Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Jika ada satu hal yang masih saya sesali dari pelaksanaan Darul Arqam minggu lalu, barangkali bukan materi, bukan suasana, dan bukan pula penyelenggaraannya. Yang saya sesalkan justru adalah terlalu singkatnya waktu untuk saling mengenal antara peserta dan para instruktur.
Empat hari tiga malam ternyata terasa sangat pendek. Waktu itu cukup untuk mengikuti materi, berdiskusi, bercanda, bahkan membangun keakraban. Namun, belum cukup untuk benar-benar mengenal pribadi-pribadi luar biasa yang dihadirkan oleh MPKSI PP Muhammadiyah sebagai instruktur.
Saya sendiri belum sempat mendalami karakter mereka. Apalagi, dalam istilah bercanda khas kami, belum sempat “mengerjai” para instruktur dengan candaan-candaan yang tetap santun. Suasana kekeluargaan khas kader Muhammadiyah sebenarnya baru saja mulai tumbuh, tetapi kegiatan sudah harus berakhir.
Perkenalan para instruktur juga berlangsung sangat singkat. Kami hanya mengetahui bahwa ada yang berasal dari Kalimantan, tetapi Kalimantan yang mana pun saya baru mengetahuinya setelah bertanya secara pribadi. Pada malam terakhir, para instruktur hanya diperkenalkan sekilas oleh Master of Training. Tentu itu sudah cukup untuk kebutuhan acara, tetapi bagi saya masih menyisakan rasa penasaran yang menyenangkan.
Padahal, mengenal seseorang sering kali membuat kita lebih memahami cara berpikir, pengalaman perjuangan, hingga cerita-cerita menarik di balik pengabdiannya di Muhammadiyah. Dari sanalah biasanya lahir persahabatan yang bertahan lama.
Meski demikian, keterbatasan waktu tidak mengurangi kualitas mereka sebagai instruktur. Justru dalam waktu yang singkat itu mereka mampu meninggalkan kesan yang mendalam kepada para peserta. Cara menyampaikan materi, membangun dialog, dan memperlakukan peserta menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar penyampai materi, tetapi juga pendidik kader yang berpengalaman.
Saya pribadi hanya sempat berinteraksi lebih dekat dengan dua orang instruktur ketika berfoto di Rumah Batak Samosir menjelang pertunjukan Tari Sigale-gale, yaitu Pak Irfan dan Pak Hatib Rahman. Itupun hanya sebentar. Sementara Pak Faiz dan Mas Doktor Muda Iman Sumarlang , saya sama sekali belum memperoleh kesempatan berbincang lebih banyak. Rasanya baru sempat menghafal wajah, eh… acara sudah selesai.
Tulisan ini sendiri saya buat sambil menikmati kacang Sihobuk hadiah karena dinobatkan sebagai peserta terlucu. Lumayan, ada “buah tangan” yang bisa dinikmati sambil mengenang Darul Arqam.
Sementara itu, honor sebagai “Lurah” belum juga sempat diterima, karena acara sudah keburu selesai. Seperti kata Buya Hasyim Nasution , “Lurah itu tidak ada SK pengangkatan, tidak ada pula SK pemberhentian. Karena tidak ada SK, ya tidak ada honornya.” Mendengar itu kami semua pun tertawa dilokasi makan siang terakhir mess Sipora pora Parapat . Rupanya jabatan lurah di Darul Arqam benar-benar murni pengabdian, tanpa tunjangan, tanpa insentif 😀.
Begitulah pengkaderan. Ada pertemuan yang singkat, tetapi meninggalkan jejak yang panjang. Barangkali memang tidak semua perkenalan harus selesai dalam satu kegiatan. Ada kalanya Allah menyisakan ruang agar silaturahim berlanjut pada kesempatan berikutnya.
Siapa tahu, suatu hari nanti kami kembali dipertemukan. Mungkin dalam Darul Arqam di daerah lain, dalam forum Muhammadiyah yang berbeda, atau bahkan, ini yang paling saya harapkan sambil bercanda, saya diundang sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana menjadi “Lurah” sekaligus peserta paling lucu di Darul Arqam. Kalau itu benar-benar terjadi, berarti bukan hanya saya yang mengenal para instruktur, tetapi mereka pun akhirnya mengenal saya lebih dekat 😀.
Karena pada dasarnya, dalam Muhammadiyah, pengkaderan boleh selesai, tetapi persaudaraan dan silaturahim semestinya terus berlanjut. Dan siapa tahu, pada pertemuan berikutnya, saya sudah punya cukup waktu untuk “mengerjai dan dikerjain ” para instruktur, tentu dengan candaan yang tetap beradab, hangat, dan penuh kasih sayang. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






