Site icon TAJDID.ID

Politik itu Terlalu Penting untuk Hanya Diserahkan kepada Politisi

Oleh : Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan yang hampir sama. Bahkan ada yang bertanya dengan nada heran, mengapa saya sering menulis tentang politik.

Pertanyaan itu memang wajar. Sebab saya bukan politisi, bukan pengurus partai, bukan calon pejabat, dan bukan pula pengamat politik yang setiap hari tampil di televisi atau media nasional.

Biasanya saya menjawab sederhana: saya hanya menyalurkan minat.

Saya sebenarnya menulis apa saja yang menurut saya menarik untuk dituliskan. Kadang tentang pendidikan, organisasi, dakwah, keluarga, nilai-nilai kehidupan, komunikasi, dan berbagai persoalan sosial yang saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Menulis bagi saya adalah cara berpikir, cara belajar, sekaligus cara berbagi pandangan.

Namun jika politik lebih sering muncul dalam tulisan saya, mungkin karena latar belakang keilmuan saya juga tidak terlalu jauh dari bidang tersebut. Bagaimanapun saya adalah lulusan ilmu komunikasi, sebuah disiplin ilmu yang memiliki hubungan erat dengan ilmu politik. Di dalamnya ada komunikasi politik, komunikasi publik, opini publik, media massa, persuasi, dan berbagai kajian tentang bagaimana kekuasaan, kebijakan, serta kepentingan publik dikomunikasikan kepada masyarakat.

Selain itu, dalam perjalanan hidup dan aktivitas organisasi, saya juga cukup sering bersentuhan dan bergaul dengan para politisi. Ada yang menjadi anggota legislatif, kepala daerah, pengurus partai, maupun tokoh-tokoh yang aktif dalam dunia politik. Dari pergaulan itu saya belajar bahwa politik tidak sesederhana yang sering terlihat di permukaan. Ada idealisme, ada kepentingan, ada perjuangan, ada pengorbanan, dan tentu ada pula berbagai persoalan yang perlu terus dikritisi dan diperbaiki.

Bahkan ada yang mengatakan kepada saya, “Untuk apa menulis? Toh tidak dibaca orang. Tidak diperhatikan. Tidak ada pengaruhnya.”

Kalimat-kalimat seperti itu disampaikan secara langsung maupun melalui pesan singkat. Saya memahaminya sebagai pandangan yang wajar. Sebab di zaman yang serba cepat ini, banyak orang mengukur nilai sebuah tulisan dari jumlah pembaca, jumlah tanda suka, atau seberapa viral tulisan tersebut.

Namun bagi saya, menulis tidak selalu harus diukur dari sejauh mana ia menjadi ramai. Tidak semua tulisan harus menjadi perbincangan publik. Ada tulisan yang mungkin hanya dibaca beberapa orang, tetapi mampu menggerakkan pikiran mereka. Ada tulisan yang hari ini seolah tidak diperhatikan, tetapi beberapa tahun kemudian justru menemukan relevansinya. Bahkan ada tulisan yang sebenarnya lebih dahulu mengubah penulisnya sebelum mengubah orang lain.

Bagi sebagian orang, politik sering dipahami sebagai urusan partai, pemilu, jabatan, dan perebutan kekuasaan. Padahal politik jauh lebih luas dari itu. Politik hadir dalam hampir semua keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Mulai dari harga kebutuhan pokok, kualitas pendidikan, layanan kesehatan, pembangunan jalan, hingga kesempatan kerja, semuanya tidak lepas dari keputusan politik. Lagipula tidak ada satupun bidang kehidupan yang tidak berhubungan dengan politik dan keputusan politik.

Karena itulah saya merasa politik bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat. Politik bukan hanya milik mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Politik juga milik rakyat yang merasakan dampak dari setiap kebijakan yang dibuat.

Saya menulis tentang politik bukan karena ingin masuk ke dalam dunia politik praktis. Saya juga tidak sedang mencari posisi atau keuntungan tertentu. Saya hanya merasa bahwa sebagai warga negara, kita memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Lagian, saya memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara untuk ikut mengingatkan, memberikan pandangan, serta menyampaikan kritik maupun apresiasi terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan negara. Kecintaan kepada bangsa tidak selalu diwujudkan dengan menduduki jabatan tertentu. Kadang-kadang ia diwujudkan melalui kepedulian, pemikiran, dan keberanian untuk menyuarakan hal-hal yang dianggap penting bagi kepentingan bersama. Saya tentu ingin negara ini menjadi lebih baik, lebih adil, lebih maju, dan lebih benar dalam menjalankan amanat yang terkandung dalam cita-cita bersama para pendiri bangsa. Jika tulisan-tulisan sederhana yang saya buat dapat menjadi bagian kecil dari ikhtiar menuju ke arah itu, maka bagi saya itu sudah lebih dari cukup.

