Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Dalam budaya Indonesia, kancil bukan sekadar tokoh dalam cerita rakyat. Ia telah lama menjadi simbol kecerdikan, kecerdasan, ketangkasan, serta kemampuan membaca situasi. Tubuhnya kecil, tetapi pikirannya besar. Geraknya lincah, langkahnya cepat, dan sering kali mampu menemukan jalan keluar ketika yang lain melihat jalan buntu.
Karena itulah, dalam kehidupan berbangsa, istilah “kancil” kerap disematkan kepada tokoh-tokoh yang dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata. BJ Habibie, misalnya, sering dipandang sebagai sosok jenius yang mampu membawa Indonesia memasuki era teknologi dirgantara. Adam Malik dikenang sebagai diplomat ulung yang piawai membaca konstelasi politik internasional.
Dalam sejarah Indonesia, sebutan “si kancil” juga pernah dilekatkan kepada Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Tokoh pergerakan dan negarawan ini dikenal memiliki kecerdasan intelektual yang luar biasa, piawai berdiplomasi, serta mampu membaca arah perubahan dunia pada masa awal kemerdekaan. Dengan postur tubuh yang tidak besar, Sjahrir membuktikan bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan terletak pada fisiknya, melainkan pada keluasan wawasan, ketajaman berpikir, dan keberanian mengambil keputusan. Julukan itu lahir sebagai bentuk penghormatan atas kecerdasan dan kelincahannya dalam menghadapi berbagai tantangan politik pada masa revolusi.
Belakangan, dalam sebuah acara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Presiden Prabowo Subianto juga menyebut ada tiga “kancil”, yaitu Muhaimin Iskandar, Sufmi Dasco Ahmad, dan Bahlil Lahadalia. Penyebutan tersebut merupakan metafora politik yang menggambarkan kecerdikan, kelincahan, serta kemampuan mereka membaca dinamika dan mencari jalan keluar dalam berbagai persoalan.
Dalam kehidupan organisasi, sosok-sosok seperti ini juga selalu ada. Mereka tidak selalu tampil paling keras berbicara, tetapi sering menjadi orang yang menemukan solusi. Mereka tidak selalu mendominasi panggung, tetapi mampu menggerakkan banyak orang melalui gagasan, strategi, dan jejaring yang dibangunnya. Seorang “kancil” bukan diukur dari besarnya jabatan, melainkan dari besarnya pengaruh yang ditinggalkan.
Di Muhammadiyah Sumatera Utara, harapan itu kini juga dapat disematkan kepada Prof Dr Akrim MPd yang baru mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Beliau memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan yang cerdas mampu melahirkan lompatan-lompatan kemajuan bagi institusi. Semoga dengan pengalaman, kecerdasan, dan ketangkasannya dalam membaca peluang, Prof. Akrim dapat tumbuh menjadi “Kancil Muhammadiyah”—seorang pemimpin yang mampu membawa UMSU semakin unggul, atau bahkan seperti kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dr Agus Taufikurrahman, unggul seunggul- unggulnya, melahirkan inovasi, memperluas jejaring, memperkuat dakwah melalui pendidikan, serta memberikan manfaat yang semakin besar bagi umat, bangsa, dan persyarikatan. Tentu, semua itu adalah sebuah harapan yang akan dibuktikan oleh perjalanan waktu, karya, dan pengabdian.
Penyebutan “kancil” tentu bukanlah ukuran tinggi rendahnya seseorang, apalagi sekadar persoalan fisik. Ia adalah metafora tentang kecerdasan yang dibarengi kerja keras, ketekunan, kreativitas, dan kemampuan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Mampu bergerak cepat, berpikir beberapa langkah ke depan, dan menghasilkan perubahan yang besar.
Islam sendiri memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang berilmu dan menggunakan akalnya untuk menghadirkan kemaslahatan. Allah SWT berfirman:
“Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh penampilan lahiriah, melainkan oleh iman, ilmu, dan manfaat yang diberikannya bagi sesama.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak “kancil”. Bukan kancil yang licik sebagaimana dalam cerita yang menghalalkan segala cara, tetapi kancil yang cerdas, amanah, inovatif, dan berintegritas. Kancil yang menggunakan kecerdasannya untuk membangun, bukan memperdaya; untuk menyatukan, bukan memecah belah; untuk memajukan bangsa, bukan sekadar mengejar kepentingan pribadi.
Demikian pula Muhammadiyah. Sebagai gerakan Islam yang berkemajuan, Muhammadiyah selalu memerlukan kader-kader yang cerdas dalam berpikir, bijaksana dalam mengambil keputusan, lincah menghadapi perubahan zaman, namun tetap kokoh berpijak pada nilai-nilai al-Qur’an dan as-Sunnah. Kecerdasan yang diharapkan bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan spiritual, sosial, dan moral.
Pada akhirnya, sejarah sering membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai oleh mereka yang paling besar atau paling kuat. Justru sering kali lahir dari orang-orang yang berpikir lebih jauh, bergerak lebih cepat, dan bekerja lebih cerdas. Itulah makna “kancil” yang sesungguhnya: kecil dalam ukuran, tetapi besar dalam kontribusi. Sebab yang dikenang sejarah bukanlah ukuran tubuh seseorang, melainkan ukuran manfaat yang ditinggalkannya bagi umat, bangsa, dan peradaban.
Semoga akan lahir semakin banyak “kancil-kancil” di negeri ini, termasuk di lingkungan Muhammadiyah. Dan secara khusus, semoga Prof Akrim mampu menjawab harapan itu dengan karya dan prestasi, sehingga kelak layak dikenang sebagai “Kancil Muhammadiyah” yang membawa UMSU melangkah lebih jauh, lebih maju, dan lebih memberi manfaat bagi Indonesia , bersama seluruh civitas akademika universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, khususnya bersama para wakil rektor yang baru saja dikukuhkan. (*)











