Oleh: Heri Isnaini
Setiap bangsa memiliki cerita besar tentang dirinya. Ada bangsa yang dibangun oleh kisah kemenangan perang, ada yang bertumpu pada revolusi, ada pula yang menjadikan kemajuan teknologi sebagai narasi utamanya. Indonesia memiliki cerita besar yang sama pentingnya: kemerdekaan, persatuan, dan cita-cita menjadi bangsa yang berdaulat. Namun, jika kita hanya memandang Indonesia dari cerita-cerita besar itu, ada banyak hal yang luput dari perhatian. Indonesia justru tumbuh dari ribuan cerita kecil yang berdenyut di rumah-rumah, di pasar, di sawah, di pesisir, di ruang kelas, dan di kampung-kampung yang namanya bahkan tidak pernah muncul dalam buku sejarah.
Cerita-cerita kecil itu sering kali tidak dianggap penting sebab tidak menghadirkan tokoh besar atau peristiwa yang mengubah arah politik. Padahal, di sanalah kebudayaan bekerja dengan cara yang paling halus.
Seorang nenek yang mengajarkan cucunya pantun sebelum tidur, seorang ayah yang tetap menggunakan bahasa daerah ketika berbicara di meja makan, seorang guru yang meminta muridnya mendengarkan kisah rakyat dari kampung halamannya, atau seorang pedagang yang masih menyapa pembelinya dengan ungkapan khas daerahnya. Semua itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sedang merawat Indonesia.
Bangsa tidak hanya lahir dari konstitusi. Bangsa juga lahir dari kebiasaan yang diwariskan tanpa banyak suara. Di situlah bahasa, sastra, dan tradisi menjadi simpul yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Setiap kata yang bertahan adalah jejak pengalaman. Setiap cerita yang terus diceritakan adalah penanda bahwa sebuah masyarakat belum kehilangan ingatannya.
Pemikiran Benedict Anderson memberikan perspektif menarik mengenai hal tersebut. Anderson menjelaskan bahwa bangsa adalah komunitas terbayang (imagined community). Anggota sebuah bangsa tidak mungkin saling mengenal satu per satu, tetapi mereka merasa berada dalam komunitas yang sama sebab berbagi simbol, bahasa, sejarah, dan narasi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dibangun oleh batas wilayah, melainkan juga oleh cerita-cerita yang membuat jutaan orang merasa menjadi bagian dari rumah yang sama.
Sayangnya, cerita kecil sering kalah oleh arus informasi yang bergerak sangat cepat. Media sosial menghadirkan ribuan peristiwa setiap hari. Kita mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain, tetapi perlahan melupakan kisah yang tumbuh di lingkungan sendiri. Anak-anak mengenal tokoh fiksi dari luar negeri, tetapi tidak lagi akrab dengan legenda yang hidup di kampung halamannya. Bukan sebab cerita lokal kehilangan daya tarik, melainkan sebab ruang perjumpaannya semakin sempit.
Di sinilah sastra memperoleh maknanya. Sastra tidak sekadar menciptakan cerita, tetapi menyelamatkan pengalaman agar tidak lenyap ditelan waktu.
Sebuah cerpen dapat merekam perubahan sebuah desa ketika sawah berubah menjadi kawasan industri. Sebuah puisi dapat menyimpan kesedihan seorang ibu yang ditinggalkan anaknya merantau. Sebuah novel dapat menjadi arsip tentang bahasa yang perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari.
Sastra bekerja sebagai penjaga ingatan yang sering kali tidak mampu dilakukan oleh laporan statistik atau dokumen resmi.
Pandangan Clifford Geertz mengingatkan bahwa kebudayaan adalah jaringan makna yang ditenun manusia sendiri. Sebab itu, memahami masyarakat tidak cukup melalui angka atau data. Kita perlu membaca simbol, kebiasaan, bahasa, dan cerita yang hidup di dalamnya. Cerita kecil menjadi penting sebab di sanalah makna kebudayaan bersemayam. Ia tidak selalu tampak mencolok, tetapi justru membentuk cara masyarakat memahami dunia.
Pengalaman mengajar sering memperlihatkan kenyataan yang menarik. Banyak mahasiswa mampu menjelaskan teori sastra dengan baik, tetapi kesulitan menceritakan kisah dari daerah asalnya sendiri. Mereka mengenal novel-novel dunia, tetapi tidak mengetahui asal-usul nama sungai yang setiap hari mereka lewati. Mereka fasih menjelaskan konsep identitas budaya, tetapi tidak pernah bertanya mengapa orang tua mereka menggunakan ungkapan tertentu ketika menasihati anak-anaknya.
