Site icon TAJDID.ID

Guru-guru yang Mengajarkan Kami Cara menjadi Manusia

Oleh : Jufri

Ada satu kenangan kecil yang menurut saya sangat berharga dari masa belajar di Muallimin Muhammadiyah Tamiang Ujung Gading. Kenangan itu bukan tentang gedung sekolah, bukan pula tentang fasilitas pendidikan yang serba lengkap. Kenangan itu adalah pelajaran nyata tentang kerja keras dan keikhlasan yang saya dapatkan dari guru-guru kami, di antaranya Pak Abdul Shomad, Pak Abdul Mukti Sihaloho, Pak Anwar Lubis, Pak Ahmad Nampis, Pak Mustafa Lubis, Pak Saripada Lubis, Pak Abdul Muis, dan banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu.

Mereka adalah orang-orang sederhana dengan kehidupan yang juga sederhana. Namun dari kesederhanaan itulah mereka menanamkan karakter yang luar biasa kepada murid-muridnya. Mereka mengajarkan bahwa hidup bukan soal apa yang kita miliki, melainkan apa yang dapat kita berikan.

Ketika mengenang mereka hari ini, saya sering berpikir bahwa pelajaran paling berharga yang kami terima di Muallimin bukanlah pelajaran yang tertulis di papan tulis. Pelajaran yang paling berharga justru kami lihat setiap hari dalam kehidupan para guru itu sendiri. Mereka mengajarkan kerja keras tanpa harus banyak berbicara tentang kerja keras. Mereka mengajarkan keikhlasan tanpa perlu membuat definisi panjang tentang keikhlasan.

Mereka datang mengajar dengan disiplin. Mereka membimbing murid dengan kesabaran. Mereka terlibat dalam kegiatan masyarakat, dakwah, dan persyarikatan. Sebagian dari mereka harus menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Namun saya hampir tidak pernah melihat mereka menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk mengurangi semangat pengabdian.

Dari merekalah kami belajar bahwa hidup yang bermanfaat jauh lebih penting daripada hidup yang sekadar terlihat berhasil.

Saya tidak tahu apakah pandangan saya tentang guru-guru Muallimin itu bersifat subjektif atau objektif. Mungkin karena saya pernah dididik oleh mereka sehingga kenangan itu terasa begitu dekat.

Namun yang jelas, ada satu karakter yang mereka tanamkan kepada kami sejak muda, yaitu lebih mudah membantu orang lain daripada memikirkan kepentingan diri sendiri.

Kami diajarkan untuk peka terhadap kesulitan orang lain. Ketika ada teman yang membutuhkan bantuan, kami diajak untuk membantu. Ketika ada masyarakat yang mengalami kesulitan, kami diajak untuk peduli. Ketika ada pekerjaan bersama, kami diajarkan untuk ikut memikul beban.

Anehnya, ketika giliran diri sendiri yang membutuhkan bantuan, sering muncul rasa sungkan untuk mengatakannya.

Banyak alumni Muallimin yang saya kenal memiliki sifat seperti itu. Mereka mudah mengulurkan tangan kepada orang lain, tetapi sulit mengungkapkan kebutuhannya sendiri. Mereka mudah memberi, tetapi tidak terbiasa meminta. Mereka terbiasa menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi pusat perhatian.

Karena itulah para alumni Muallimin yang saya kenal tidak akan pernah sengaja menyusahkan orang lain, apalagi meminta-minta. Bahkan ketika keadaan memaksa sekalipun, yang keluar sering kali hanya kalimat-kalimat sederhana yang terdengar biasa. Padahal di balik kalimat sederhana itu terkadang tersimpan kesulitan yang cukup besar. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kepekaan dan kedekatan yang mampu menangkap makna sebenarnya.

Mungkin ada yang menganggap sikap seperti itu kurang baik karena membuat seseorang terlalu memendam persoalan. Bisa jadi ada benarnya. Namun saya melihat ada nilai lain yang tumbuh dari pendidikan seperti ini, yaitu menjaga harga diri tanpa kehilangan kepedulian kepada sesama.

Di dalam tradisi Muhammadiyah yang kami kenal, pengabdian bukanlah sesuatu yang harus diumumkan. Kebaikan tidak selalu harus dipublikasikan. Menolong orang lain tidak harus disertai tepuk tangan. Karena itu banyak kader Muhammadiyah yang bekerja dalam senyap. Mereka hadir ketika dibutuhkan, lalu kembali menjalani kehidupan biasa tanpa merasa perlu mendapatkan penghargaan.

Pelajaran semacam ini terasa semakin langka hari ini. Kita hidup pada zaman ketika hampir semua hal mudah dipertontonkan. Kebaikan dipublikasikan, bantuan diumumkan, aktivitas sosial diunggah, dan pencapaian pribadi dipamerkan. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun ada sesuatu yang perlahan mulai hilang, yaitu kemampuan untuk berbuat baik tanpa harus diketahui banyak orang.

Guru-guru kami dahulu mengajarkan hal itu melalui teladan. Mereka tidak meminta murid-muridnya menjadi orang terkenal. Mereka hanya berharap murid-muridnya menjadi manusia yang berguna.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, saya semakin memahami bahwa warisan terbesar para guru itu bukanlah ilmu pengetahuan semata. Warisan terbesar mereka adalah karakter. Karakter untuk bekerja keras meskipun tidak dilihat orang. Karakter untuk tetap membantu meskipun diri sendiri memiliki keterbatasan. Karakter untuk tetap ikhlas meskipun tidak mendapatkan penghargaan.

Barangkali itulah sebabnya ketika saya mengingat Muallimin Muhammadiyah Tamiang Ujung Gading, yang pertama kali muncul dalam ingatan bukanlah bangunan sekolah atau suasana kelas. Yang muncul justru wajah-wajah para guru sederhana yang mengajarkan kami cara menjadi manusia.

Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa pelajaran yang mereka tanamkan puluhan tahun lalu masih hidup hingga hari ini. Namun begitulah pendidikan sejati bekerja. Ia tidak selalu terlihat hasilnya saat itu juga. Ia tumbuh perlahan dalam diri murid-muridnya, lalu muncul kembali bertahun-tahun kemudian sebagai sikap hidup, cara berpikir, dan cara memandang sesama manusia.

Dan bagi kami, guru-guru sederhana itu telah meninggalkan pelajaran yang tidak pernah selesai: bahwa ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa banyak yang kita ambil dari dunia, melainkan seberapa banyak manfaat yang dapat kita tinggalkan untuk orang lain. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

 

Penulis adalah Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi. Alumni Madrasah Muallimin Muhammadiyah Tamiang Ujung Gading, Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Exit mobile version