Kadang-kadang saya menulis pujian ketika melihat kebijakan yang baik. Pada kesempatan lain saya juga menulis kritik ketika melihat sesuatu yang menurut saya perlu diperbaiki. Sebab kritik yang sehat bukanlah bentuk kebencian. Kritik justru merupakan tanda bahwa masih ada kepedulian.

Dalam kehidupan demokrasi, suara masyarakat adalah bagian penting dari proses perbaikan. Pemimpin yang baik tidak hanya membutuhkan pendukung yang selalu bertepuk tangan, tetapi juga membutuhkan warga yang berani mengingatkan ketika ada yang melenceng dari tujuan.

Saya teringat sebuah kenyataan sederhana. Banyak orang mengeluhkan kondisi bangsa ketika berkumpul di warung kopi, di teras rumah, atau dalam percakapan sehari-hari. Mereka berbicara tentang harga kebutuhan yang naik, pelayanan yang kurang baik, atau kebijakan yang dianggap tidak tepat. Semua itu sebenarnya adalah pembicaraan politik, meskipun mereka tidak menyebutnya demikian.

Artinya, minat terhadap politik sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh. Yang membedakan hanyalah cara menyalurkannya. Ada yang menyampaikannya melalui diskusi, ada yang melalui organisasi, ada yang melalui aksi sosial, dan saya memilih menuliskannya.

Tentu saya menyadari bahwa tidak semua orang akan setuju dengan pandangan yang saya tulis. Itu hal yang biasa. Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan yang sehat. Yang tidak sehat adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan, atau ketika kritik dianggap sebagai ancaman.

Justru bangsa yang maju adalah bangsa yang memberi ruang kepada warganya untuk berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pandangan secara terbuka dan bertanggung jawab. Sebab dari perbedaan itulah lahir berbagai perspektif yang dapat memperkaya cara kita melihat persoalan.

Jadi, saya menulis tentang politik bukan karena merasa paling tahu. Saya menulis karena ingin terus belajar memahami kehidupan. Politik hanyalah salah satu pintu untuk membaca bagaimana sebuah bangsa berjalan, bagaimana kekuasaan digunakan, dan bagaimana rakyat menerima dampaknya.

Maka jika ada yang bertanya lagi mengapa saya sering menulis tentang politik, jawabannya tetap sederhana. Karena saya tertarik mempelajarinya. Karena saya hidup di dalamnya. Karena latar belakang keilmuan saya membawanya dekat dengan dunia komunikasi dan politik. Karena saya pernah belajar dari buku-buku, dari ruang kuliah, dari pengalaman organisasi, dan juga dari pergaulan dengan para politisi.

Jauh sebelum saya suka menulis seperti sekarang, saya justru terinspirasi oleh sahabat saya, M Risfan Sihaloho alias Maestro Sihaloho, atau yang sering kami panggil Adek. Sejak masih sekolah di Ujung Gading, Pasaman Barat, ia sudah rajin menulis opini dan puisi dengan mesin ketik manual, menggunakan dua jari telunjuknya. Waktu itu orang sering menyebutnya dengan istilah “mengetik sebelas jari”, karena yang populer adalah gaya mengetik sepuluh jari yang bahkan ada kursusnya. Namun cara sederhana itu tidak menghalanginya untuk terus menulis dan menuangkan gagasan. Dari situlah saya belajar bahwa menulis tidak harus menunggu sempurna, yang penting adalah keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk terus melanjutkan.

Dan yang lebih penting, saya percaya bahwa menjadi warga negara yang baik bukan hanya soal memilih saat pemilu, tetapi juga tentang terus peduli terhadap perjalanan bangsa setelah pemilu selesai.

Sebab politik yang sehat bukan hanya lahir dari pemimpin yang baik, tetapi juga dari rakyat yang tidak berhenti berpikir, tidak berhenti peduli, dan tidak berhenti mengingatkan. Menulis adalah salah satu cara untuk menjaga kepedulian itu tetap hidup. Mungkin tidak selalu ramai, mungkin tidak selalu mendapat perhatian, tetapi setidaknya ia menjadi jejak bahwa kita pernah berusaha ikut merawat kehidupan bersama.

Dengan cara itulah kita ikut membangun masyarakat yang lebih berkeadaban, lebih berkemajuan, dan lebih bercahaya. (*)

Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version