TAJDID.ID~Surakarta 🔳 Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mendorong Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) untuk secara masif mengkapitalisasi ekosistem riset dan pengabdian masyarakat. Langkah ini dinilai krusial agar seluruh potensi akademis di lingkungan PTMA dapat menjelma menjadi kekuatan nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Fauzan saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Silaturahmi Pimpinan Bidang Kemahasiswaan (Fosma) PTMA 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (28/7/2026).
Dikutip dari laman ums.ac.id, Fauzan mengatakan, PTMA memiliki modal besar di bidang penelitian, mulai dari keberagaman kepakaran hingga kebermanfaatan hasil riset. Namun, ia menyoroti tantangan utama yang masih menghadang, yakni pola kerja sama yang selama ini cenderung masih sebatas formalitas administratif alih-alih kolaborasi aksi.
“Jika potensi-potensi riset ini dikapitalisasi dengan baik, hasilnya akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Fosma PTMA harus didorong menjadi ekosistem yang memberi manfaat lebih luas,” tegas mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 2018–2024 tersebut.
Skema Co-Funding LPDP dan Inisiasi Konsorsium Masif
Pada kesempatan yang sama, Wamendiktisaintek memberikan apresiasi atas langkah proaktif Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., yang berhasil menginisiasi skema *co-funding* bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui kolaborasi ini, pendanaan riset dapat berlipat ganda.
“Ketika kita menyiap dana Rp10 miliar, LPDP masuk berinvestasi dengan nominal yang sama, Rp10 miliar. Sehingga total dana riset yang terhimpun mencapai Rp20 miliar,” ungkap Fauzan.
Ia berharap model kapitalisasi semacam ini tidak berhenti pada ranah penelitian semata, tetapi juga merambah ke kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Fauzan membayangkan lahirnya konsorsium besar PTMA yang mampu memayungi berbagai program pengabdian mahasiswa dan dosen dalam satu pintu terpadu.
Dengan integrasi tersebut, perguruan tinggi Muhammadiyah diharapkan mampu menyiagakan “pasukan besar” akademisi untuk membantu pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan prioritas pembangunan nasional.
Fokus Dampak Nyata dan Inovasi Kemahasiswaan
Menanggapi hal itu, Rektor UMS Prof. Harun Joko Prayitno menyampaikan bahwa saat ini PTMA telah mengamankan alokasi anggaran sekitar Rp50 miliar untuk penguatan sektor dosen dan kemahasiswaan. Dana tersebut akan difokuskan untuk membiayai program penelitian, pengabdian, serta kegiatan kolaboratif lain yang berorientasi pada dampak nyata (*real impact*).
Harun menegaskan, bertahannya eksistensi dan pesatnya perkembangan PTMA selama ini tidak lepas dari fondasi akademiknya yang kokoh. Oleh karena itu, ia berpesan agar ajang tahunan Fosma PTMA tidak berhenti sekadar sebagai tempat silaturahmi, melainkan menjelma menjadi laboratorium lahirnya inovasi-inovasi baru.
“Harapan kita bersama, forum ini ke depan bukan sekadar forum pertemuan seremonial, melainkan menjadi wadah lahirnya inovasi baru yang berkaitan dengan pengembangan talenta kemahasiswaan serta solusi bagi persoalan bangsa,” pungkasnya.








