Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Tebing Tinggi
Di lingkungan Muhammadiyah, terdapat sebuah ungkapan yang sangat populer dan sarat makna: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Kalimat ini sering dikutip dalam berbagai forum, tetapi tidak jarang pula dipahami secara sederhana, seolah-olah seseorang tidak boleh mendapatkan penghidupan dari amal usaha Muhammadiyah.
Padahal, makna yang sesungguhnya jauh lebih dalam. Ungkapan tersebut bukan larangan untuk bekerja di lingkungan Muhammadiyah, bukan pula penolakan terhadap kesejahteraan yang diperoleh melalui profesi di amal usaha. Sebaliknya, ungkapan itu mengingatkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan tajdid yang harus terus dihidup-hidupi, bukan sekadar tempat mencari nafkah.
Dalam perjalanan panjangnya, Muhammadiyah telah membangun ribuan amal usaha, mulai dari sekolah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagai lembaga sosial dan ekonomi. Amal usaha tersebut bukan hanya menjadi instrumen pelayanan umat, tetapi juga menjadi tempat mencari, menemukan, menempa, mendidik, dan menghidupi kader-kader Muhammadiyah.
Dari amal usaha itulah lahir para guru, dosen, dokter, tenaga kesehatan, peneliti, pegawai administrasi, hingga para pemimpin institusi seperti kepala sekolah, dekan, direktur rumah sakit, dan rektor. Mereka memperoleh ruang untuk mengembangkan profesi sekaligus mendapatkan kehidupan yang layak bagi diri dan keluarganya.
Di banyak amal usaha Muhammadiyah yang telah mapan dan berkembang, para profesional pada umumnya telah memperoleh kehidupan yang cukup baik. Mereka memiliki karier yang jelas, penghasilan yang layak, lingkungan kerja yang sehat, dan kesempatan untuk berkembang. Karena itu, ketika seseorang telah mendapatkan manfaat besar dari amal usaha Muhammadiyah, apalagi menjadikannya sebagai sumber penghidupan utama, maka muncul sebuah tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi kepada persyarikatan.
Kontribusi tersebut tidak selalu harus berbentuk materi atau jabatan organisasi. Salah satu bentuk paling nyata adalah menghadirkan kaderisasi di lingkungan keluarga. Mereka yang memperoleh kehidupan dari amal usaha Muhammadiyah sudah sepatutnya berusaha mengajak keluarganya untuk mengenal, memahami, dan aktif dalam kehidupan Muhammadiyah.
Istri atau suami diperkenalkan kepada gerakan Muhammadiyah dan organisasi otonomnya. Anak-anak dibimbing untuk mengenal nilai-nilai Islam Berkemajuan sejak dini. Mereka didorong untuk mengikuti pengajian, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial, maupun aktivitas kaderisasi yang sesuai dengan usia dan kapasitasnya. Dengan cara itulah kaderisasi berjalan secara alami dan berkelanjutan.
Jangan sampai terjadi sebuah ironi. Seseorang menduduki posisi penting di amal usaha Muhammadiyah, menjadi pengelola, pejabat, atau pimpinan institusi, tetapi pasangan maupun anggota keluarganya justru tidak pernah terlihat dalam pengajian, kegiatan dakwah, ataupun aktivitas Muhammadiyah lainnya. Padahal, keberadaan mereka dalam kegiatan persyarikatan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi undangan atau menghadiri acara seremonial.
Bahkan apabila pasangan atau anggota keluarga tersebut bukan berasal dari lingkungan Muhammadiyah, kehadiran mereka dalam berbagai kegiatan tetap memiliki nilai yang sangat penting. Dari sana akan tumbuh pemahaman, kedekatan emosional, dan minimal sikap positif terhadap Muhammadiyah. Mereka akan melihat secara langsung bahwa Muhammadiyah bukan hanya sebuah organisasi, melainkan gerakan dakwah yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam jangka panjang, kedekatan itu dapat melahirkan rasa memiliki dan kecintaan terhadap Muhammadiyah. Tidak semua orang harus menjadi pengurus atau aktivis, tetapi setidaknya memahami dan mendukung nilai-nilai perjuangan yang dijalankan. Hal ini penting karena keluarga merupakan lingkungan kaderisasi pertama yang paling efektif dan paling berkelanjutan.
