TAJDID.ID~Madiun 🔳 Drs. Suyono M.Pd, menjadi imam sekaligus khatib Sholat Iduladha di Universitas Muhammadiyah Jawa Timur atau UMJT (sebelumnya Universitas Muhammadiyah Madiun), Rabu (27/5).
Dalam khutbah Iduladha yang disampaikannya, Suyono yang menjabat Direktur Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) UMJT ini menerangkan keteladanan Nabi Ibrahim yang hikmah-hikmah didalamnya disebutnya sebagai mata air hikmah yang selalu relevan bagi situasi setiap zaman.
“Salah keteladanan yang bisa diambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim adalah tentang pencarian kebenaran sejati dan keimanan yang tidak goyah. Kisah pencarian kebenaran Nabi Ibrahim tersebut telah dilakukan sejak kecil dengan mempertanyakan keyakinan masyarakatnya yang menyembah berhala, bintang, bulan serta matahari. Hatinya yang suci serta akal sehatnya tak dapat menerima untuk menyembah selain Allah SWT sebagai Maha Pencipta,” ujar Suyono.
Dalam mempertahankan keimanannya, Nabi Ibrahim diberi ujian berkali-kali. Dilempar kedalam api yang menyala-nyala oleh kaumnya akibat menghancurkan berhala yang disembah kaumnya.
“Namun, ia tidak gentar. Imannya kepada Allah begitu kuat, hingga atas pertolongan Allah api itupun menjadi dingin dan menyelamatkan dirinya,” ujar Suyono.
Puncak ujian keimanan Nabi Ibrahim datang saat ia diperintah oleh Allah untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail. Ini adalah perintah yang melampaui logika manusia, namun Nabi Ibrahim tidak ragu, tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah.
Demikian halnya dengan Ismail dengan keimanan yang sama kokohnya menyerahkan diri pada kehendak Allah.
“Inilah salah satu pelajaran paling agung tentang tauhid dan ketundukan total kepada Allah,” terang Suyono.
Kisah ketundukan total Nabi Ibrahim dan Ismail itu dinubuatkan dalam QS. As-Saffat ayat 102.
Allah berfirman: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yangdiperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.(QS. As-Saffat: 102).
Suyono menerangkan ayat ini menggambarkan dialog yang sangat mengharukan, puncak dari keimanan dan ketundukan Nabi Ibrahim maupun Nabi Ismail.
“Keduanya telah mencapai tingkatan iman yang sempurna, iman yang mengalahkan hawa nafsu, cinta dunia, dan naluri kemanusiaan. Mereka yakin bahwa setiap perintah Allah adalah kebaikan, meskipun terasa berat,” terang Suyono.
Disampaikan Suyono, keteladanan iman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini merupakan pelajaran sangat fundamental bagi umat Islam saat ini.
Kehidupan umat Islam saat ini berada ditengah arus globalisasi, materialisme, dan individualisme yang menggerogoti nilai-nilai baik kehidupan.
Maka umat Islam membutuhkan iman yang kokoh seperti Nabi Ibrahim . Iman yang membimbing kita untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kejujuran sekaligus iman yang membebaskan kita dari penyembahan terhadap materi, jabatan, atau popularitas semu.
“Iman yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran dan tujuan hidup. Dengan iman yang kuat, umat Islam akan memiliki fondasi moral yang tak tergoyahkan dalam menghadapi berbagai tantangan,” jelas Suyono. (PJ)

