Site icon TAJDID.ID

Kurban dan Kesalehan Sosial

Oleh: Farid Wajdi

Setiap Iduladha datang, suasana negeri berubah. Takbir menggema dari pengeras suara masjid, jalan-jalan kampung mulai ramai oleh warga yang membawa pisau, tali tambang, dan daun pisang, sementara anak-anak berlarian mengelilingi sapi-sapi besar yang terikat di halaman musala. Ada aroma khas yang selalu hadir: campuran tanah basah, rumput hijau, dan harapan sederhana masyarakat kecil yang menunggu pembagian daging kurban.

Namun Iduladha sesungguhnya bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan. Di balik darah yang mengalir dan takbir yang berkumandang, terdapat pesan sosial yang sangat kuat: agama tidak boleh berhenti di langit spiritualitas, melainkan harus turun menyentuh kehidupan manusia.
Kurban merupakan salah satu ibadah paling sosial dalam Islam. Salat dapat dilakukan sendiri. Zikir dapat dilakukan dalam kesunyian. Puasa sering menjadi pergulatan personal antara manusia dan Tuhan.

Akan tetapi, kurban hampir mustahil dilepaskan dari dimensi sosial. Ada orang yang memberi, ada yang menerima, ada kerja kolektif, ada solidaritas, ada perjumpaan sosial yang menghapus sekat kelas ekonomi untuk sesaat.

Karena itu, Iduladha selalu menghadirkan pemandangan menarik. Rumah orang kaya dan rumah masyarakat miskin sama-sama dipenuhi aroma daging. Anak-anak kecil yang selama berbulan-bulan mungkin hanya melihat daging dari etalase pasar, hari itu dapat menikmatinya di meja makan sendiri.

Di banyak daerah, Iduladha bahkan menjadi satu-satunya momentum keluarga miskin menikmati makanan bergizi dalam jumlah cukup.

Makna kemanusiaan kurban tampak sangat nyata dalam pengalaman sosial semacam itu. Agama hadir bukan sekadar sebagai ajaran spiritual, tetapi juga kekuatan moral yang menjaga martabat masyarakat kecil.

Al-Qur’an memberi penegasan sangat mendalam mengenai esensi kurban. QS. Al-Hajj (22): 37 menyatakan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamu yang dapat mencapai-Nya.” Ayat tersebut menempatkan kurban bukan sebagai ritual fisik semata, melainkan latihan moral untuk membangun ketakwaan sosial.

 

Dampak bagi Kehidupan Sosial

Ketakwaan dalam konteks kurban tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan ritual. Terdapat dimensi etis yang jauh lebih besar: kemampuan manusia mengalahkan egoisme, kesediaan berbagi, dan keberanian menempatkan kepentingan sosial di atas kepentingan pribadi.

Dalam dunia modern yang sangat materialistik, pesan tersebut terasa semakin relevan. Kehidupan hari ini bergerak dalam logika kompetisi tanpa henti. Ukuran kesuksesan sering ditentukan oleh jumlah kekayaan, kepemilikan aset, kendaraan mewah, atau kemampuan konsumsi. Manusia berlomba mengumpulkan sebanyak mungkin, lalu menikmati hasilnya sendiri. Solidaritas sosial perlahan melemah karena masyarakat didorong menjadi semakin individualistis. Kurban justru hadir sebagai kritik terhadap budaya semacam itu.

Islam mengajarkan satu prinsip penting: harta tidak boleh berhenti pada pemilik modal. Kekayaan harus memiliki fungsi sosial. Seekor sapi yang dibeli dengan uang hasil kerja keras kemudian dibagikan kepada banyak orang merupakan simbol penghancuran kerakusan manusia. Kurban mendidik umat agar tidak terjebak menjadi tawanan materi.

Pemikir Muslim Yusuf al-Qaradawi (1995) menyebut seluruh ibadah dalam Islam selalu memiliki dimensi sosial yang kuat. Zakat menjaga distribusi kekayaan, puasa melatih empati terhadap rasa lapar, sedangkan kurban membangun solidaritas sosial melalui pengorbanan materi. Karena itu, kualitas ibadah tidak cukup diukur dari kesalehan individual, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan sosial.

Persoalan muncul ketika kurban mulai bergeser menjadi simbol prestise. Fenomena tersebut semakin tampak di era media sosial. Banyak orang berlomba memamerkan jumlah hewan kurban, ukuran sapi, hingga harga fantastis yang dibayar. Dokumentasi digital kadang lebih sibuk dipersiapkan dibanding makna spiritual yang hendak dihayati. Kesalehan berubah menjadi tontonan publik.

Padahal, inti kurban justru terletak pada keikhlasan melepaskan sesuatu yang dicintai. Kisah Nabi Ibrahim memberikan pelajaran mendalam mengenai makna pengorbanan. Perintah menyembelih Ismail bukan sekadar ujian kepatuhan ritual. Terdapat proses penghancuran ego dan keterikatan duniawi yang sangat personal. Ibrahim diminta membuktikan satu hal penting: cinta kepada Tuhan harus melampaui kecintaan terhadap apa pun.

