No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Gelanggang yang Menempa Kader Muhammadiyah

23 Juli 2026
in Muhammadiyah, Nasional, Opini, Tapak Suci
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Yudha Kurniawan

Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul

 

Di setiap gelanggang Tapak Suci, seorang siswa akan menantikan hari kenaikan tingkatnya. Bertambahnya Melati di sabuk menjadi penanda bahwa latihan, disiplin, dan kesungguhannya mulai membuahkan hasil.

Namun sesungguhnya, di balik setiap simpul sabuk itu tersimpan sebuah proses pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar penguasaan teknik pencak silat. Sabuk di Tapak Suci bukan hanya simbol kemampuan bela diri, melainkan penanda perjalanan pembentukan kader.

Menjelang Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang, sudah saatnya warga Muhammadiyah memandang kembali Tapak Suci dari sudut yang lebih utuh. Selama ini Tapak Suci sering dipahami sebagai pintu masuk masyarakat untuk mengenal Muhammadiyah.

Pandangan itu benar, tetapi belum lengkap. Tapak Suci bukan sekadar pintu masuk.

Tapak Suci adalah kawah candradimuka tempat calon kader Muhammadiyah ditempa dalam proses yang panjang, bertahap, dan berkelanjutan. Keistimewaan ini tidak banyak dimiliki organisasi otonom lain.

Di Tapak Suci, perjalanan menjadi kader tidak berlangsung dalam hitungan hari. Seorang anggota memulai prosesnya sebagai siswa dasar, kemudian menempuh jenjang Siswa Satu, Siswa Dua, Siswa Tiga, Siswa Empat, hingga Latihan Kader Pimpinan Tapak Suci (LKPTS).

Setelah melalui seluruh tahapan tersebut, barulah ia dilantik menjadi Kader Muda Tapak Suci dengan sabuk biru bermelati merah satu. Perjalanan itu dapat berlangsung bertahun-tahun.

Waktu yang panjang ini sesungguhnya merupakan anugerah bagi proses perkaderan Muhammadiyah. Tidak banyak organisasi yang memiliki kesempatan mendampingi anggotanya secara intensif selama itu.

BACA JUGA

Pengurus ALBHA Kabupaten Bantul Periode 2022 – 2025 Resmi Dilantik

Siapkan Generasi Emas, PRM Silimakuta Pematang Siantar Bangun Rumah Tahfidz Anak Usia Dini

Puskasi dan Fakultas Hukum UMSU Gelar Diskusi Publik “Pengisian Penjabat Kepala Daerah”

Azmi Syahputra: Pembentukan Satgas Antibegal Pantas Diapresiasi

Muhammadiyah dan Tantangan Merajut Empati di Tengah Perbedaan

Suluh di Nagolap, Tokkat di Nalandit

Setiap latihan, setiap ujian kenaikan tingkat, setiap pemusatan latihan, dan setiap interaksi antara pelatih dengan siswa merupakan ruang pendidikan yang sangat berharga untuk menanamkan nilai-nilai Persyarikatan.

Karena itu, sesungguhnya yang sedang dibangun Tapak Suci bukan hanya pesilat. Yang sedang dibangun adalah kader Muhammadiyah.

Pendekar Besar Sujono RS pernah memberikan penjelasan yang sangat sederhana, tetapi sarat makna. Sabuk Tapak Suci dililitkan dua kali di pinggang sebelum diikat di tengah perut. Bagi beliau, lilitan itu melambangkan dua kurikulum yang harus berjalan beriringan, kurikulum ragawi berupa pencak silat dan kurikulum ruhani berupa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Keduanya tidak boleh dipisahkan. Pesilat yang hebat tetapi miskin nilai-nilai Muhammadiyah akan kehilangan ruh perguruan. Sebaliknya, semangat ideologi yang kuat tanpa penguasaan keilmuan Tapak Suci juga tidak akan melahirkan kader yang utuh.

Keseimbangan itulah yang menjadi ciri khas pendidikan Tapak Suci sejak awal berdiri. Tantangannya, keseimbangan tersebut tidak selalu mudah diwujudkan.

Di lingkungan pesantren Muhammadiyah, tugas pelatih relatif lebih ringan. Para santri telah memperoleh pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan secara sistematis melalui kurikulum pesantren. Latihan Tapak Suci tinggal memperkuat nilai-nilai tersebut melalui pembentukan karakter, disiplin, dan kepemimpinan.

