Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Musim haji dan Iduladha selalu menghadirkan banyak pelajaran besar tentang ketulusan. Orang memakai pakaian ihram yang sama, menyembelih hewan kurban, berbagi daging, lalu memperbanyak doa dan ibadah. Tetapi di tengah suasana yang sakral itu, ada satu hal yang sering luput disadari: manusia kadang terlalu sibuk mencari pujian manusia, sampai lupa menjaga keikhlasan di hadapan Allah.
Padahal inti dari haji dan kurban bukanlah pertunjukan sosial. Haji bukan panggung status, dan kurban bukan arena pencitraan. Dalam ibadah itu manusia justru sedang dilatih mengecilkan ego, meruntuhkan kesombongan, dan menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah.
Karena itu, puji dan memuji secara berlebihan dalam urusan ibadah sering kali berbahaya. Bukan karena Islam melarang menghargai orang lain, tetapi karena pujian yang berlebihan bisa menggeser orientasi ibadah. Yang tadinya karena Allah, perlahan berubah karena manusia. Yang tadinya ingin mencari ridha Tuhan, berubah menjadi ingin mencari tepuk tangan.
Dalam bahasa anak Medan ada istilah “engkol”, semacam kemampuan memuji dan melambungkan orang lain sampai membuat orang itu seperti terbang meninggalkan dirinya sendiri. Awalnya terdengar biasa saja, bahkan kadang dianggap bagian dari basa-basi sosial atau strategi mendekati kekuasaan. Tetapi ketika budaya “engkol” dipelihara terus-menerus, manusia bisa kehilangan kesadaran dan merasa dirinya memang layak dipuja.
Pujian yang berlebihan kepada manusia inilah yang pada akhirnya menjatuhkan manusia kepada penghambaan terhadap jabatan, ilmu, bahkan gelar kerohanian. Orang tidak lagi sibuk memperbaiki diri, tetapi sibuk mempertahankan citra dirinya. Jabatan diperlakukan seperti kemuliaan abadi. Gelar akademik dianggap ukuran tertinggi kebijaksanaan. Bahkan simbol-simbol agama kadang dijadikan alat untuk meminta penghormatan berlebihan dari manusia lain.
Lebih berbahaya lagi ketika manusia mulai merasa dirinya penting karena ibadahnya. Baru pulang haji lalu merasa lebih suci. Baru berkurban lalu merasa lebih mulia. Di titik itu, ibadah kehilangan ruhnya. Sebab Allah tidak membutuhkan pengakuan manusia atas ibadah kita. Allah bahkan tidak membutuhkan kurban dan darah sembelihan itu sendiri. Yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan.
Sering kali kita juga menyaksikan budaya memuji yang terlalu jauh. Sedikit-sedikit disebut paling dermawan, paling religius, paling peduli umat, paling dekat dengan rakyat, dan seterusnya. Bahkan kadang pujian diberikan bukan karena ketulusan, melainkan karena kepentingan. Ada yang ingin kedekatan kekuasaan, ada yang ingin fasilitas, ada yang ingin pengaruh sosial. Akibatnya, agama perlahan terseret menjadi alat legitimasi manusia.
Dalam banyak keadaan, pujian berlebihan justru dapat “menyakiti” nilai penghambaan kepada Allah. Tentu Allah tidak tersakiti seperti manusia, sebab Allah Mahasempurna. Tetapi ungkapan itu menggambarkan bagaimana manusia sering menghadirkan kesombongan di hadapan Tuhan melalui ibadah dan pujian yang berlebihan kepada sesama manusia.
Haji mengajarkan manusia melepas atribut duniawi. Kurban mengajarkan manusia memotong ego dan kecintaan berlebihan kepada diri sendiri. Maka aneh bila setelah haji dan qurban, justru yang tumbuh adalah kesombongan baru dan budaya pencitraan baru.
Karena itu, mungkin kita perlu kembali belajar tentang diam dan tulus. Tidak semua ibadah harus diumumkan. Tidak semua kebaikan harus dipamerkan. Tidak semua pengorbanan harus diberi panggung besar. Sebab ada titik di mana terlalu banyak pujian justru membuat manusia lupa siapa sebenarnya yang paling layak dipuji.
Dan dalam Islam, pujian tertinggi memang hanya pantas untuk Allah semata. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

