Oleh: Andi Hariyadi
Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi PDM Kota Surabaya.
Muhammadiyah sejak awal berdirinya berusaha hadir memberi solusi yang mencerahkan untuk mampu kompetisi dalam tantangan zaman yang semakin komplek, sehingga kekuatan tauhid sebagai landasan perjuangan terus dioptimalkan, sehingga tetap tegar mencerahkan.
Peradaban manusia modern saat ini memasuki kemajuan yang berarti, sehingga capaian ini membuka keterbukaan wawasan dan interaksi sosial yang lebih beragam latarbelakang, dan hendaknya menjaga etika sebagai sosok yang beradab dan berkemajuan.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini telah begitu meluas, tidak lagi lokal tetapi sudah mengglobal menjadi bagian dari interaksi masyarakat dunia dengan beragam gaya hidupnya. Akses jaringan internet semakin memudahkan interaksi dan komunikasi, jarak yang jauh sudah terhubung lebih dekat, respon waktu yang semula relatif lama, sekarang lebih cepat, informasi yang semula terbatas sekarang sudah banyak pilihan dan begitu deras tersampaikan, yang sebelumnya monoton dan membosankan, sekarang lebih interaktif, inovatif dan produktif dalam penggunaan media sosial.
Beragam fasilitas penggunaan media sosial menjadi identitas kekinian yang dilakukan segala usia, dari balita hingga orangtua, juga status sosial dan profesi serta komunitas, beragam suku, ras dan agama serta bangsa tersambung dalam gadget digenggaman tangan, jari jemari lebih aktif berkomunikasi tanpa suara namun mampu membuat kebisingan bahkan kegaduhan di dunia maya.
Pengguna Media Sosial begitu leluasa tanpa mengenal waktu bisa share berita dan aktivitasnya, bertukar informasi baik berupa tulisan, gambar dan video, sebagai model interaksi, transaksi dan partisipasi tiada henti baik untuk kegiatan pendidikan, bisnis, hiburan, ataupun provokasi penuh permusuhan hingga dakwah yang mencerahkan, tersaji dalam program secara tidak langsung maupun secara langsung berupa live bersama.
Seakan kita semakin dimanjakan untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri untuk disampaikan dalam ruang publik melalui media sosial yang berjejaring baik kepada sahabat, keluarga hingga komunitas yang ada untuk saling berlomba menjadi yang pertama, tercepat dan terluas jejaringnya, baik menggunakan Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, Twitter, WhatsApp dan lainnya. Seakan terjadi anomali berinteraksi, meski dalam kesendirian tetapi terjadi interaksi berjejaring. Aktivitas pribadi maupun bersama-sama dengan yang lain, tak ingin berlalu begitu saja, tetapi perlu dipublish sehingga jejaknya terekam dalam media digital.
Mengingat hari ini Rabu tanggal 10 Juni 2026 diperingati sebagai Hari Media Sosial Indonesia, maka hendaknya kita mampu menggunakan media sosial secara bijak, memang ada manfaat yang didapatkan, tetapi juga ada kerugian yang dialami jika bermedia sosial tidak diiringi dengan etika kesantunan, kerukunan, kebenaran dan persaudaraan.
Di era digital saat ini telah terjadi perubahan yang amat besar baik terkait interaksi bermedia sosial maupun berbagai kemudahan layanan yang didapat serta mengetahui perkembangan yang update, maka sebagai warga Persyarikatan Muhammadiyah hendaknya mampu bermedia sosial dengan tetap mengedepankan etika atau akhlaqul karimah. Karakteristik inilah yang akan menjadi pembeda dalam berinteraksi di media sosial. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Fathir ayat 19 – 21 :”Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas”. Ayat ini menggambarkan betapa potensi diri tidak difungsikan secara optimal, sudah mendapat akses kemudahan tapi disalahgunakan, sehingga bermata tapi buta terhadap kebenaran, diberikan ilmu yang memadai tapi wawasan sempit terkungkung dalam kegelapan, sudah diberikan kemudahan dan akses yang nyaman justru dijadikan ajang pengrusakan dalam dinamika kehidupan, yang seharusnya berakhlak mulia justru terjerumus dalam kubangan kehinaan yang sehina hinanya karena sibuk dengan dusta berjejaring dan berkepanjangan.
Di ayat yang lain Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An Nahl ayat 128 :” Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang yang berbuat kebaikan”.
Ayat ini semakin menegaskan bahwa Allah SWT bersama dengan orang-orang yang bertaqwa yang setiap perannya berisi kebaikan sebagai wujud ketaatan dan komitmen beretika dalam kebenaran. Lebih lebih dalam bermedia sosial setiap sentuhan jemari yang jadi narasi dan setiap ekspresi yang jadi jatidiri akan dipertanggungjawabkan, sehingga bermedia sosial tetap menjaga etika kemakrufan, aksinya tidak sekedar dishare begitu saja, demikian juga konten konten hasil karya kreatifnya tidak sekedar dibanggakan karena dapat subscribe dan like yang memuaskan tetapi ada tanggungjawab moral untuk mencerahkan sehingga karya yang dihasilkannya sebagai wujud dakwah.
Hal ini perlu dipertegas bahwa warga Persyarikatan Muhammadiyah hendaknya bisa menjadi teladan kebaikan (Al Ahzab:21) khususnya dalam bermedia sosial, karena dari beberapa temuan yang ada masih sering dijumpai informasi hoax yang diyakini sebagai kebenaran sehingga segera dishare tanpa adanya tabayun untuk mengklarifikasi kebenaran, dan bahayanya menjadi fitnah yang berkepanjangan, tragisnya informasi hoax ini seakan menjadi menu keseharian sehingga mencetak pola pikir yang instan tanpa berpikir panjang bagaimana dampaknya, tanggungjawab moralnya terkikis oleh hantu digital yang tidak mengenal kebenaran, justru membanggakan kehinaan.
Memperingati Hari Media Sosial Nasional untuk pertama kalinya pada 10 Juni 2015, sebagai upaya memberikan penghargaan atas kontribusi media sosial dalam aspek kehidupan. Dalam perjalanan 11 tahun ini kontribusi media sosial semakin nyata kemanfaatannya, dan tidak menutup mata semakin berat tantangan permasalahannya. Maka bermedia sosial bukan lagi sekedar menjadi gaya hidup kekinian, tapi kita harus lebih memberikan makna yang lebih berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta beragama. (*)











