Oleh: M. Risfan Sihaloho
Ada satu kalimat yang hampir selalu hadir dalam setiap perayaan kenegaraan, pidato resmi, seminar kebangsaan, hingga acara seremonial yang penuh atribut dan tepuk tangan.
“Kita adalah bangsa besar!”
Kalimat itu diucapkan dengan nada mantap, kadang disertai kepalan tangan dan sorot mata yang dibuat seolah sedang memanggil semangat para pendiri bangsa dari alam sana.
Para pejabat yang duduk di barisan depan biasanya langsung mengangguk-angguk setuju. Sebagian bertepuk tangan. Sebagian lagi memasang wajah kagum yang tampak terlalu sempurna untuk disebut spontan.
Namun suasana berbeda terjadi di luar gedung.
Di warung kopi, di pasar tradisional, di halte bus, di ruang tunggu rumah sakit, atau di rumah-rumah sederhana yang listriknya kadang masih mati bergilir, kalimat itu tidak selalu disambut dengan kebanggaan.
Yang muncul justru sederet pertanyaan. Bangsa besar yang mana? Bangsa besar dalam arti apa? Besar wilayahnya? Besar jumlah penduduknya? Besar sumber daya alamnya Atau besar masalahnya?
Sebab bagi banyak rakyat, kata “besar” semakin sering terdengar seperti slogan iklan yang diputar berulang-ulang sampai kehilangan makna.
Ketika Kebesaran jadi Komoditas Pidato
Memang benar, Indonesia adalah negara besar dalam banyak ukuran statistik.
Penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Wilayah membentang dari Sabang sampai Merauke. Sumber daya alam melimpah. Posisi geografis strategis. Potensi ekonomi raksasa.
Semua data itu valid. Tidak ada yang salah.
Masalahnya, rakyat tidak hidup dari statistik. Rakyat hidup dari kenyataan.
Seorang ibu yang harus meminjam uang untuk membeli susu anaknya tidak merasa lebih kenyang hanya karena negaranya disebut anggota G20.
Seorang petani yang hasil panennya tidak cukup untuk menutup biaya produksi tidak otomatis bangga karena negerinya disebut calon kekuatan ekonomi dunia.
Seorang lulusan sarjana yang bertahun-tahun menganggur juga tidak serta-merta merasa hidupnya lebih baik hanya karena pejabat mengatakan Indonesia sedang menuju era keemasan 2045.
Kebesaran yang hanya hadir dalam pidato tidak pernah bisa menggantikan kesejahteraan yang seharusnya hadir dalam kehidupan nyata.
Ironi Negeri Kaya Raya
Barangkali tidak ada narasi yang lebih sering diulang selain kalimat: “Indonesia adalah negeri yang kaya raya.”
Kalimat itu sudah begitu sering diucapkan sehingga terdengar seperti mantra nasional.
Ya, kita kaya nikel. Kita kaya emas. Kita kaya batu bara. Kita kaya minyak. Kita kaya gas. Kita kaya laut. Kita kaya hutan.
Pendek kata, kita kaya segalanya.
Anehnya, semakin sering diberitahu bahwa negeri ini kaya, semakin banyak rakyat yang merasa miskin. Kok bisa?
Tentu bukan karena kekayaan itu tidak ada.
Kekayaannya memang ada. Namun yang sering dipertanyakan adalah: siapa yang menikmatinya?
Rakyat berkali-kali diajak bangga menjadi pemilik rumah megah bernama Indonesia, tetapi banyak yang bahkan belum merasakan kenyamanan tinggal di dalamnya.
Mereka seperti pemilik sah sebuah istana yang hanya diizinkan melihat bangunan itu dari pagar luar.
Ironi Bangsa Religius
Indonesia juga sering dipuji sebagai bangsa yang religius. Masjid penuh. Gereja ramai. Pura berdiri kokoh. Vihara berkembang.
Rumah ibadah ada di mana-mana. Doa diperdengarkan setiap hari.