Pesan simboliknya tetap relevan hingga sekarang. “Ismail” manusia modern tidak selalu berbentuk anak atau keluarga. Ada yang bernama ambisi kekuasaan, kerakusan bisnis, hasrat menumpuk kekayaan, atau gaya hidup konsumtif yang tidak pernah merasa cukup.

Banyak orang rela mengorbankan kejujuran demi keuntungan ekonomi. Banyak elite politik mempertahankan jabatan sambil mengabaikan penderitaan rakyat. Banyak korporasi merusak lingkungan demi pertumbuhan laba.

 

Momentum Refleksi Sosial

Dalam konteks tersebut, kurban seharusnya menjadi momentum refleksi sosial: apa sebenarnya yang selama ini terlalu dicintai manusia hingga melupakan kepentingan bersama?

Nurcholish Madjid (1997) pernah mengingatkan pentingnya menghadirkan kesalehan sosial sebagai inti keberagamaan. Agama tidak boleh berhenti pada simbol formal dan ritual seremonial. Ukuran religiositas paling nyata justru tampak dari kepedulian terhadap keadilan, pembelaan terhadap kelompok lemah, dan komitmen menjaga martabat kemanusiaan.

Karena itu, seseorang sulit disebut saleh secara sosial apabila rajin berkurban setiap tahun tetapi masih menindas pekerja, melakukan korupsi, merampas hak masyarakat kecil, atau membiarkan lingkungan rusak demi kepentingan bisnis. Kesalehan ritual tanpa tanggung jawab sosial hanya menghasilkan keberagamaan yang dangkal.

Al-Qur’an bahkan memberi kritik keras terhadap model religiositas semacam itu. QS. Al-Ma’un (107): 1-3 menyebut pendusta agama sebagai orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan masyarakat miskin. Ayat tersebut menarik karena ukuran keberagamaan tidak berhenti pada ibadah formal, melainkan pada sensitivitas sosial.

Di Indonesia, pesan Iduladha terasa sangat penting di tengah ketimpangan ekonomi yang masih lebar. Pertumbuhan kota-kota besar berjalan cepat, pusat perbelanjaan terus bertambah, apartemen mewah menjulang tinggi, tetapi sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Banyak keluarga hidup dalam kerentanan ekonomi, sementara biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal.

Dalam situasi seperti itu, kurban bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga pengingat moral bagi bangsa. Kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan tertentu. Kemajuan ekonomi harus menghadirkan keadilan sosial.

Sosiolog Émile Durkheim (1912) menjelaskan ritual keagamaan sebagai sarana memperkuat solidaritas kolektif masyarakat. Penjelasan tersebut tampak sangat nyata dalam tradisi Iduladha di Indonesia. Warga bergotong royong menyembelih hewan, membungkus daging bersama, lalu mendistribusikannya ke rumah-rumah warga tanpa melihat status sosial dan afiliasi politik. Untuk sesaat, sekat ekonomi mencair dalam suasana kebersamaan.

Semangat semacam itu sesungguhnya sangat dibutuhkan bangsa hari ini. Dunia modern bergerak semakin keras, kompetitif, dan individualistik. Relasi sosial sering berubah menjadi relasi transaksional. Nilai kemanusiaan perlahan terkikis oleh logika pasar. Orang dihargai berdasarkan kekayaan, bukan integritas moral.

Kurban datang membawa pesan berbeda. Kebahagiaan tidak selalu lahir dari menumpuk kepemilikan, melainkan juga dari kemampuan memberi. Dalam berbagi, manusia menemukan sisi paling luhur dari kemanusiaannya. Karena itu, semangat Iduladha semestinya tidak berhenti sehari setelah salat Id selesai. Kurban harus hidup sebagai etika sosial sepanjang tahun.

Pengorbanan dapat hadir dalam banyak bentuk: membantu pendidikan anak miskin, memperjuangkan layanan kesehatan yang adil, membangun usaha yang manusiawi, atau membela kelompok rentan yang tertindas.

Fazlur Rahman (1982) menegaskan Islam sebagai agama etika sosial yang menuntut transformasi moral dalam kehidupan publik. Perspektif tersebut memperlihatkan satu hal penting: ibadah ritual seharusnya melahirkan keberanian moral untuk menghadirkan keadilan dalam kehidupan nyata.
Makna terdalam kurban tidak terletak pada sapi yang disembelih, melainkan egoisme yang dipotong dari dalam diri manusia. Bukan darah yang menjadi inti pengorbanan, tetapi lahirnya solidaritas sosial dalam kehidupan bersama. Bangsa yang mampu menjaga solidaritas semacam itu merupakan bangsa yang belum kehilangan nurani kemanusiaannya. (*)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Exit mobile version