Oleh: Jufri
Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Ujung Gading, Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Foto ini dimuat oleh senior kami, Abangda M Ribhan Sihaloho saudara kandung dari M. Risfan Maestro Sihaloho tahun 2024 lalu , putra dari almarhum Bapak Abdul Mukti Sihaloho. Begitu melihatnya, saya langsung menyimpan foto tersebut ke galeri. Seketika ingatan saya melayang hampir tiga puluh tahun ke belakang, ketika masih menjadi siswa di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Ujung Gading, Pasaman. Dalam photo itu berdiri dua sosok guru yang sangat inspiratif bagi kami: Almarhum Bapak Abdul Mukti Sihaloho dan Bapak Anwar Lubis.
Bagi saya, keduanya bukan sekadar guru yang mengajar di ruang kelas. Mereka adalah pendidik yang membentuk cara berpikir, cara berorganisasi, bahkan cara memandang kehidupan.
Dengan Pak Mukti Sihaloho, saya memiliki kedekatan yang cukup istimewa. Putra-putra beliau ada yang menjadi teman sekelas, ada yang senior, dan ada pula yang junior saya. Karena itu saya cukup sering menghabiskan waktu di rumah beliau. Saat itu Pak Mukti adalah guru Mu’allimin, Kepala MTs Muhammadiyah, sekaligus Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pasaman.
Rumah beliau nyaris tak pernah sepi. Letaknya yang berdampingan dengan Asrama Putra Mu’allimin menjadikannya tempat berkumpul para aktivis muda Muhammadiyah. Anak-anak beliau pun aktif di organisasi otonom, terutama Ikatan Remaja Muhammadiyah yang kini menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Ada Maestro Sihaloho atau M Risfan Sihaloho, Rayhan Sihaloho, dan juga adik beliau, Farid Ma’ruf Sihaloho, yang kemudian juga menjadi guru kami.
Saya masih ingat bagaimana Risfan begitu gemar menulis puisi dan cerita dengan mesin ketik, menggunakan “sebelas jari”—istilah kami untuk kedua jari telunjuknya yang begitu lincah menekan tombol-tombol mesin ketik. Di sela-sela itu, ia juga hobi bermain sepak bola bersama Bang Ribhan.
Pak Mukti adalah sosok guru yang sabar, tenang, dan penuh kebijaksanaan. Saya merasa termasuk salah seorang siswa yang cukup sering beliau perhatikan. Bahkan ketika kami bertemu kembali pada tahun 2003, setelah saya tamat sekolah, beliau masih berkata sambil tersenyum, “Jufri memang istimewa.” Sampai hari ini saya sendiri tidak pernah benar-benar tahu mengapa beliau mengatakan demikian.
Beberapa kali sebelum beliau wafat, saya sempat menjenguknya ketika sedang sakit bersama istri dan anak-anak. Meski kondisi fisiknya melemah, keramahan beliau tidak pernah berubah. Beliau masih mengingat kisah pertemuan pertama kami pada tahun 1993, seakan waktu tidak pernah menghapus ingatan dan kasih sayangnya kepada murid-muridnya.
Di samping Pak Mukti dalam foto itu adalah Bapak Anwar Lubis. Saya mengenal beliau bahkan sebelum menjadi siswa Mu’allimin, sekitar tahun 1992. Ketika saya masuk sekolah, beliau menjabat sebagai Kepala Madrasah Aliyah sekaligus mengajar Fikih dan Matematika.
Pak Anwar adalah guru yang sangat baik. Beliau merupakan alumni Mu’allimin Muhammadiyah, tetapi tidak pernah mengajarkan fanatisme sempit. Saya masih ingat ketika pertama kali mendengar ceramah beliau. Beliau tidak mengajak orang menjadi Muhammadiyah, melainkan mengajak orang memahami Islam dengan bahasa yang sederhana, menyejukkan, dan mudah dipahami.
Hal itu menjadi pelajaran berharga bagi saya. Dakwah bukanlah tentang memperbanyak pengikut organisasi, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi siapa pun.
Pak Anwar bermarga Lubis, tetapi sehari-hari menggunakan bahasa Minang khas Ujung Gading. Sementara Pak Mukti yang berasal dari Batak Toba justru fasih berbahasa Mandailing. Ujung Gading memang menjadi ruang perjumpaan budaya Minang dan Mandailing yang telah lama berasimilasi, melahirkan kekayaan budaya yang patut disyukuri sebagai bagian dari khazanah Indonesia.
Dalam ingatan saya, Pak Anwar juga memiliki wajah dan perawakan yang mirip Menteri Agama saat itu, Tarmizi Taher. Dengan penampilan yang rapi dan pembawaan yang berwibawa, beliau selalu menyampaikan pelajaran dengan penuh semangat, hangat, dan kebapakan.
Dari kedua guru inilah saya belajar bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah yang mempersatukan, bukan memecah-belah. Kalimat yang paling saya ingat dari mereka hingga hari ini adalah:
“Bermuhammadiyah itu harus membuat kita bertambah kawan, bukan bertambah lawan. Muhammadiyah adalah organisasi dakwah, bukan organisasi biasa, apalagi organisasi preman.”
Nasihat sederhana itu terus saya pegang hingga sekarang. Seorang kader Muhammadiyah tidak seharusnya sibuk mencari musuh. Kesetiaan kepada persyarikatan tidak diukur dari kebencian kepada orang lain, tetapi dari kesungguhan mengabdi, menjaga ukhuwah, dan menghadirkan kemaslahatan. Dalam Muhammadiyah, suku, marga, bahasa, dan latar belakang bukanlah ukuran. Yang menjadi ukuran adalah akhlak, amanah, dan kesetiaan kepada cita-cita perjuangan.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, ampunan, dan kemuliaan kepada almarhum Bapak Abdul Mukti Sihaloho, serta senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan umur, dan kemuliaan kepada Bapak Anwar Lubis. Kebaikan yang mereka tanamkan telah tumbuh dalam diri begitu banyak murid, melahirkan kader-kader yang terus mengabdi di berbagai tempat.
Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Ujung Gading mungkin sederhana dari segi bangunan. Namun, dari sekolah sederhana itulah lahir guru-guru luar biasa yang mengajarkan bukan hanya ilmu, melainkan juga arti hidup, arti persaudaraan, dan arti menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. (*)