Namun di saat yang sama, berita korupsi terus bermunculan. Dana publik dicuri. Jabatan diperjualbelikan. Hukum dipermainkan. Kepercayaan rakyat dikorbankan demi kepentingan kelompok.
Kita seperti bangsa yang sangat rajin menyebut nama Tuhan, tetapi sering lupa menjalankan nilai-nilai yang diajarkan-Nya.
Ada pejabat yang pidatonya dipenuhi ayat dan moralitas, tetapi kebijakannya justru menyulitkan rakyat.
Ada yang berbicara tentang integritas sambil menghindari transparansi.
Ada yang mengaku membela rakyat sambil sibuk membela kekuasaan yang justru gemar menzalimi rakyat.
Ironisnya, semua itu sering dilakukan tanpa rasa bersalah yang memadai. Seolah-olah dosa bisa dikalahkan oleh pencitraan. Seakan-akan moralitas cukup diwakili oleh slogan.
Kebesaran yang Terjebak dalam Angka
Masalah terbesar bangsa ini mungkin bukan kemiskinan, bukan korupsi, bahkan bukan utang.
Masalah terbesar kita adalah kecanduan pada ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif.
Kita bangga pada angka. Bangga pada ranking. Bangga pada statistik. Bangga pada proyek raksasa. Bangga pada bangunan megah. Bangga pada seremoni yang spektakuler.
Tetapi sering lupa bertanya: Apakah rakyat lebih bahagia? Apakah hidup mereka lebih mudah? Apakah pendidikan semakin berkualitas? Apakah pelayanan kesehatan semakin manusiawi? Apakah hukum semakin adil? Apakah pekerjaan semakin tersedia?
Karena pada akhirnya, kebesaran bangsa tidak diukur dari tinggi gedungnya, melainkan dari kualitas hidup warganya.
Negara yang rakyatnya hidup tenang, aman, sehat, terdidik, dan sejahtera sesungguhnya jauh lebih besar daripada negara yang sibuk membangun monumen kebanggaan tetapi gagal membangun kebahagiaan rakyatnya.
Rakyat Tak Butuh Kebanggaan Instan
Penguasa sering mengira rakyat membutuhkan alasan untuk bangga.
Padahal yang dibutuhkan rakyat bukan kebanggaan instan. Yang dibutuhkan rakyat adalah kehidupan yang layak dan sejahtera.
Rakyat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin harga kebutuhan pokok masuk akal. Lapangan kerja tersedia. Pendidikan terjangkau. Pelayanan publik tidak menyulitkan. Hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Itu saja.
Bila semua itu terwujud, rakyat akan bangga dengan sendirinya. Tanpa perlu disuruh. Tanpa perlu dipaksa. Tanpa perlu diperdengarkan slogan setiap minggu.
Karena kebanggaan sejati lahir dari pengalaman hidup, bukan dari pengeras suara.
Epilog: Stop Membanggakan Diri
Barangkali sudah waktunya bangsa ini berhenti terlalu sering mengatakan bahwa dirinya besar.
Sebab kebesaran yang terus-menerus diumumkan justru menimbulkan kesan bahwa ada sesuatu yang sedang berusaha diyakinkan.
Orang yang benar-benar kaya tidak perlu setiap hari mengumumkan dirinya kaya.
Orang yang benar-benar hebat tidak perlu terus-menerus mengatakan dirinya hebat.
Begitu pula bangsa yang benar-benar besar. Ia tidak membutuhkan slogan yang diulang-ulang. Ia cukup menunjukkan hasil.
Mungkin pertanyaan yang harus kita ajukan bukan lagi, “Apakah kita bangsa besar?” Melainkan: “Apakah rakyat sudah merasakan kebesaran itu dalam kehidupan mereka?”
Jika jawabannya masih membuat banyak orang terdiam, maka mungkin yang selama ini besar bukanlah kemajuan yang kita banggakan. Melainkan jarak antara pidato penguasa dan kenyataan yang dialami rakyat. (✳️)