Keadaan ini bukan kesalahan generasi muda semata. Bisa jadi kita terlalu sibuk mengejar pengetahuan yang jauh, hingga lupa merawat pengetahuan yang tumbuh di sekitar.
Padahal, cerita kecil memiliki daya hidup yang luar biasa. Dari cerita tentang asal-usul sebuah mata air, masyarakat belajar menjaga alam. Dari legenda tentang gunung atau hutan, masyarakat belajar menghormati ruang hidupnya. Dari pantun, mereka belajar kesantunan berbahasa. Dari peribahasa, mereka belajar kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang. Cerita bukan sekadar hiburan. Cerita adalah cara masyarakat menyusun pengetahuan.
Pemikiran Walter Benjamin terasa relevan di tengah keadaan ini. Benjamin membedakan informasi dengan cerita. Informasi cepat menjadi usang sebab bergantung pada kebaruan. Cerita justru bertahan sebab mengandung pengalaman yang terus dapat dimaknai ulang. Itulah sebabnya sebuah legenda dapat tetap hidup selama ratusan tahun, sementara berita yang viral hari ini mungkin sudah dilupakan esok pagi.
Kampus memiliki posisi yang strategis dalam menjaga keberlanjutan cerita-cerita kecil tersebut. Pembelajaran bahasa dan sastra tidak cukup berhenti pada analisis teks. Mahasiswa perlu diajak mendokumentasikan tradisi lisan, menulis kisah masyarakat, merekam perubahan bahasa di daerahnya, atau menelusuri sejarah nama-nama tempat yang mereka kenal sejak kecil. Dengan demikian, kegiatan akademik tidak hanya menghasilkan tugas kuliah, tetapi juga menjadi ikhtiar menyelamatkan memori budaya.
Kecerdasan buatan dan teknologi digital dapat menjadi mitra dalam pekerjaan itu. Cerita rakyat dapat didigitalisasi, manuskrip lama dapat dipreservasi, dan bahasa daerah dapat didokumentasikan dengan lebih baik. Akan tetapi, teknologi hanya menyediakan alat. Yang menentukan arah tetap manusia. Tanpa kesadaran budaya, digitalisasi hanya akan menghasilkan tumpukan data yang kehilangan makna. Yang diperlukan bukan sekadar menyimpan cerita, melainkan memastikan cerita itu tetap dibaca, didengar, dan diceritakan kembali.
Indonesia tidak akan kehilangan dirinya hanya sebab berubah menjadi masyarakat digital. Yang perlu diwaspadai ialah ketika perubahan itu membuat kita berhenti mendengarkan cerita-cerita yang tumbuh di sekitar. Sebab, bangsa yang melupakan cerita kecil perlahan akan kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri. Identitas tidak runtuh dalam satu peristiwa besar. Ia memudar sedikit demi sedikit ketika bahasa tidak lagi digunakan, ketika tradisi tidak lagi dipraktikkan, dan ketika kisah-kisah lama tidak lagi dianggap penting.
Barangkali Indonesia memang tidak berdiri hanya sebab pidato para pendiri bangsa atau keputusan politik yang mengubah arah sejarah. Indonesia juga bertahan sebab jutaan orang yang setiap hari, dengan cara yang nyaris tidak terlihat, terus merawat cerita. Mereka mengisahkan asal-usul kampungnya, mengajarkan pantun kepada cucunya, menuliskan pengalaman hidupnya, atau sekadar mempertahankan satu kata lama yang hampir hilang dari percakapan. Dari kerja-kerja kecil yang nyaris sunyi itulah Indonesia terus dibangun. Bukan sekali selesai, melainkan setiap hari, setiap kali sebuah cerita menemukan pendengarnya, dan setiap kali bahasa kembali menjadi rumah bagi ingatan bersama. (*)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Cimahi, Jawa Barat. Ia pernah mengajar Bahasa Indonesia di sejumlah sekolah di Kota Bandung pada 2007–2020. Lahir di Subang pada 17 Juni, Heri aktif menulis artikel, esai, dan karya sastra yang telah dipublikasikan di berbagai media massa cetak maupun daring. Saat ini, ia juga menjadi kontributor RNSI dan Literatura Nusantara.

















