Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Belakangan ini, istilah loyalis kritis semakin sering diperbincangkan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, berulang kali mengingatkan pentingnya membangun sikap loyalis kritis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebuah sikap yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya membutuhkan kedewasaan berpikir, keluasan hati, dan keberanian moral.
Di tengah kehidupan publik yang semakin gaduh, orang sering dipaksa memilih antara menjadi pendukung total atau penentang total. Jika mengkritik pemerintah dianggap tidak loyal. Jika memberikan apresiasi dianggap penjilat. Akibatnya, ruang akal sehat semakin sempit karena yang berkembang justru fanatisme dan sentimen kelompok.
Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Pemerintah bisa melakukan kebijakan yang baik dan layak didukung, tetapi juga bisa membuat kebijakan yang perlu dikritisi. Dalam konteks itulah loyalis kritis menemukan relevansinya.
Loyalis kritis bukan penjilat. Ia tidak kehilangan kemampuan berpikir hanya karena berada dekat dengan kekuasaan. Ia tidak menjadikan pujian sebagai jalan untuk memperoleh jabatan, fasilitas, atau keuntungan tertentu. Sebab pujian yang berlebihan sering kali justru menyesatkan pemimpin dari realitas yang sesungguhnya.
Sebaliknya, loyalis kritis juga bukan penghujat. Ia tidak menganggap semua kebijakan pasti salah. Ia tidak memandang setiap langkah pemerintah dengan prasangka buruk. Ia tetap mampu melihat keberhasilan dan memberikan apresiasi ketika memang ada hal yang patut dihargai.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya memahami prinsip ini. Seorang sahabat yang baik bukanlah orang yang selalu memuji kita, melainkan orang yang berani mengingatkan ketika kita keliru. Begitu pula seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya bukanlah anak yang selalu mengatakan “iya” terhadap semua hal, tetapi anak yang tetap menghormati sambil memberikan masukan dengan cara yang baik ketika diperlukan.
Demikian pula dalam kehidupan berbangsa. Kritik bukanlah bentuk permusuhan. Kritik yang jujur dan bertanggung jawab justru merupakan bentuk kepedulian. Sebab tujuan kritik bukan menjatuhkan, melainkan memperbaiki. Kritik yang lahir dari cinta kepada bangsa akan melahirkan solusi. Sebaliknya, kritik yang lahir dari kebencian biasanya hanya menghasilkan kegaduhan.
Kita juga harus menyadari bahwa Indonesia adalah negara hukum, bukan negara kekuasaan. Karena itu tidak ada kekuasaan yang berada di atas kritik. Dalam negara demokrasi, kritik merupakan bagian dari mekanisme untuk menjaga agar kekuasaan tetap berjalan sesuai konstitusi dan kepentingan rakyat.
Fenomena korupsi yang hampir setiap hari menghiasi pemberitaan menjadi contoh nyata pentingnya sikap loyalis kritis. Kita sering mendengar dan membaca berita tentang pejabat yang tertangkap karena kasus korupsi, tetapi korupsi seolah tidak kunjung berkurang. Bahkan sebagaimana pernah disampaikan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pada masa Orde Lama korupsi dilakukan di bawah meja, pada masa Orde Baru korupsi di atas meja, sementara pada era reformasi “mejanya sekalian dikorupsi.” Ungkapan satiris itu menggambarkan betapa persoalan korupsi bukan sekadar persoalan individu, tetapi telah menyentuh sistem dan budaya.
Dalam situasi seperti itu, bangsa ini membutuhkan warga yang berani mengingatkan, bukan sekadar bertepuk tangan. Sebab menyelamatkan uang negara penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah menyelamatkan moral bangsa. Ketika moral publik runtuh, hukum akan selalu tertinggal beberapa langkah di belakang pelanggaran.
Muhammadiyah selama ini memberikan teladan bagaimana menjadi loyalis kritis. Melalui ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha lainnya, Muhammadiyah menunjukkan bahwa mencintai Indonesia tidak cukup dengan slogan. Cinta kepada bangsa harus diwujudkan melalui kerja nyata yang mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan masyarakat.
Kehadiran amal usaha Muhammadiyah di berbagai penjuru negeri membuktikan bahwa merawat Indonesia dapat dilakukan tanpa harus menjadi bagian dari kekuasaan. Muhammadiyah mendukung kebijakan yang baik, mengingatkan ketika ada yang perlu diperbaiki, dan tetap menjaga jarak yang sehat agar suara moralnya tetap merdeka.
Di sinilah tema “Muhammadiyah untuk Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” menemukan maknanya. Bangsa yang cerdas bukanlah bangsa yang mudah terbawa arus pujian atau hujatan. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu berpikir objektif, membaca persoalan secara jernih, serta berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang bermartabat.
Sementara bangsa yang bercahaya adalah bangsa yang menjadikan nilai moral sebagai kompas kehidupan bersama. Cahaya itu lahir dari kejujuran, integritas, keberanian, dan kesediaan untuk terus melakukan perbaikan. Cahaya itu juga lahir dari manusia-manusia yang tidak menjual nurani demi kekuasaan dan tidak menggadaikan akal sehat demi kebencian.
Karena itu, jalan yang perlu kita tempuh bukanlah menjadi penjilat dan bukan pula menjadi penghujat. Jalan yang lebih mulia adalah menjadi loyalis kritis. Mendukung yang benar, mengoreksi yang keliru, menghargai keberhasilan, dan mengingatkan ketika terjadi penyimpangan.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang memuji penguasa atau seberapa keras orang menghujat penguasa. Masa depan Indonesia ditentukan oleh hadirnya warga negara yang tetap menjaga akal sehat, merawat etika, dan berani berpihak kepada kebenaran.
Dari semangat itulah akan lahir generasi yang tercerahkan, masyarakat yang berkemajuan, dan Indonesia yang semakin kokoh sebagai negara hukum yang berkeadaban. Sebuah Indonesia yang dibangun oleh para loyalis kritis, bukan penjilat, bukan penghujat, demi mewujudkan Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya. (*)











