Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Pasar adalah denyut nadi ekonomi rakyat. Sejak fajar menyingsing hingga matahari tenggelam, pasar menjadi tempat bertemunya harapan dengan ikhtiar. Di sana ada pedagang yang menggantungkan kehidupan keluarganya, ada pembeli yang memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan ada roda ekonomi yang terus berputar tanpa henti. Karena itu, ketika sebuah pasar terbakar, yang hilang bukan sekadar bangunan dan barang dagangan, tetapi juga mimpi, harapan, dan hasil kerja keras yang dibangun selama bertahun-tahun.
Kebakaran hebat yang melanda Pasar Nauli Sibolga pada Sabtu malam 11 Juli 2026 menjadi duka bersama. Ratusan kios hangus dilalap api. Beruntung tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian material yang dialami para pedagang tentu sangat besar. Bagi sebagian mereka, pasar adalah satu-satunya tempat mencari nafkah. Dalam semalam, semuanya berubah menjadi puing dan abu.
Musibah selalu mengingatkan manusia bahwa tidak ada yang benar-benar abadi selain Allah SWT. Harta dapat hilang, usaha dapat musnah, tetapi iman, kesabaran, dan semangat untuk bangkit tidak boleh ikut terbakar.
Allah SWT berfirman: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Ayat ini bukan sekadar mengajarkan kesabaran, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap ujian harus dihadapi dengan ikhtiar dan saling menguatkan. Sebab musibah tidak boleh melahirkan keputusasaan, melainkan solidaritas.
Di tengah suasana duka itulah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Sibolga menunjukkan makna dakwah yang sesungguhnya. Pada Kamis, 16 Juli 2026, Ketua PDM Kota Sibolga, Ustaz Yusran Pasaribu, bersama jajaran pimpinan menyerahkan santunan kepada 73 korban kebakaran yang merupakan warga Muhammadiyah Kota Sibolga.
Bantuan tersebut merupakan hasil kepedulian dan gotong royong warga Muhammadiyah Kota Sibolga serta warga Muhammadiyah dari berbagai daerah di Sumatera Utara yang turut merasakan duka atas musibah tersebut. Ini menunjukkan bahwa persaudaraan dalam Muhammadiyah tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Ketika satu daerah tertimpa musibah, daerah lain ikut hadir mengulurkan tangan. Inilah kekuatan ukhuwah yang telah lama menjadi ruh gerakan Persyarikatan.
Santunan itu mungkin tidak mampu mengganti seluruh kerugian yang dialami. Namun nilai sebuah bantuan tidak hanya terletak pada besar kecilnya nominal. Yang jauh lebih penting adalah hadirnya kepedulian. Saat seseorang merasa tidak sendirian menghadapi musibah, di situlah harapan mulai tumbuh kembali.
Inilah wajah Muhammadiyah yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan melalui spirit Surah Al-Ma’un. Dakwah tidak berhenti pada ceramah dan pengajian, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Menolong yang kesulitan, menguatkan yang terpuruk, dan hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari ibadah sosial yang tidak boleh berhenti.
Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Ayat ini menjadi fondasi gerakan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad. Amal usaha, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, layanan sosial, hingga aksi kemanusiaan saat bencana merupakan implementasi nyata dari nilai tersebut.
Musibah Pasar Nauli Sibolga juga menjadi pelajaran bagi kita semua. Pasar-pasar tradisional di berbagai daerah perlu semakin memperhatikan aspek keselamatan. Instalasi listrik harus diperiksa secara berkala, alat pemadam kebakaran harus tersedia, jalur evakuasi harus dipastikan berfungsi, dan edukasi mitigasi bencana perlu menjadi budaya bersama. Mencegah selalu lebih baik daripada menyesali.
Namun di atas semua itu, ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu semangat gotong royong. Ketika pemerintah, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan warga bergandengan tangan membantu para korban, maka proses pemulihan akan berjalan lebih cepat. Di situlah bangsa ini menunjukkan jati dirinya.
Apa yang dilakukan PDM Kota Sibolga patut menjadi inspirasi bagi seluruh jajaran Persyarikatan. Semangat ta’awun (tolong-menolong) dan Al-Ma’un terus hidup dalam denyut Muhammadiyah. Kekuatan Persyarikatan bukan hanya terletak pada banyaknya amal usaha, tetapi juga pada kuatnya rasa persaudaraan antarkader dan antardaerah. Ketika satu terluka, yang lain ikut merasakan. Ketika satu membutuhkan, yang lain hadir memberikan bantuan.
Semoga para korban kebakaran diberikan kesabaran, diganti Allah SWT dengan rezeki yang lebih baik, dan Pasar Nauli Sibolga segera bangkit sebagai pusat ekonomi rakyat yang lebih aman dan lebih kuat.
Dari abu Pasar Nauli, kita belajar bahwa bangunan memang bisa hangus terbakar. Namun kepedulian, persaudaraan, dan semangat Al-Ma’un tidak boleh pernah padam. Justru di tengah musibah itulah cahaya kemanusiaan semakin terang menyala, menyatukan warga Muhammadiyah dan masyarakat untuk bersama-sama membangun harapan yang sempat runtuh. (*)

