Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Malam ini saya kembali menerima kabar dari Tanah Papua. Sahabat saya, Bapak Irfan Islami, yang sedang menjalankan amanah sebagai instruktur Baitul Arqam di Bumi Cenderawasih, mengirimkan sebuah cerita yang sederhana, tetapi sangat menggugah hati.
Beliau juga mengirimkan sebuah foto bersama para peserta Baitul Arqam Universitas Muhammadiyah Papua Barat. Saat melihat foto itu, ada perasaan yang sulit diungkapkan. Saya seakan-akan berada di tengah-tengah mereka, merasakan semangat yang sama, menyaksikan wajah-wajah kader yang sedang ditempa, dan ikut merasakan optimisme Muhammadiyah yang terus tumbuh di ujung timur Indonesia. Jarak ribuan kilometer seolah lenyap oleh ikatan persaudaraan, ukhuwah, dan cita-cita perjuangan yang sama.
Siang Senin beliau mengunjungi beberapa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Manokwari. Salah satunya adalah SMA Muhammadiyah Sains dan Teknologi (Saintek) yang baru memasuki tahun pertama menerima peserta didik. Jumlah siswanya baru 16 orang. Yang membuat saya terdiam, dari jumlah tersebut hanya satu orang yang beragama Islam. Gedung sekolah pun masih meminjam kantor Sekretariat Kerukunan Keluarga Jawa sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Bagi sebagian orang, angka enam belas mungkin terlihat kecil. Namun, dalam dunia dakwah dan pendidikan, angka bukanlah ukuran utama. Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk memulai. Semua amal besar hampir selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh keyakinan.
Kisah ini mengingatkan kita pada sebuah sekolah Muhammadiyah sederhana di Gantung, Belitung, Bangka Belitung. Puluhan tahun lalu, sekolah itu nyaris tidak dapat beroperasi karena jumlah muridnya hanya sepuluh orang, batas minimal agar sekolah tetap dibuka. Dari ruang belajar yang sederhana, dengan segala keterbatasannya, lahirlah kisah yang kemudian ditulis Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi, lalu diangkat menjadi film layar lebar yang menginspirasi jutaan orang. Siapa sangka, sekolah yang hampir tutup karena kekurangan murid justru menjadi simbol perjuangan pendidikan Indonesia.
Karena itu, melihat SMA Muhammadiyah Saintek di Manokwari hari ini, saya tidak melihat angka enam belas sebagai sebuah kekurangan. Saya justru melihat harapan. Bisa jadi, dari ruang kelas yang sederhana itu akan lahir tokoh-tokoh Papua yang kelak memberi manfaat bagi bangsa. Sejarah berkali-kali membuktikan bahwa sesuatu yang besar selalu berawal dari langkah kecil yang dijalankan dengan kesabaran dan keikhlasan.
Muhammadiyah sejak awal tidak membangun gerakan berdasarkan banyaknya pengikut, tetapi berdasarkan besarnya manfaat. Di mana pun berada, Muhammadiyah hadir membawa pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan dakwah yang mencerahkan. Bahkan di daerah yang umat Islam menjadi minoritas sekalipun, sekolah tetap didirikan sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa dan kemanusiaan.
Kehadiran SMA Muhammadiyah Saintek di Manokwari juga mengajarkan bahwa sekolah Muhammadiyah bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, bahkan bukan hanya untuk umat Islam. Sekolah Muhammadiyah terbuka bagi siapa saja yang ingin memperoleh pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Fakta bahwa hanya satu siswa yang beragama Islam justru menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dakwah tidak selalu dimulai dengan ceramah, tetapi diwujudkan melalui pelayanan pendidikan yang jujur, ramah, profesional, dan penuh kasih sayang. Inilah dakwah bil hal yang sejak lama menjadi ciri Muhammadiyah.
Gedung yang masih meminjam pun tidak mengurangi semangat para guru dan pengelolanya. Justru dari keterbatasan itulah lahir ketulusan, kreativitas, dan optimisme. Sejarah Muhammadiyah sendiri membuktikan bahwa banyak sekolah besar hari ini dahulu dimulai dari bangunan yang sangat sederhana.
Allah Swt. berfirman:
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Semua ikhtiar itu sesungguhnya adalah pengejawantahan dari cita-cita besar Muhammadiyah Islam Berkemajuan. Gerakan yang tidak hanya membangun gedung atau membuka sekolah, tetapi juga membangun manusia, menumbuhkan harapan, dan menghadirkan pencerahan di mana pun berada. Dari ruang kelas yang sederhana di Manokwari hingga sekolah-sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia, semuanya bergerak dalam satu arah: mencerahkan menuju Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. Sebab bagi Muhammadiyah, kemajuan bukan hanya diukur dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dari kemajuan akhlak, karakter, dan peradaban.
Secara pribadi, saya terus mendoakan semoga Bapak Irfan Islami beserta seluruh instruktur, peserta Baitul Arqam, para guru, dan kader Muhammadiyah yang sedang mengabdi di Tanah Papua senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, keikhlasan, dan kemudahan oleh Allah Swt. Semoga mereka tetap bersemangat dan sukses dalam menjalankan tugas dakwah, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan, serta menjadi bagian dari lahirnya generasi Papua yang berilmu, berakhlak, dan membawa kemajuan bagi Indonesia.
Siapa tahu, beberapa tahun atau puluhan tahun mendatang, dari Manokwari akan lahir “Laskar Pelangi” yang baru. Bukan untuk mengulang kisah Belitung, tetapi untuk menorehkan sejarahnya sendiri. Sebab, setiap sekolah Muhammadiyah yang berdiri dengan keikhlasan selalu menyimpan harapan besar bagi masa depan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Muhammadiyah adalah gerakan Islam Berkemajuan yang terus mencerahkan, dari barat hingga timur Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, cahaya dakwah dan pendidikan terus dinyalakan untuk mewujudkan cita-cita besar: Mencerahkan Menuju Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






