Di atas lapangan hijau, Achraf Hakimi adalah lambang kecepatan murni. Larinya kencang, tusukannya tajam, dan ketenangannya di lini belakang Paris Saint-Germain maupun tim nasional Maroko kerap membuat penonton berdecak kagum. Namun, jika kita menepis riuh rendah stadion dan gemerlap lampu sorot Eropa, kita akan menemukan kisah seorang anak imigran yang berlari bukan cuma untuk mengejar bola, melainkan untuk mengubah takdir keluarganya.
Berikut adalah potret kehidupan Achraf Hakimi—sebuah perjalanan tentang kecepatan, bakat besar, pengorbanan orang tua, dan sujud syukur yang membekas di hati jutaan pencinta sepak bola.
Getafe, Pengorbanan, dan Sepatu Bola Pertama
Kisah Hakimi tidak dimulai di Rabat atau Casablanca, melainkan di pinggiran kota Madrid bernama Getafe. Lahir pada tahun 1998 dari orang tua yang berimigrasi dari Maroko demi mencari kehidupan yang lebih baik, masa kecil Hakimi jauh dari kata mewah. Ibunya bekerja membersihkan rumah, sementara ayahnya menjadi pedagang kaki lima di jalanan Madrid.
“Kami adalah keluarga miskin yang berjuang untuk bertahan hidup. Ibu dan ayah saya mengorbankan hidup mereka untuk saya. Mereka merenggut kebahagiaan saudara-saudara saya agar saya bisa berhasil,” kenang Hakimi dalam sebuah wawancara jujur.
Melihat bakat lari dan olah bola putranya yang menonjol sejak usia dini, sang ayah membelikan sepatu bola pertamanya meskipun uang di dompet sedang pas-pasan. Pengorbanan itu tidak sia-sia. Pada usia delapan tahun, pencari bakat Real Madrid mencium potensinya. Hakimi resmi masuk ke La Fabrica, akademi legendaris milik El Real.
Setiap hari, sang ibu dengan sabar mengantarnya berlatih, memastikan bahwa peluh yang dikeluarkan suaminya di jalanan Getafe menjelma menjadi masa depan yang cerah bagi sang anak.
Melesat dari Madrid, Matang di Dortmund, Bersinar di Paris
Menembus tim utama Real Madrid yang bertabur bintang tentu bukan perkara mudah. Meski sempat mencicipi trofi Liga Champions bersama Madrid, Hakimi harus merantau untuk menemukan jati dirinya.
Langkah pertamanya adalah menjalani masa peminjaman di Borussia Dortmund. Di Bundesliga Jerman inilah Hakimi bertransformasi dari seorang bek muda berbakat menjadi salah satu bek kanan modern paling mematikan di dunia. Kecepatannya yang mencatatkan rekor di liga membuat Inter Milan kepincut dan memboyongnya ke Italia, di mana ia langsung mempersembahkan gelar Scudetto.
Puncak karier klubnya membawanya ke Paris Saint-Germain (PSG). Di kota mode tersebut, ia tidak hanya menjadi andalan lini belakang, tetapi juga menjalin persahabatan karib yang ikonik dengan megabintang Prancis, Kylian Mbappé.
Romansa Piala Dunia dan Pelukan Ibu
Meski tumbuh besar di Spanyol dan sempat mendapat tawaran untuk membela tim matador, hati Hakimi selalu tertinggal di tanah leluhurnya, Maroko. Keputusan memilih timnas Maroko terbukti menjadi salah satu babak paling indah dalam sejarah sepak bola modern.
Dunia tidak akan pernah lupa pada momen perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar. Maroko menjelma menjadi “Singa Atlas” yang menumbangkan raksasa-raksasa Eropa hingga menembus semifinal—pencapaian tertinggi sepanjang sejarah sepak bola Afrika.
Namun, gambar yang paling ikonik dari turnamen itu bukanlah tendangan penalti ala Panenka milik Hakimi yang menyingkirkan Spanyol. Gambar paling membekas adalah ketika Hakimi berlari ke tribun penonton usai laga, mencari ibunya, Saida Mouh. Ia mengecup kening sang ibu, sementara sang ibu memegang pipinya dengan penuh bangga.
Di panggung terbesar di bumi, Hakimi mengingatkan semua orang bahwa ia masihlah anak laki-laki kecil dari Getafe yang berutang budi pada doa dan keringat ibunya.
Keyakinan sebagai Jangkar Hidup
Di tengah kehidupan Eropa yang serba bebas dan glamor, Hakimi tetap memegang teguh identitasnya sebagai seorang Muslim. Baginya, Islam bukan sekadar identitas di atas kertas, melainkan jangkar yang membuatnya tetap membumi di tengah sanjungan dunia.
Ia kerap merayakan hari raya keagamaan bersama keluarganya secara hangat, dan tak jarang menunjukkan gestur religius di lapangan, seperti bersujud atau menengadahkan tangan sebelum peluit dibunyikan. Nilai-nilai disiplin, menghormati orang tua, dan kesederhanaan yang diajarkan dalam agamanya menjadi tameng utama dalam menghadapi pasang surut kehidupan pribadi, termasuk saat ia harus melewati proses perceraian yang sempat menyita perhatian media global.
Bagi Hakimi, popularitas bisa memudar, kontrak bisa habis, tetapi akar—yaitu keluarga dan keyakinan kepada Sang Pencipta—adalah apa yang membuatnya tetap berdiri tegak sebagai seorang pria tangguh, baik di dalam maupun di luar lapangan hijau.
Tadi malam, Hakimi kembali mengukir sejarah membawa PSG juara UCL back to back mengalahkan Arsenal. Capaian itu makin melambungkan nama Hakimi di pentas sepak bola global sebagai bek kanan terbaik.
Akankah bersama Maroko, Hakimi bisa kembali membuat kejutan di World Cup 2026?. Kita tunggu aksinya. (*)
✍️ M. Risfan Sihaloho

