Oleh: Yudha Kurniawan
Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul
Di setiap gelanggang Tapak Suci, seorang siswa akan menantikan hari kenaikan tingkatnya. Bertambahnya Melati di sabuk menjadi penanda bahwa latihan, disiplin, dan kesungguhannya mulai membuahkan hasil.
Namun sesungguhnya, di balik setiap simpul sabuk itu tersimpan sebuah proses pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar penguasaan teknik pencak silat. Sabuk di Tapak Suci bukan hanya simbol kemampuan bela diri, melainkan penanda perjalanan pembentukan kader.
Menjelang Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang, sudah saatnya warga Muhammadiyah memandang kembali Tapak Suci dari sudut yang lebih utuh. Selama ini Tapak Suci sering dipahami sebagai pintu masuk masyarakat untuk mengenal Muhammadiyah.
Pandangan itu benar, tetapi belum lengkap. Tapak Suci bukan sekadar pintu masuk.
Tapak Suci adalah kawah candradimuka tempat calon kader Muhammadiyah ditempa dalam proses yang panjang, bertahap, dan berkelanjutan. Keistimewaan ini tidak banyak dimiliki organisasi otonom lain.
Di Tapak Suci, perjalanan menjadi kader tidak berlangsung dalam hitungan hari. Seorang anggota memulai prosesnya sebagai siswa dasar, kemudian menempuh jenjang Siswa Satu, Siswa Dua, Siswa Tiga, Siswa Empat, hingga Latihan Kader Pimpinan Tapak Suci (LKPTS).
Setelah melalui seluruh tahapan tersebut, barulah ia dilantik menjadi Kader Muda Tapak Suci dengan sabuk biru bermelati merah satu. Perjalanan itu dapat berlangsung bertahun-tahun.
Waktu yang panjang ini sesungguhnya merupakan anugerah bagi proses perkaderan Muhammadiyah. Tidak banyak organisasi yang memiliki kesempatan mendampingi anggotanya secara intensif selama itu.
Setiap latihan, setiap ujian kenaikan tingkat, setiap pemusatan latihan, dan setiap interaksi antara pelatih dengan siswa merupakan ruang pendidikan yang sangat berharga untuk menanamkan nilai-nilai Persyarikatan.
Karena itu, sesungguhnya yang sedang dibangun Tapak Suci bukan hanya pesilat. Yang sedang dibangun adalah kader Muhammadiyah.
Pendekar Besar Sujono RS pernah memberikan penjelasan yang sangat sederhana, tetapi sarat makna. Sabuk Tapak Suci dililitkan dua kali di pinggang sebelum diikat di tengah perut. Bagi beliau, lilitan itu melambangkan dua kurikulum yang harus berjalan beriringan, kurikulum ragawi berupa pencak silat dan kurikulum ruhani berupa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Keduanya tidak boleh dipisahkan. Pesilat yang hebat tetapi miskin nilai-nilai Muhammadiyah akan kehilangan ruh perguruan. Sebaliknya, semangat ideologi yang kuat tanpa penguasaan keilmuan Tapak Suci juga tidak akan melahirkan kader yang utuh.
Keseimbangan itulah yang menjadi ciri khas pendidikan Tapak Suci sejak awal berdiri. Tantangannya, keseimbangan tersebut tidak selalu mudah diwujudkan.
Di lingkungan pesantren Muhammadiyah, tugas pelatih relatif lebih ringan. Para santri telah memperoleh pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan secara sistematis melalui kurikulum pesantren. Latihan Tapak Suci tinggal memperkuat nilai-nilai tersebut melalui pembentukan karakter, disiplin, dan kepemimpinan.
Keadaan berbeda dijumpai di sekolah umum maupun cabang latihan yang berada di tengah masyarakat. Di sana, Tapak Suci sering kali menjadi satu-satunya ruang pembinaan Muhammadiyah yang diikuti siswa secara rutin.
Jika latihan hanya berisi teknik pukulan, tendangan, jurus, dan pertandingan, maka kesempatan emas untuk membangun kader Persyarikatan akan terlewatkan. Padahal seorang pelatih memiliki posisi yang sangat istimewa.
Di mata siswa, pelatih bukan sekadar pengajar teknik. Ia adalah teladan. Cara berbicaranya ditiru, sikapnya dicontoh, bahkan pandangannya tentang kehidupan sering menjadi rujukan para siswa.
Pengaruh sebesar ini tidak boleh hanya diarahkan untuk mencetak atlet. Pengaruh itu harus menjadi jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Muhammadiyah.
Di sinilah saya memandang LKPTS memiliki arti yang sangat strategis. LKPTS bukan sekadar tahapan menuju perubahan warna sabuk. Ia merupakan gerbang lahirnya calon-calon pendidik Tapak Suci. Dari tangan merekalah ribuan siswa akan dibimbing pada tahun-tahun berikutnya.
Maka kualitas mereka tidak boleh hanya diukur dari kemampuan mengajarkan teknik pencak silat, tetapi juga dari kemampuannya membina akhlak, memperkenalkan ideologi Muhammadiyah, dan menghidupkan semangat dakwah berkemajuan. Karena itu, Muktamar XVI perlu melahirkan satu langkah pembaruan yang bersifat strategis, yakni mengintegrasikan kurikulum Baitul Arqam Muhammadiyah ke dalam proses LKPTS.
Integrasi ini bukan berarti menambah beban peserta. Sebaliknya, ia memastikan bahwa setiap kader Tapak Suci memperoleh pembinaan ideologi Muhammadiyah secara lebih terstruktur, sistematis, dan selaras dengan pola perkaderan Persyarikatan yang dikembangkan oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI).
Dengan demikian, ketika seorang kader kembali ke cabang latihannya, ia tidak hanya membawa kemampuan mengajarkan jurus, tetapi juga membawa cara berpikir Muhammadiyah, semangat dakwah, dan integritas sebagai kader Persyarikatan. Ia akan mengajarkan dua kurikulum sekaligus, untuk memperkuat tubuh sekaligus menumbuhkan ruh perjuangan.
Muktamar XVI yang akan berlangsung di Semarang semestinya menjadi titik kesadaran bersama bahwa kekuatan terbesar Tapak Suci bukan semata-mata pada banyaknya medali yang diraih atau luasnya jaringan organisasi yang dimiliki. Kekuatan terbesar itu justru terletak pada ribuan siswa yang setiap hari ditempa melalui proses pendidikan yang panjang.
Mereka adalah calon kader Muhammadiyah. Jika proses itu dijalankan dengan benar, Tapak Suci tidak hanya melahirkan pesilat yang tangguh, tetapi juga kader Persyarikatan yang matang, berintegritas, dan siap melanjutkan perjuangan Muhammadiyah pada masa depan.
Pada akhirnya, setiap simpul sabuk yang diikat di pinggang seorang anggota Tapak Suci seharusnya mengingatkan satu amanat penting bahwa kekuatan seorang pesilat tidak hanya lahir dari jurus yang dikuasainya, tetapi juga dari nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah yang hidup dalam dirinya. Dari gelanggang itulah masa depan Persyarikatan sedang ditempa, hingga lahirlah satu demi satu kader terbaik. (*)










