Site icon TAJDID.ID

Muhammadiyah: Berpikir Radikal, Bertindak Moderat

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Tebing Tinggi

 

Di tengah kehidupan publik yang semakin ramai oleh slogan, pelabelan, dan polarisasi, ada satu istilah yang sering disalahpahami, yaitu kata radikal. Tidak jarang istilah ini langsung dikaitkan dengan kekerasan, intoleransi, atau sikap ekstrem. Akibatnya, muncul kesan seolah-olah radikal dan moderat merupakan dua hal yang saling bertentangan.

Padahal, perlu diluruskan bahwa radikal dalam berpikir tidak sama dengan radikal dalam tindakan. Secara etimologis, kata radikal berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Karena itu, berpikir radikal berarti berpikir sampai ke akar persoalan, menggali sebab-musabab suatu masalah secara mendalam, tidak berhenti pada gejala yang tampak di permukaan.

Sebaliknya, moderat dalam bertindak adalah kemampuan untuk mengambil langkah yang bijaksana, proporsional, dan berkeadilan setelah memahami persoalan secara utuh. Dengan demikian, berpikir radikal dan bertindak moderat bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi. Semakin seseorang memahami akar persoalan, semakin besar peluangnya untuk bersikap adil, arif, dan tidak mudah terjebak dalam sikap ekstrem.

Karena itu, orang yang benar-benar moderat sering kali adalah mereka yang berpikir secara radikal dalam makna intelektual. Mereka tidak puas dengan jawaban-jawaban sederhana atas persoalan yang kompleks. Mereka berusaha memahami masalah dari berbagai sudut pandang, mencari sebab-sebab yang mendasarinya, lalu mengambil keputusan secara matang. Moderasi yang lahir dari kedalaman berpikir seperti ini bukanlah sikap abu-abu atau kehilangan pendirian, melainkan bentuk kedewasaan dalam menyikapi realitas.

Muhammadiyah adalah salah satu contoh nyata bagaimana berpikir radikal dan bersikap moderat dapat berjalan beriringan. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah dibangun di atas tradisi berpikir yang kritis, mendalam, dan berorientasi pada pemecahan masalah. Ketika melihat kemunduran umat, beliau tidak berhenti pada keluhan atau menyalahkan keadaan. Beliau mencari akar persoalannya.

Ketika melihat pendidikan umat tertinggal, beliau mendirikan sekolah. Ketika melihat pelayanan kesehatan belum memadai, beliau membangun rumah sakit. Ketika melihat kemiskinan dan anak-anak terlantar, beliau menggerakkan pelayanan sosial yang terorganisasi. Semua itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah sejak awal tidak hanya sibuk membahas gejala, tetapi berusaha menyentuh akar masalah dan menghadirkan solusi nyata.

Cara berpikir yang menembus akar persoalan itulah yang kemudian melahirkan sikap moderat Muhammadiyah. Karena memahami persoalan secara utuh, Muhammadiyah tidak mudah terjebak dalam pandangan hitam-putih. Muhammadiyah mampu memadukan kemurnian akidah dengan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, memadukan kesetiaan kepada ajaran Islam dengan komitmen terhadap kebangsaan, serta memadukan idealisme dengan kerja-kerja nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Moderasi Muhammadiyah bukanlah moderasi karena kebingungan atau tidak memiliki prinsip. Sebaliknya, moderasi Muhammadiyah lahir dari keyakinan yang kuat dan pemahaman yang mendalam. Sikap ini membuat Muhammadiyah mampu berdialog dengan berbagai kelompok, bekerja sama dengan berbagai pihak, dan tetap menjaga identitasnya sebagai gerakan Islam yang berkemajuan.

Dalam kehidupan kebangsaan, Muhammadiyah juga menunjukkan bahwa kecintaan kepada agama tidak harus dipertentangkan dengan kecintaan kepada tanah air. Muhammadiyah menerima Indonesia sebagai hasil konsensus nasional yang harus dijaga dan diisi dengan karya-karya terbaik. Sikap ini lahir dari pemikiran yang matang, bukan dari emosi sesaat atau kepentingan jangka pendek.

Tradisi intelektual Muhammadiyah juga mengajarkan bahwa setiap persoalan harus dihadapi dengan ilmu. Karena itu, Muhammadiyah menaruh perhatian besar pada pendidikan, penelitian, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan kerja-kerja kemanusiaan. Ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha lainnya menjadi bukti bahwa perubahan tidak cukup diperjuangkan melalui slogan, melainkan melalui kerja nyata yang berkelanjutan.

Oleh sebab itu, penggunaan istilah radikal dan moderat perlu ditempatkan secara lebih tepat. Radikal dalam berpikir tidak otomatis berarti ekstrem. Bahkan dalam banyak hal, kemampuan berpikir radikal atau sampai ke akar persoalan justru menjadi syarat lahirnya sikap moderat yang matang dan bertanggung jawab. Sementara ekstremisme sering kali lahir dari pemahaman yang dangkal, terburu-buru, dan enggan melihat persoalan secara utuh.

Muhammadiyah telah membuktikan selama lebih dari satu abad bahwa berpikir radikal dan bersikap moderat bukan hanya dapat berjalan seiring, tetapi juga menjadi fondasi penting dari Islam Berkemajuan. Sebuah pandangan yang mendorong umat Islam untuk berpikir mendalam, menguasai ilmu pengetahuan, memahami realitas secara utuh, kemudian menghadirkan solusi yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Di tengah dunia yang semakin kompleks dan sering terjebak dalam polarisasi, pelajaran ini menjadi semakin relevan. Bahwa kedalaman berpikir tidak harus melahirkan kekerasan. Bahwa keteguhan prinsip tidak harus berujung pada permusuhan. Dan bahwa kemajuan sering kali lahir dari keberanian untuk menelusuri akar persoalan, lalu menjawabnya dengan kebijaksanaan dan karya nyata.

Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa berpikir radikal dan bertindak moderat bukanlah dua jalan yang berbeda. Keduanya justru merupakan satu bangunan utuh yang menjadi fondasi Islam Berkemajuan: berpikir sampai ke akar persoalan, lalu menghadirkan kemaslahatan bagi semesta. (✳️)

 

Exit mobile version