Oleh: Jufri
Ada kalanya sebuah kalimat sederhana mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sebuah pidato panjang. Kalimat itu tidak disusun untuk menjadi nasihat, tidak pula dimaksudkan sebagai bahan renungan. Namun karena terus berulang, ia perlahan berubah menjadi pengingat tentang sesuatu yang sering dilupakan manusia: waktu.
Setiap hari Sabtu, seorang senior saya, Dekan FISIP UMSU, Dr. Arifin Saleh Siregar , hampir selalu menuliskan kalimat yang kurang lebih sama:
“Hari ini sudah hari Sabtu lagi.
Di mana pun, dengan siapa pun, dalam kegiatan apa pun, tapi hari Sabtu itu tetap hari yang sulit bikin status.
Entah kenapa itu.
Uisdah…”
Tentu saja itu hanya gurauan. Sulit dipercaya seorang akademisi yang setiap hari bergelut dengan gagasan, diskusi, penelitian, dan tulisan tiba-tiba kehilangan inspirasi hanya karena hari Sabtu datang. Namun justru karena kalimat itu terus muncul dari Sabtu ke Sabtu, ia menjadi semacam penanda perjalanan waktu.
Setiap kali membacanya, saya sering berpikir, bukankah rasanya baru kemarin membaca status yang sama?
Ternyata satu minggu sudah berlalu.
Begitulah waktu bekerja. Ia tidak berisik. Ia tidak membuat pengumuman. Ia tidak membunyikan sirene setiap kali umur kita berkurang satu minggu. Ia berjalan diam-diam, tetapi hasil pekerjaannya sangat nyata.
Tahu-tahu anak yang dulu kita antar ke sekolah sudah menjadi mahasiswa.
Tahu-tahu teman yang dulu aktif bermain bola kini lebih sering berbicara tentang kesehatan.
Tahu-tahu rambut mulai memutih.
Tahu-tahu tahun berganti.
Dan tahu-tahu, Sabtu datang lagi.
Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia tentang waktu. Bahkan Allah bersumpah atas nama waktu dalam Surat Al-‘Ashr. Seolah-olah manusia memang memiliki kecenderungan untuk meremehkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Kita sering mengira kehilangan terbesar adalah kehilangan uang, jabatan, atau kesempatan. Padahal yang paling tidak bisa dikembalikan adalah waktu yang telah berlalu.
Uang bisa dicari lagi.
Jabatan bisa diraih kembali.
Rumah bisa dibangun ulang.
Tetapi satu hari yang telah pergi tidak akan pernah kembali.
Ironisnya, manusia baru benar-benar menghargai waktu ketika menyadari bahwa waktu yang tersisa tidak sebanyak yang dibayangkannya.
Karena itu, penanda waktu tidak selalu berupa kalender atau jam dinding. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana. Ada yang menyadarinya dari jadwal pengajian mingguan. Ada yang menyadarinya dari khutbah Jumat. Ada yang menyadarinya dari tagihan bulanan. Dan ada pula yang menyadarinya dari sebuah status Sabtu yang terus berulang.
Di situlah letak keindahan hidup. Allah sering mengirimkan pelajaran melalui jalan-jalan yang tidak kita duga. Sesuatu yang tampak biasa ternyata menyimpan hikmah yang luar biasa.
Kalimat “Hari ini sudah hari Sabtu lagi” sesungguhnya bukan hanya informasi tentang pergantian hari. Ia adalah pengingat bahwa satu pekan kehidupan telah selesai dijalani. Ada yang berhasil memanfaatkan waktunya dengan baik. Ada yang masih menunda-nunda. Ada yang semakin dekat kepada Allah. Ada pula yang masih sibuk mengejar hal-hal yang suatu hari akan ditinggalkannya.
Lalu status itu ditutup dengan satu kata sederhana:
“Uisdah…”
Dalam bahasa sehari-hari, kata itu sering digunakan untuk mengakhiri percakapan dengan santai. Tetapi jika direnungkan lebih jauh, ia terasa seperti ringkasan perjalanan hidup manusia.
Uisdah…
Seminggu berlalu lagi.
Uisdah…
Sebulan berlalu lagi.
Uisdah…
Setahun berlalu lagi.
Bayangkan , dari sabtu ke Sabtu berikutnya begitu banyak peristiwa terjadi . Ada yang lahir, menikah , meninggal, mendapatkan jabatan, kehilangan jabatan . Hadirnya tangis dan tawa , berubahnya posisi . Rambut yang mulai memutih , dan seterusnya.
Dan suatu saat nanti, seluruh perjalanan hidup ini pun akan sampai pada titik akhirnya.
Karena itu, setiap kali Sabtu datang kembali, jangan hanya melihatnya sebagai akhir pekan. Lihatlah ia sebagai pengingat bahwa waktu sedang bergerak dan umur sedang berkurang.
Jika minggu lalu kita belum sempat berbuat banyak kebaikan, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Jika minggu lalu kita terlalu sibuk dengan urusan dunia, masih ada waktu untuk mendekat kepada Allah.
Jika minggu lalu kita belum sempat membahagiakan orang lain, masih ada kesempatan untuk melakukannya.
Sebab selama Sabtu masih datang, berarti Allah masih memberikan waktu.
Dan ketika Sabtu kembali hadir pekan depan, mungkin kita akan tersenyum sambil membaca status yang sama.
“Hari ini sudah hari Sabtu lagi…”
Lalu tanpa sadar berkata dalam hati:
“Uisdah… cepat benar waktu berlalu.”
Terimakasih Bang Arifin Saleh Siregar , kalimat sederhana itu sebenarnya hal paling serius .
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