Keadaan berbeda dijumpai di sekolah umum maupun cabang latihan yang berada di tengah masyarakat. Di sana, Tapak Suci sering kali menjadi satu-satunya ruang pembinaan Muhammadiyah yang diikuti siswa secara rutin.

Jika latihan hanya berisi teknik pukulan, tendangan, jurus, dan pertandingan, maka kesempatan emas untuk membangun kader Persyarikatan akan terlewatkan. Padahal seorang pelatih memiliki posisi yang sangat istimewa.

Di mata siswa, pelatih bukan sekadar pengajar teknik. Ia adalah teladan. Cara berbicaranya ditiru, sikapnya dicontoh, bahkan pandangannya tentang kehidupan sering menjadi rujukan para siswa.

Pengaruh sebesar ini tidak boleh hanya diarahkan untuk mencetak atlet. Pengaruh itu harus menjadi jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Muhammadiyah.

Di sinilah saya memandang LKPTS memiliki arti yang sangat strategis. LKPTS bukan sekadar tahapan menuju perubahan warna sabuk. Ia merupakan gerbang lahirnya calon-calon pendidik Tapak Suci. Dari tangan merekalah ribuan siswa akan dibimbing pada tahun-tahun berikutnya.

Maka kualitas mereka tidak boleh hanya diukur dari kemampuan mengajarkan teknik pencak silat, tetapi juga dari kemampuannya membina akhlak, memperkenalkan ideologi Muhammadiyah, dan menghidupkan semangat dakwah berkemajuan. Karena itu, Muktamar XVI perlu melahirkan satu langkah pembaruan yang bersifat strategis, yakni mengintegrasikan kurikulum Baitul Arqam Muhammadiyah ke dalam proses LKPTS.

Integrasi ini bukan berarti menambah beban peserta. Sebaliknya, ia memastikan bahwa setiap kader Tapak Suci memperoleh pembinaan ideologi Muhammadiyah secara lebih terstruktur, sistematis, dan selaras dengan pola perkaderan Persyarikatan yang dikembangkan oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI).

Dengan demikian, ketika seorang kader kembali ke cabang latihannya, ia tidak hanya membawa kemampuan mengajarkan jurus, tetapi juga membawa cara berpikir Muhammadiyah, semangat dakwah, dan integritas sebagai kader Persyarikatan. Ia akan mengajarkan dua kurikulum sekaligus, untuk memperkuat tubuh sekaligus menumbuhkan ruh perjuangan.

Muktamar XVI yang akan berlangsung di Semarang semestinya menjadi titik kesadaran bersama bahwa kekuatan terbesar Tapak Suci bukan semata-mata pada banyaknya medali yang diraih atau luasnya jaringan organisasi yang dimiliki. Kekuatan terbesar itu justru terletak pada ribuan siswa yang setiap hari ditempa melalui proses pendidikan yang panjang.

Mereka adalah calon kader Muhammadiyah. Jika proses itu dijalankan dengan benar, Tapak Suci tidak hanya melahirkan pesilat yang tangguh, tetapi juga kader Persyarikatan yang matang, berintegritas, dan siap melanjutkan perjuangan Muhammadiyah pada masa depan.

Pada akhirnya, setiap simpul sabuk yang diikat di pinggang seorang anggota Tapak Suci seharusnya mengingatkan satu amanat penting bahwa kekuatan seorang pesilat tidak hanya lahir dari jurus yang dikuasainya, tetapi juga dari nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah yang hidup dalam dirinya. Dari gelanggang itulah masa depan Persyarikatan sedang ditempa, hingga lahirlah satu demi satu kader terbaik. (*)

Tags: Muktamar XVI Tapak Suci Putera MuhammadiyahMuktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di SemarangYudha Kurniawan
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Tapak Suci untuk Kemerdekaan Pikiran dari Penjajahan Irasionalitas
Muhammadiyah

Tapak Suci untuk Kemerdekaan Pikiran dari Penjajahan Irasionalitas

by Mujaddid
21 Agustus 2026
32
Muktamar Tapak Suci: Sukses Menjaga Demokrasi, Memperkuat Persaudaraan, dan Menatap Dunia
Internasional

Muktamar Tapak Suci: Sukses Menjaga Demokrasi, Memperkuat Persaudaraan, dan Menatap Dunia

by Mujaddid
18 Agustus 2026
91
Pintu Tangga Darurat Kok Dikunci?
Opini

Pintu Tangga Darurat Kok Dikunci?

by Mujaddid
13 Desember 2020
1.2k

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang
Daerah

Bertumbuh Bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.