Oleh : Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Pagi ini, sebuah percakapan sederhana kembali mengingatkan saya bahwa kehidupan sering kali memberikan pelajaran melalui kalimat-kalimat yang sangat sederhana. Kadang bukan dari buku tebal, seminar panjang, atau pidato yang penuh teori.
Dalam percakapan sehari-hari, kadang kita lupa membaca dengan siapa kita sedang berbicara.
Kita menyampaikan nasihat yang sebenarnya benar. Misalnya, “Kita harus hidup berhemat.”
Lalu seseorang menjawab: “Boro-boro berhemat, Bang. Yang mau dihemat itu tak ada.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi saya, ada pelajaran sosial yang sangat dalam di dalamnya.
Berhemat memang baik. Mengatur pengeluaran adalah sikap bijaksana. Tidak boros juga merupakan bagian dari ajaran agama dan kebiasaan hidup yang baik.
Tetapi kita harus memahami bahwa tidak semua orang memulai kehidupan dari tempat yang sama.
Ada orang yang berhemat dengan mengurangi belanja barang yang tidak perlu.
Ada pula orang yang sudah mengurangi hampir semuanya, tetapi tetap saja penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Boro-boro menghemat uang belanja, uang belanja saja kadang tidak cukup sampai akhir bulan.
Boro-boro mengurangi kemewahan, kemewahan memang tidak pernah mereka miliki.
Boro-boro menyisihkan penghasilan, penghasilan itu sudah habis untuk makan, membayar listrik, biaya sekolah anak, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, nasihat yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi orang yang berbeda.
Kepada orang yang memiliki banyak pilihan, kita mungkin bisa berkata, “Kurangi pengeluaran.” Tetapi kepada orang yang penghasilannya pas-pasan, mungkin yang lebih tepat adalah, “Bagaimana agar pendapatannya bertambah?”
Sebab tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan berhemat. Ada persoalan yang hanya dapat diselesaikan dengan membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, memperbaiki pelayanan publik, menghadirkan pendidikan yang baik, dan membuat kebijakan yang benar-benar memahami kehidupan rakyat.
Begitu pula ketika ada orang mengatakan: “Kalau Indonesia tidak baik-baik saja, ya tinggal pergi ke luar negeri.”
Mungkin bagi sebagian orang, itu memang sebuah pilihan. Ketika keadaan tidak sesuai harapan, mereka bisa membeli tiket pesawat, pergi ke negara lain, bekerja di sana, tinggal di sana, bahkan mungkin memindahkan kehidupan mereka ke tempat lain.
Tetapi rakyat kecil mungkin akan bertanya: “Enaklah dia mengatakan Indonesia tidak baik-baik saja, lalu kabur ke luar negeri. Kami rakyat kecil ini sudah senang di sini. Mau kabur ke mana?”
Kalimat ini bagi saya sangat mengena. Sebab bagi rakyat kecil, Indonesia bukan sekadar tempat tinggal yang bisa ditinggalkan kapan saja.
Indonesia adalah satu-satunya rumah. Di sinilah mereka lahir. Di sinilah mereka bekerja. Di sinilah mereka membesarkan anak-anak. Di sinilah mereka memiliki keluarga, tetangga, kampung halaman, masjid, tanah kelahiran, dan kenangan.
Mereka tidak memiliki rumah kedua di luar negeri. Tidak memiliki rekening besar di negara lain. Tidak memiliki pekerjaan yang bisa dipindahkan begitu saja. Dan tidak memiliki banyak pilihan ketika keadaan menjadi sulit.
Maka, ketika Indonesia menghadapi masalah, mereka tidak bisa begitu saja pergi. Mereka hanya bisa berharap Indonesia menjadi lebih baik.
Karena itu, bagi rakyat kecil, memperbaiki Indonesia bukan sekadar wacana politik. Bukan pula sekadar perdebatan di media sosial. Memperbaiki Indonesia adalah kebutuhan hidup.
Mereka tidak sedang mencari negara lain. Mereka hanya berharap negara yang satu ini bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup.
Di sinilah kita belajar bahwa dalam kehidupan, kita perlu membaca dengan siapa kita sedang berbicara. Jangan sampai kita menyuruh orang berhemat, sementara kita tidak pernah tahu bahwa yang mereka miliki memang sudah sangat sedikit.
Jangan sampai kita mengatakan, “Kalau tidak suka dengan keadaan, pergi saja,” sementara kita sendiri memiliki banyak tempat untuk pergi. Sebab tidak semua orang memiliki pilihan yang sama. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Dan tidak semua orang memulai kehidupan dari garis yang sama.
Mungkin inilah pelajaran berharga pagi ini. Sebelum memberikan nasihat, cobalah memahami kehidupan orang yang sedang kita nasihati.
Sebelum menyalahkan seseorang karena dianggap tidak mampu mengatur keuangan, lihatlah terlebih dahulu apakah ia memang memiliki cukup penghasilan untuk diatur.
Sebelum menyuruh seseorang meninggalkan negeri ini karena Indonesia dianggap tidak baik-baik saja, ingatlah bahwa bagi sebagian besar rakyat, Indonesia adalah satu-satunya tempat yang mereka punya.
Maka, kalau negeri ini belum baik, tugas kita bukan melarikan diri dari kenyataan. Tugas kita adalah ikut memperbaikinya dengan cara kita masing-masing. Dengan ilmu. Dengan pekerjaan. Dengan politik yang baik. Dengan dakwah yang mencerahkan. Dengan kebijakan yang adil. Dengan kepemimpinan yang memahami kehidupan rakyat. Dan dengan kesediaan untuk mendengarkan suara-suara sederhana yang sering kali justru menyimpan kebenaran yang paling dalam.
Sebab terkadang, pelajaran kehidupan tidak datang dari orang yang paling pintar. Ia datang dari seseorang yang hanya berkata: “Boro-boro berhemat, Bang. Yang mau dihemat itu tak ada.”
Dan dari rakyat kecil pula kita belajar: “Kalau Indonesia tidak baik-baik saja, kami mau kabur ke mana? Kami susah senang harus di sini.”
Maka, mungkin inilah pelajaran berharga pagi ini: Jangan hanya pandai memberikan nasihat. Belajarlah memahami kehidupan orang yang sedang kita nasihati. Sebab sebelum berbicara, kita perlu membaca: dengan siapa kita sedang berbicara. (*)






