh Kyai Sholihin dalam kegiatan Diklat Mubaligh Muda Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik di Perguruan Muhammadiyah Mojopetung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Sabtu (11/7/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 34 peserta yang merupakan utusan Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Gresik. Diklat bertujuan membekali mubaligh muda dengan wawasan keislaman, kepemimpinan, serta penguatan karakter sebagai bekal menjalankan dakwah di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Kyai Sholihin menegaskan bahwa karakter mubaligh Muhammadiyah harus meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW, yaitu shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas). Keempat sifat tersebut menjadi landasan moral sekaligus pedoman dalam menyampaikan risalah Islam kepada umat.
Selain itu, karakter mubaligh Muhammadiyah juga harus berpijak pada nilai-nilai Islam Berkemajuan, yakni bertauhid secara murni, berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, menghidupkan semangat ijtihad, mengedepankan sikap wasathiyah (moderat), serta menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Kyai Sholihin menjelaskan terdapat lima karakter utama yang perlu dimiliki setiap mubaligh Muhammadiyah. Pertama, karakter sebagai ulama, yaitu memiliki penguasaan ilmu agama yang baik serta menjadi teladan dalam pengamalan ajaran Islam.
Kedua, karakter sebagai zuama, yakni memiliki jiwa kepemimpinan, mampu menggerakkan organisasi, serta menjadi motor penggerak berbagai amal kebajikan di tengah masyarakat.
Ketiga, karakter sebagai aulia, yaitu pribadi yang dekat dengan Allah SWT, memiliki kepedulian sosial, serta senantiasa ringan tangan dalam membantu sesama.
Keempat, karakter sebagai anbiya, yakni konsisten menyampaikan kebenaran, mengajak kepada kebajikan, mencegah kemungkaran, serta terus mengingatkan masyarakat agar taat kepada Allah SWT.
Kelima, karakter sebagai aghniya, yaitu memiliki semangat berbagi, gemar menolong, peduli terhadap persoalan sosial, serta memiliki empati yang tinggi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Kyai Sholihin, kelima karakter tersebut harus menjadi identitas sekaligus kekuatan utama mubaligh Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan dakwah di era modern. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan melalui keteladanan, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi kemajuan umat.
Melalui Diklat Mubaligh Muda Muhammadiyah ini diharapkan lahir kader-kader mubaligh yang berilmu, berakhlak mulia, memiliki jiwa kepemimpinan, serta mampu menghadirkan dakwah Islam yang mencerahkan, memajukan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas. (Hendra Apriyadi)
