Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Tadi sore saya menyapa para peserta dan instruktur di grup Alumni Darul Arqam. Sapaan sederhana itu ternyata menghadirkan banyak respons dan kabar dari para alumni yang kini telah kembali ke tempat masing-masing.
Salah satu kabar yang menarik perhatian saya datang dari Bapak Irfan Islami, salah seorang instruktur kami dari Majelis pembinaan Kader dan sumberdaya insani PP Muhammadiyah . Beliau mengirimkan foto sedang berada di Pantai Melanesia, Manokwari, Papua Barat dengan latar belakang Samudera Pasifik dengan suasana senja yang menawan .
Saya langsung membayangkan betapa luasnya Indonesia.
Dari Jakarta ke Manokwari sekitar 4.364 kilometer. Dari Sumatera Utara, jaraknya bahkan lebih dari 6.230 kilometer. Jarak Medan ke Manokwari ternyata lebih jauh daripada jarak Medan ke Tokyo, Jepang, yang sekitar 5.522 kilometer.
Jadi, Bapak Irfan Islami saat ini berada lebih jauh daripada Jepang, tetapi masih berada di wilayah Indonesia. Jarak Medan ke Jayapura bahkan lebih dari 7.000 kilometer. Sementara jarak Banda Aceh, ibu kota provinsi paling barat Indonesia, ke Jayapura, ibu kota provinsi paling timur, hampir mencapai 8.000 kilometer.
Indonesia memang sangat luas.
Saya kemudian kembali teringat kepada Piala Dunia. Negara-negara Eropa sering kita lihat sebagai negara-negara besar karena sejarah, ekonomi, teknologi, dan pengaruhnya. Namun, jika luas wilayah negara-negara Eropa yang menjadi peserta Piala Dunia dijumlahkan, Indonesia tetap merupakan negara yang sangat besar.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia bukan hanya luas di peta. Ia adalah ruang kehidupan yang dihuni oleh berbagai suku, agama, bahasa, budaya, dan sejarah.
Karena itu, saya semakin memahami mengapa Muhammadiyah senantiasa menekankan kepada kader-kadernya pentingnya menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Negeri yang begitu luas tidak boleh dikelola dengan cara berpikir yang sempit.
Sumatera bukan seluruh Indonesia. Jawa bukan seluruh Indonesia. Kalimantan bukan seluruh Indonesia. Sulawesi bukan seluruh Indonesia. Papua juga bukan sekadar daerah yang jauh di ujung timur.
Semuanya adalah Indonesia.
Karena itu, saya ikut senang dan bersyukur melihat Bapak Irfan Islami terus melakukan kerja dakwah, bahkan sampai di Papua. Jarak yang jauh tidak menjadi penghalang untuk menebarkan Islam Berkemajuan.
Saya juga bersyukur melihat Muhammadiyah terus mengembangkan dakwah pendidikan di tanah Papua. Di Manokwari terdapat Universitas Muhammadiyah Papua Barat. Di wilayah Papua Barat dan sekitarnya juga terdapat perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya, seperti Universitas Muhammadiyah Sorong dan Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk nyata dakwah yang mencerahkan.
Dakwah tidak selalu harus dimulai dari mimbar. Dakwah dapat hadir melalui sekolah, perguruan tinggi, ilmu pengetahuan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai amal usaha lainnya.
Yang menarik, perguruan tinggi Muhammadiyah di Papua diterima oleh masyarakat dan sebagian besar mahasiswanya bahkan merupakan saudara-saudara kita yang beragama Kristen.
ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk direnungkan.
Muhammadiyah hadir bukan untuk membangun jarak, tetapi untuk membangun peradaban. Perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya menjadi tempat belajar bagi warga Muhammadiyah, tetapi dapat menjadi ruang pendidikan bagi seluruh anak bangsa.
Di sanalah Islam Berkemajuan menemukan wajahnya yang nyata: mencerahkan, mencerdaskan, memajukan, dan menghadirkan manfaat bagi kemanusiaan.
Mungkin inilah salah satu makna penting dari perkaderan. Kami pernah duduk bersama dalam satu ruang Darul Arqam. Setelah itu, kami kembali ke tempat masing-masing. Ada yang mengabdi di Sumatera, Jawa, dan berbagai daerah lainnya. Ada pula yang menempuh perjalanan ribuan kilometer hingga ke Papua.
Jarak memisahkan kami, tetapi persaudaraan dan cita-cita tetap menyatukan. Dari Pantai Malanesia, Manokwari, Bapak Irfan Islami mengingatkan kami bahwa Indonesia memang sangat luas.
Jauh secara jarak, tetapi dekat dalam persaudaraan. Berbeda tempat, tetapi satu cita-cita. Berlainan daerah, tetapi berada dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Mungkin inilah di antara makna yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimulai dari kehidupan sehari-hari. Cara kita menyapa, menghargai, menghormati, menerima, dan memberikan manfaat kepada sesama merupakan bagian dari cara kita merawat Indonesia.
Mungkin inilah makna dari sebuah cita-cita: Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. Betapa luasnya Indonesia.
Maka jangan pernah berpikir sempit tentang Indonesia. Sejauh apa pun perjalanan kita, pada akhirnya kita tetap sedang bekerja untuk Indonesia yang sama.
Indonesia yang luas. Indonesia yang beragam. Indonesia yang harus terus dijaga. Dan Indonesia yang harus terus dimajukan bersama. Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. (*)






