No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result
Home
Esai

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

by Mujaddid
3 Agustus 2026
in Esai, Islam, Keislaman, Nasional, Opini, Ulasan
Reading Time: 3 mins read
0
0
0
SHARES
25
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Dosen FISIP UMSU, Ketua LHKP PWM Sumut

 

Indonesia, negeri yang katanya mayoritas Muslim terbesar di dunia, adalah teater absurd yang paling memukau. Di panggung ini, partai-partai Islam datang dengan kostum syariat yang megah, bendera tauhid yang berkibar, dan jargon “Islam rahmatan lil alamin” yang menggema. Namun, begitu lampu sorot padam dan tirai jatuh, mereka keluar panggung dengan senyum kecut, puas mendapat jatah kursi menteri atau proyek kecil — layaknya pemanis yang manis di mulut, tapi tak pernah mengubah rasa hidangan utama.

Ada predator abadi yang ikut menonton setiap pertunjukan: monster perebutan kekuasaan sejak wafatnya Nabi SAW. Tapi predator dan monster yang lebih licik adalah sistem itu sendiri.

Prestasi yang Dilupakan dan Angka yang Menipu

Buku Ridho Al-Hamdi “Partai Politik Islam Teori dan Praktik di Indonesia” memberi kita tabel demi tabel perolehan suara. Angka-angka itu indah, hampir romantis. Tapi bacalah dengan saksama: jika kita akumulasi suara semua partai Islam sepanjang sejarah pemilu, totalnya mencengangkan — cukup untuk mengguncang fondasi republik ini.

Puncaknya adalah Pemilu 1955: di tengah tekanan Soekarno yang sudah mulai otoriter, Masyumi mampu menjadi kekuatan terbesar di antara partai Islam. Itu bukan kemenangan biasa. Itu monumen politik Islam Indonesia — bukti bahwa ketika sedikit ruang diberikan, umat mampu bersaing. Sayang, monumen ini jarang dikunjungi oleh para peneliti.

Sebabnya sederhana: hampir semua pemilu di Indonesia adalah sandiwara. Kecuali 1955 dan 1999 yang relatif bersih, selebihnya adalah panggung transaksi, intimidasi, dan rekayasa. Para peneliti politik Islam yang sibuk memuja tabel dan grafik gagal total. Mereka terpesona oleh angka kemenangan, tapi buta terhadap apa yang ada di balik angka itu: manipulasi struktural, fragmentasi rekayasa, dan tekanan kekuasaan yang membuat “kemenangan” itu rapuh seperti gincu murahan.

Divide et Impera yang Tak Pernah Mati

Oligarki Indonesia bukan muncul dari tanah kosong. Mereka adalah pewaris sah kolonialisme 350 tahun. Strategi lama divide et impera masih dipakai dengan mahir. Partai Islam sengaja dipecah-pecah, diberi sedikit gula, lalu diadu. Suara mayoritas yang seharusnya dahsyat menjadi pecahan-pecahan kecil yang mudah dikendalikan.

Mayoritas pendukung politik Islam enggan main kotor bukan karena bodoh, tapi karena dua hal:

Pertama, ideologi Islam yang masih punya malu terhadap suap dan khianat amanah.

Kedua, kelemahan ekonomi struktural — warisan kemiskinan kolonial yang sengaja dipertahankan hingga abad ke-21.

Sementara itu, partai lain dengan dukungan modal oligarki bisa berpesta pora di meja transaksi.

Kritik yang Tak Bisa Ditunda

Tipologi “Tiga Wajah Santri” yang dipakai Al-Hamdi hanyalah daur ulang Clifford Geertz yang ceroboh dan reduksionis. Nurcholish Madjid, dengan slogan legendarisnya, mewakili tipe intelektual Muslim yang “bosan” dengan Islamnya sendiri — gagal menjadi waritsatul anbiya, lalu memilih jalan aman sekularisme yang nyaman. Pemikiran ini populer karena enak didengar kelas menengah urban yang ingin Islamnya “modern” tanpa ribet politik.

Dan mari jujur: politik gincu bukan monopoli Islam. Semua partai melakukannya. Tapi mengapa hanya Islam yang selalu menjadi bahan olok-olok sebagai “hanya simbolik”?

Politik Islam Indonesia bukan mati. Ia hanya dipaksa berakting dalam opera buffa yang absurd: datang dengan kostum agung, keluar dengan kompromi memalukan. Prestasi 1955 dan akumulasi suara yang mencengangkan membuktikan potensi. Tapi sistem Westphalian, oligarki pewaris kolonial, divide et impera, dan kelemahan ekonomi membuat umat terus terjebak sebagai pemanis.

Para peneliti yang hanya sibuk dengan angka pemilu telah gagal total. Mereka melihat permukaan, tapi tak berani menyelami kegelapan di baliknya.

Masa depan bukan kembali ke khilafah mimpi, juga bukan menyerah pada sekularisme. Melainkan politik garam yang kejam dan cerdas: menanamkan nilai Islam ke dalam urat nadi republik ini, meski harus melawan sistem yang sengaja dirancang untuk menjinakkannya.

Karena pada akhirnya, garam yang baik bukan hanya memberi rasa — ia juga mengawetkan, menyembuhkan, dan kadang membuat luka terbuka terasa perih. Mungkin itu yang dibutuhkan Indonesia sekarang. Entahlah. (*)

 

Tags: Opera BuffaPartai Politik Islampolitik islamshohibul anshor siregar

Related Posts

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas
Daerah

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas

28 Juli 2026
13
Shohibul: Presiden Sebaiknya Rombak Struktur Anggaran
Nasional

Sosiolog Soroti Universitas Republik Indonesia: “Institusi Pendidikan atau Reproduksi Elit Kekuasaan?”

24 Juli 2026
31
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”
Nasional

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

19 Juli 2026
35
Penyiksaan oleh Aparat TNI-Polri di Sumut Ancam Demokrasi dan Hak Asasi Warga
Internasional

Kesaksian Akademisi: AI Menipu Saya, Jangan Percaya Buta!

14 Juni 2026
71
Akademisi ini Paparkan Peta Pilpres 2024 di Sumatera Utara
Nasional

Rupiah Sekarat Bertengkar dengan Siapa? Ini Jawaban Menohok Akademisi

12 Juni 2026
91
Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman
Nasional

Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman

9 Juni 2026
57

Recent Posts

  • Perkuat Ekosistem Digital Kampus, Rektor UMSU Temui Menteri Komdigi Meutya Hafid
  • Jadi Kontingen Terbesar di ASEAN, UMSU Utus 47 Mahasiswa Kuliah dan Studi Pengalaman di Malaysia
  • Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
  • Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara
  • Memperkuat Karakter dan Pengabdian, FH UMSU Lepas 441 Mahasiswa Peserta KKN 2026

Recent Comments

  1. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  2. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  3. Ashsaism mengenai IMM Sumsel Dukung Zaki Nugraha jadi Caketum pada Muktamar IMM XX Palembang
  4. Ay mengenai Temanku
  5. Akuntansi mengenai Dukung Swasembada Pangan Nasional, Penyuluh Pertanian OKUT Normalisasi Saluran Irigasi

Follow Global Journal on:

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

© 2026 JNews – Premium WordPress News & Magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?
Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required.
Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.