Di sinilah letak makna menghidup-hidupi Muhammadiyah yang sesungguhnya. Menghidup-hidupi Muhammadiyah tidak hanya berarti memberikan bantuan dana, menyumbangkan tenaga, atau mengurus organisasi. Menghidup-hidupi Muhammadiyah juga berarti memastikan bahwa manfaat yang diperoleh dari Muhammadiyah kembali menjadi energi yang memperkuat Muhammadiyah itu sendiri.
Tidak mengherankan jika sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah yang telah maju, seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Prof. Dr. HAMKA, dan Universitas Muhammadiyah Malang, memberikan perhatian besar pada pembinaan ideologi dan kaderisasi bagi para pegawai serta keluarganya. Mereka memahami bahwa keberhasilan amal usaha tidak hanya diukur dari kemajuan fisik, jumlah mahasiswa, atau besarnya aset yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan kader-kader yang siap melanjutkan perjuangan Muhammadiyah.
Perlu dipahami bahwa amal usaha Muhammadiyah tidak didirikan semata-mata untuk menciptakan lapangan kerja atau menghasilkan keuntungan institusi. Amal usaha Muhammadiyah hadir untuk menghidup-hidupi Muhammadiyah dan menjamin keberlanjutan gerakan dari generasi ke generasi. Karena itu, keberhasilan sebuah amal usaha tidak hanya diukur dari laporan keuangan yang sehat, bangunan yang megah, atau jumlah pelanggan dan mahasiswa yang terus bertambah. Keberhasilan juga diukur dari kemampuannya melahirkan kader, membina keluarga kader, serta memperkuat basis gerakan Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Jadi tidak boleh, dan tidak pada tempatnya, apabila para pengelola, mereka yang bekerja, terlebih lagi para pejabat di amal usaha Muhammadiyah, bersikap tidak peduli atau tidak memikirkan keberlanjutan Muhammadiyah. Sebab keberadaan amal usaha bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperkuat gerakan dakwah dan kaderisasi. Mereka yang memperoleh kesempatan berkarier, mendapatkan penghidupan, serta meraih berbagai posisi strategis di lingkungan amal usaha Muhammadiyah semestinya memiliki kesadaran yang lebih besar untuk ikut menjaga keberlangsungan persyarikatan. Minimal dengan mendukung kegiatan Muhammadiyah, aktif dalam kehidupan organisasi, serta mengajak keluarga untuk mengenal dan mencintai Muhammadiyah.
Karena sesungguhnya keberhasilan amal usaha dan keberlanjutan Muhammadiyah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Jika amal usaha berkembang tetapi Muhammadiyah melemah, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam proses kaderisasi dan pembinaan yang selama ini berjalan. Sebaliknya, ketika amal usaha berkembang dan pada saat yang sama lahir kader-kader baru yang berkualitas, maka di situlah cita-cita besar Muhammadiyah menemukan wujudnya.
Profesionalisme dan kaderisasi tidak boleh dipisahkan. Amal usaha harus dikelola secara profesional agar mampu bersaing dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Namun profesionalisme tanpa kaderisasi akan membuat amal usaha kehilangan ruh gerakannya. Sebaliknya, kaderisasi tanpa profesionalisme akan membuat amal usaha sulit berkembang dan menghadapi tantangan zaman.
Pada akhirnya, makna menghidup-hidupi Muhammadiyah adalah kesediaan untuk memberi kembali kepada persyarikatan yang telah banyak memberi kepada kita. Jika amal usaha telah membantu membangun kehidupan kita, maka sudah sewajarnya kita ikut membangun masa depan Muhammadiyah. Jika profesi telah memberikan kesejahteraan bagi keluarga, maka keluarga itu pula yang semestinya menjadi bagian dari kekuatan dakwah Muhammadiyah.
Sebab gedung yang megah dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi kader yang militan, berilmu, dan berakhlak membutuhkan proses yang panjang. Amal usaha dapat melahirkan profesional yang hebat, tetapi masa depan Muhammadiyah hanya akan terjaga apabila para profesional itu juga menghadirkan generasi penerus yang memahami, mencintai, dan siap melanjutkan perjuangan Muhammadiyah.
Menghidup-hidupi Muhammadiyah pada akhirnya bukan sekadar soal apa yang kita terima dari Muhammadiyah, melainkan apa yang kita wariskan kembali kepada Muhammadiyah. Dan warisan terbesar itu bukan harta, bukan jabatan, melainkan lahirnya kader-kader baru yang akan menjaga nyala gerakan ini tetap hidup, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan semesta. (*)

